AKHLAQ SEBAGAI INTI AJARAN ISLAM
AKHLAQ
SEBAGAI INTI AJARAN ISLAM
Makalah
Disusun Guna
Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Akhlaq/Tasawuf
Dosen Pengampu
: Dr. Musthofa, M. Ag.
Nita Fitriani
Romdonah
Bryan Adam Pratama
|
:
:
:
|
123911077
1403036073
1403036076
|
FAKULTAS ILMU
TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015
I.
PENDAHULUAN
Sebelum
membicarakan metode peningkatan akhlaq, Al-Ghazali di dalam Ihya’ ‘Ulumuddin, lebih dahulu
menegaskan kembali pandangannya bahwa perubahan alam peningkatan akhlaq itu
adalah mungkin, sepajang ia melalui usaha dan latihan moral yang sesui.
Menurut
al-Ghazali, fungsi agama yang utama yaitu membimbing manusia memperindah
akhlaq, dan ini berarti, jika akhlaq tidak bisa diubah maka semua perintah,
teguran, anjuran dan ancaman agama akan tidak berguna.
Al-Ghazali
menyebutkan ada beberapa cara untuk mendapatkan akhlaq baik, di antaranya
yaitu:
1.
Kerahmanan
Ilahi, yakni sebagai berikut: beberapa orang memiliki akhlaq baik secara
alamiah, sebagai sesuatu yang diberikan Allah kepada mereka sewaktu dilahirkan.
Mereka diciptakan dengan semua pembawaan jiwa mereka dalam keadaan seimbang,
dan pembawaan nafsu dan amarah mematuhi perintah akal dan Syari’ah, sehingga
mereka adalah baik secara alamiah.
2.
Menahan
diri (mujahadah) dan melatih diri (riyadhah) yaitu: bersusah payah melakukan
amal perbuatan yang bersumberkan akhlaq yang baik, sehingga menjadi kebiasaan
dan sesuatu yang menyenangkan.
3.
Bergaul
dengan orang lain yakni: jika seseorang menyadari ada budipekerti buruk pada
dirinya, ia harus secepatnya berusaha menghilangkan hal itu ia harus mencari
bantuan seorang penuntun spiritual.[1]
II.
RUMUSAN MASALAH
1.
Apa pengertian
akhlaq?
a.
Bagaimana
prinsip dasar dan ruang lingkup akhlaq dalam Islam?
2.
Apa
ciri-ciri akhlaq Islam?
3.
Mengapa
akhlaq sebagai karakter pendidikan Islam?
4.
Apa
aspek pendidikan akhlaq sebagai salah satu fondasi dasar pendidikan menurut
Syaikh Saltut?
III.
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Akhlaq dan Pendidikan Islam
Akhlaq berasal dari bahasa Arab, jama’ dari “Khuluqun” yang berarti
budi pekerti, perangai, tingkah laku dan tabiat. Kalimat tersebut mengandung
segi-segi persesuaian dengan perkataan “Khalqun” yang berarti: Pencipta, dan
“Makhluq” yang berarti: yang diciptakan.
Perumusan pengertian akhlaq timbul sebagai media memungkinkan
adanya hubungan baik antara Khaliq dengan makhluk dan makhluk dengan khaliq.[2]
Ada beberapa definisi yang
dikemukakan oleh pakar dengan redaksi yang sedikit berbeda akan tetapi memiliki
maksud yang hampir sama, atau bahkan sama.
1.
Ibn Miskawaih
“keadaan
jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa
melalui pertimbangan pikiran (terlebih dahulu).”
2.
Imam Ghazali
“akhlaq
adalah sesuatu yang tertanam dalam jiwa yang dari padanya timbul
perbuatan-perbuatan dengan mudah dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran
(terlebih dahulu).”
3.
Prof. Dr. Ahmad Amin
“Akhlaq
ialah suatu ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa
yang seharusnya dilakukan oleh setengah manusia kepada lainnya menyatakan
tujuan yang harus dituju oleh manusia dalam perbuatan mereka dan menunjukkan
jalan untuk melakukan apa yang harus diperbuat.”[3]
Dari
beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa akhlaq adalah kehendak dan
tindakan yang sudah menyatu dengan pribadi seseorag dalam kehidupannya sehingga
sulit untuk dipisahkan. Oleh karena itu tidak salah apabila akhlaq sering
diterjemahkan dengan kepribadian lantaran kehendak dan tindakan itu sudah
menjadi bagian dari pribadinya.
Dan
dari beberapa definisi diatas akhlaq mengandung empat unsur yaitu adanya
tindakan baik atau buruk, adanya kemampuan melaksanakan, adanya pengetahuan
tentang perbuatan yang baik dan yang buruk, dan adanya kecenderungan jiwa
terhadap salah satu perbuatan yang baik atau yang buruk.[4]
B.
Prinsip Dasar dan Ruang Lingkup Akhlaq dalam Islam
Islam
adalah agama tauhid yang sangat mementingkan akhlaq dari pada masalah-masalah
atau dimensi yang lain, sebab misi Nabi Muhammad diutus untuk menyempurnakan
akhlaq, akhlaq disini seperti yang diungkapkan oleh Ahmad Siddiq adalah bagian
dari totalitas ajaran Islam. Totalitas meliputi akidah, syariah dan figh.
Akhlaq Islam merupakan sistem akhlaq yang berdasarkan pada kepercayaan kepada
Allah, tentunya sesuai dengan dasar dari agama itu sendiri. Dasar atau sumber
pokok dari akhlaq adalah Al-Qur’an dan Al-Hadits. Akhlaq menurut pengertian
Islam adalah salah satu hasil dari iman dan ibadah, karena iman dan ibadah
manusia tidak sempurna kecuali dari munculnya akhlaq yang mulia. Maka akhlaq
dalam Islam bersumber pada iman dan
taqwa, dan mempunyai tujuan langsung yang dekat, yaitu harga diri, dan tujuan
jauh, yaitu ridha Allah.
Menurut Zakariyah Drajat,
pendidikan akhlaq dapat dilakukan dengan cara:
1. Menumbuh
kembangkan dorongan dari dalam, yang bersumber pada iman dan taqwa
2. Meningkatkan
pengetahuan tentang akhlaq Al-Qur’an lewat ilmu pengetahuan, pengalaman, dan
latihan agar dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk
3. Latihan
untuk melakukan yang baik, serta mengajak orang lain untuk bersama-sama
melakukan perubahan baik tanpa paksaan
4. Pembiasaan
dan pengulangan melaksanakan yang baik, sehingga perbuatan baik itu menjadi
keharusan moral dan perbuatan akhlaq terpuji, kebiasaan yang mendalam, tumbuh
dan berkembang secara wajar dalam diri manusia.
Adapun
tujuan dari pendidikan akhlaq ini adalah untuk membantu manusia yang bermoral
baik, keras kemauan, sopan dalam bicara dan perbuatan, mulai dalam bertingkah
laku, bersifat bijaksana, sempurna, sopan dan beradab, ikhlas, jujur, dan suci.
Dengan kata lain pendidikan aklaq bertujuan untuk melahirkan manusia yang
memiliki keutamaan. Dari aspek ini ruang lingkup akhlaq islam meliputi:
1. Aklaq
terhadap diri sendiri
2. Aklaq
dalam keluarga
3. Akhlaq
dalam masyarakat
4. Akhlaq
dalam bernegara
5. Akhlaq
dalam agama[5]
C.
Ciri-ciri Akhlaq Islam
Ciri-ciri akhlaq Islam meliputi:
Akhlaq
sebagai salah satu aspek penting dalam Islam memiliki ciri-ciri penting sebagai
berikut:
a.
Mengajarkan
dan menuntun manusia kepada tingkah laku yang baik dan menjauhkan diri dari
tingkah laku yang buruk
b.
Menjadi
sumber moral, ukuran baik dan buruknya perbuatan seserorang yang didasarkan
kepada Al-Qur’an dan Hadis yang sahih
Bersifat universal dan komprehensif,
dapat diterima dan dijadikan pedoman oleh selurruh umat manusia kapan pun dan
dimana pun mereka berada, serta dalam keadaan apa pun dan bagaimana pun.[6]
D.
Akhlak Sebagai Karakter Pendidikan Islam
Ada yang berpendapat bahwa pendidikan
akhlakdalam Islam dapat dimaknai sebagai latihan mental dan fisik. Latihan
tersebut dapat menghasilkan manusia yang
berbudaya tinggi untuk melaksanakan tugas kewajiban dan juga rasa
tanggung jawab selaku hamba Allah. Latihan-latihan ini bisa bersifat formal
yang terstruktur dalam lembaga-lembaga pendidikan, maupun nonformal yang
diperoleh dari hassil interaksi manusia terhadap lingkungan sekitar. Atau
dengan kata lain, pendidikan akhlak dalam Islam dapat menjadi sarana untuk
membentuk karakter individu Muslim yang berakhlakul karimah. Individu yang
berkarakter maampu melaksanakan kewajiban-kewajibannya dan menjauhi segala
laraangan-larangan. Individu ini juga mampu memberikan hak kepada Allah dan
Rasul-Nya, sesama manusia, makhluk lain, serta alam sekitar dengan
sebaik-baiknya.
Akhlak merupakan fondasi dasar
sebuah karakter diri. Sehingga pribadi yang berakhlak baik nantinya aakan
menjadi bagian dari masyarakat yang baik pula. Akhlak dalam Islam juga memiliki
nilai yang mutlak karena persepsi antara akhlak baik dan buruk memiliki nilai
yang dapat diterapkan pada kondisi apapun. Tentu saja, hal ini sesuai dengan
fitrah manusia yang menempatkan akhlak sebagai pemelihara eeksistensi manusia
sebagai makhluk yang paling mulia. Akhlaklah yang membedakan karakter manusia
dengan makhluk lainnya. Tanpa akhlak, manusia akan kehilangan derajat sebagai
hamba Allah yang paling terhormat. Sebagai firman-Nya,
QS At-Tin ayat 4-6
ôs)s9 $uZø)n=y{ z`»|¡SM}$# þÎû Ç`|¡ômr& 5OÈqø)s? ÇÍÈ ¢OèO çm»tR÷yu @xÿór& tû,Î#Ïÿ»y ÇÎÈ wÎ) tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=ÏHxåur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# óOßgn=sù íô_r& çöxî 5bqãYøÿxE ÇÏÈ
4. Sesungguhnya Kami telah menciptakan
manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .
5. kemudian Kami kembalikan Dia ke tempat yang serendah-rendahnya
(neraka),
6. kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala
yang tiada putus-putusnya.
Pembinaan akhlaq bagian dari
integral dan tak terpisah dalam dunia pendidikan. Karena tujuan pendidikan
dalam Islam adalah menciptakan manusia yang beriman dan bertakwa melalui
pengetahuan, keterampilan, dan berperlaku sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Tujuan ini dapat diperoleh melalui
proses pendidikan Islam sebagai cerminan karakter seorang muslim. Keberadaan
pembinaan akhlaq ini ditujukan untuk mengarahkan potensi-potensi baik yang ada
pada diri setiap manusia agar selaras dengan fitrahnya. Selain itu, juga untuk
meminimalkan aspek-aspek buruknya.
Para tokoh pendidikan abad-abad
lampau juga menekankan pentingnya pendidikan akhlak sebagai salah satu landasan
dasar dari sebuah proses pembentukan
karakter dalam pendidikan. Ibnu Taimiyah dan Ghozali misalnya, meskipun hanya
mengklasifikasikan pendidikan menjadi dua golongan besar, yaitu pendidikan
rohani (tauhid) dan pendidikan jasmani.
E.
Aspek Pendidikan Akhlak Sebagai Salah Satu Fondasi Dasar Pendidikan
Menurut
Syaikh Saltut, Al-Qur’an menempatkan pendidikan akhlaq sebagai salah satu
fondasi dasar pendidikan. Menurutnya, ada tiga aspek besar yang dijelaskan
dalam Al-Qur’an, yaitu:
a.
Aspek
Tauhid atau akidah, yaitu berhubungan dengan upaya pembersihan diri dari bahaya
syirik dan keberhalaan, serta pendidikan jiwa terkait rukun iman
b.
Aspek
akhlaq, yaitu yang berhubungan dengan upaya pendidikan diri atau jiwa agar
menjadi insan mulia, dan mampu membangun hubungan baik antarsesama manusia dan
makhluk Allah lainnya. Implikasi positifnya adalah jujur, sabar, amanah, lemah
lembut, penyayang dan lainnya
c.
Aspek
hukum, yaitu tataran peraturan yang ditentukan berdasarkan diktum dan pasal
tertentu dalam Al-Qur’an yang mesti diikuti. Pasal yang dimaksud adalah ayat
tertentu yang mengatur hubungan makhluk dengan Sang Khaalik, seperti hukum-hukum
ibadah mahdah (shalat, puasa, zakat, haji), pasal-pasal yang mengatur hubungan
antarsesama manusia (menikah, keluarga, waris, dll), pasal-pasal yang mengatur
muamalah (perniagaan, utang-piutang, keuangan dll), pasal-pasal jinayat
(pidana), bahkan termasuk juga hukum peperangan, perdamaian dan perjanjian.[7]
IV.
PENUTUP
a.
Kesimpulan
Akhlaq berasal dari bahasa Arab, jama’ dari “Khuluqun” yang berarti
budi pekerti, perangai, tingkah laku dan tabiat. Kalimat tersebut mengandung
segi-segi persesuaian dengan perkataan “Khalqun” yang berarti: Pencipta, dan
“Makhluq” yang berarti: yang diciptakan.
Sedangkan menurut para ahli adalah
1.
Ibn Miskawaih
“keadaan
jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa
melalui pertimbangan pikiran (terlebih dahulu).”
2.
Imam Ghazali
“akhlaq
adalah sesuatu yang tertanam dalam jiwa yang dari padanya timbul
perbuatan-perbuatan dengan mudah dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran
(terlebih dahulu).”
3.
Prof. Dr. Ahmad Amin
“Akhlaq ialah suatu ilmu yang menjelaskan
arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh setengah
manusia kepada lainnya menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia dalam
perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang harus
diperbuat.
b.
Kata Penutup
Demikianlah makalah ini kami buat,
semoga bermanfaat kepada pembaca dan dapat memberikan pemahaman kepada
pemakalah.
Apabila ada kesalahan atau kekurangan dalam hal penulisan makalah
ini, kritik serta saran yang membangun sangat kami butuhkan dari anda. Dari
kami, selaku pemakalah meminta maaf yang sebesar-besarnya dan atas perhatian
saudara kami ucapkan terimakasih.
DAFTAR
PUSTAKA
Ya’qub Hamzah, Etika Islam, Bandung: CV. Diponegoro, 1993
Quasem Abul, Etika Al-Ghazali
Nasirudin, Pendidikan Tasawuf, Semarang: RaSAIL Media
Group, 2010
Khozin,
Khasanah Pendidikan Islam,
Mahfud
Rois, Al-Islam Pendidikan Agama Islam, Jakarta:Erlangga, 2011
Syafri
Ulil Amri, Pendidikan Karakter Berbasis Al-Qur’an, Jakarta:Rajawali
Pers, 2012
https://taufikrahmatullah.wordpress.com/2013/05/13/definisi-tujuan-dan-dasar-dasar-akhlak/, diakses tanggal 11 Maret 2015
[1] M. Abul
Quasem, Etika Al-Ghazali, (Bandung:Pustaka, 1988), hal: 91-96
[2] Hamzah Ya’qub,
Etika Islam, (Bandung: CV. Diponegoro, 1993), hlm. 11-12
[3] https://taufikrahmatullah.wordpress.com/2013/05/13/definisi-tujuan-dan-dasar-dasar-akhlak/, diakses
tanggal 11 Maret 2015
[4] Nasirudin, Pendidikan Tasawuf, (Semarang:RaSAIL
Media Group, 2010), hlm.32-33
[5] Khozin, Khasanah
Pendidikan Islam, (Bandung: PT remaja Rosdakarya, 2013), hlm.140-144
[6] Rois Mahfud, Al-Islam
Pendidikan Agama Islam, (Jakarta:Erlangga,
2011), hlm. 98
[7]
Ulil Amri
Syafri, Pendidikan Karakter Berbasis Al-Qur’an, (Jakarta:Rajawali
Pers, 2012), hlm.67-71.


Heheh..mantbs
BalasHapusterimakasih...
Hapus