AKHLAQ SEBAGAI INTI AJARAN ISLAM

Sabtu, 19 Desember 2015

AKHLAQ SEBAGAI INTI AJARAN ISLAM




AKHLAQ SEBAGAI INTI AJARAN ISLAM
Makalah
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Akhlaq/Tasawuf
Dosen Pengampu : Dr. Musthofa, M. Ag.





Nita Fitriani
Romdonah
Bryan Adam Pratama
:
:
:
123911077
1403036073
1403036076



FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
201


I.         PENDAHULUAN
Sebelum membicarakan metode peningkatan akhlaq, Al-Ghazali di dalam Ihya’ ‘Ulumuddin, lebih dahulu menegaskan kembali pandangannya bahwa perubahan alam peningkatan akhlaq itu adalah mungkin, sepajang ia melalui usaha dan latihan moral yang sesui.
Menurut al-Ghazali, fungsi agama yang utama yaitu membimbing manusia memperindah akhlaq, dan ini berarti, jika akhlaq tidak bisa diubah maka semua perintah, teguran, anjuran dan ancaman agama akan tidak berguna.
Al-Ghazali menyebutkan ada beberapa cara untuk mendapatkan akhlaq baik, di antaranya yaitu:
1.    Kerahmanan Ilahi, yakni sebagai berikut: beberapa orang memiliki akhlaq baik secara alamiah, sebagai sesuatu yang diberikan Allah kepada mereka sewaktu dilahirkan. Mereka diciptakan dengan semua pembawaan jiwa mereka dalam keadaan seimbang, dan pembawaan nafsu dan amarah mematuhi perintah akal dan Syari’ah, sehingga mereka adalah baik secara alamiah.
2.    Menahan diri (mujahadah) dan melatih diri (riyadhah) yaitu: bersusah payah melakukan amal perbuatan yang bersumberkan akhlaq yang baik, sehingga menjadi kebiasaan dan sesuatu yang menyenangkan.
3.    Bergaul dengan orang lain yakni: jika seseorang menyadari ada budipekerti buruk pada dirinya, ia harus secepatnya berusaha menghilangkan hal itu ia harus mencari bantuan seorang penuntun spiritual.[1]
II.      RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian akhlaq?
a.       Bagaimana prinsip dasar dan ruang lingkup akhlaq dalam Islam?
2.      Apa ciri-ciri akhlaq Islam?
3.      Mengapa akhlaq sebagai karakter pendidikan Islam?
4.      Apa aspek pendidikan akhlaq sebagai salah satu fondasi dasar pendidikan menurut
Syaikh Saltut?
III.   PEMBAHASAN
A.    Pengertian Akhlaq dan Pendidikan Islam
Akhlaq berasal dari bahasa Arab, jama’ dari “Khuluqun” yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku dan tabiat. Kalimat tersebut mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan “Khalqun” yang berarti: Pencipta, dan “Makhluq” yang berarti: yang diciptakan.
Perumusan pengertian akhlaq timbul sebagai media memungkinkan adanya hubungan baik antara Khaliq dengan makhluk dan makhluk dengan khaliq.[2]
Ada beberapa definisi yang dikemukakan oleh pakar dengan redaksi yang sedikit berbeda akan tetapi memiliki maksud yang hampir sama, atau bahkan sama.
1.        Ibn Miskawaih
“keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan pikiran (terlebih dahulu).”
2.        Imam Ghazali
“akhlaq adalah sesuatu yang tertanam dalam jiwa yang dari padanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran (terlebih dahulu).”
3.        Prof. Dr. Ahmad Amin
“Akhlaq  ialah suatu ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh setengah manusia kepada lainnya menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang harus diperbuat.”[3]
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa akhlaq adalah kehendak dan tindakan yang sudah menyatu dengan pribadi seseorag dalam kehidupannya sehingga sulit untuk dipisahkan. Oleh karena itu tidak salah apabila akhlaq sering diterjemahkan dengan kepribadian lantaran kehendak dan tindakan itu sudah menjadi bagian dari pribadinya.
Dan dari beberapa definisi diatas akhlaq mengandung empat unsur yaitu adanya tindakan baik atau buruk, adanya kemampuan melaksanakan, adanya pengetahuan tentang perbuatan yang baik dan yang buruk, dan adanya kecenderungan jiwa terhadap salah satu perbuatan yang baik atau yang buruk.[4]


B.     Prinsip Dasar dan Ruang Lingkup Akhlaq dalam Islam
            Islam adalah agama tauhid yang sangat mementingkan akhlaq dari pada masalah-masalah atau dimensi yang lain, sebab misi Nabi Muhammad diutus untuk menyempurnakan akhlaq, akhlaq disini seperti yang diungkapkan oleh Ahmad Siddiq adalah bagian dari totalitas ajaran Islam. Totalitas meliputi akidah, syariah dan figh. Akhlaq Islam merupakan sistem akhlaq yang berdasarkan pada kepercayaan kepada Allah, tentunya sesuai dengan dasar dari agama itu sendiri. Dasar atau sumber pokok dari akhlaq adalah Al-Qur’an dan Al-Hadits. Akhlaq menurut pengertian Islam adalah salah satu hasil dari iman dan ibadah, karena iman dan ibadah manusia tidak sempurna kecuali dari munculnya akhlaq yang mulia. Maka akhlaq dalam Islam bersumber pada  iman dan taqwa, dan mempunyai tujuan langsung yang dekat, yaitu harga diri, dan tujuan jauh, yaitu ridha Allah.
Menurut Zakariyah Drajat, pendidikan akhlaq dapat dilakukan dengan cara:             
1.      Menumbuh kembangkan dorongan dari dalam, yang bersumber pada iman dan taqwa
2.      Meningkatkan pengetahuan tentang akhlaq Al-Qur’an lewat ilmu pengetahuan, pengalaman, dan latihan agar dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk
3.      Latihan untuk melakukan yang baik, serta mengajak orang lain untuk bersama-sama melakukan perubahan baik tanpa paksaan
4.      Pembiasaan dan pengulangan melaksanakan yang baik, sehingga perbuatan baik itu menjadi keharusan moral dan perbuatan akhlaq terpuji, kebiasaan yang mendalam, tumbuh dan berkembang secara wajar dalam diri manusia.
Adapun tujuan dari pendidikan akhlaq ini adalah untuk membantu manusia yang bermoral baik, keras kemauan, sopan dalam bicara dan perbuatan, mulai dalam bertingkah laku, bersifat bijaksana, sempurna, sopan dan beradab, ikhlas, jujur, dan suci. Dengan kata lain pendidikan aklaq bertujuan untuk melahirkan manusia yang memiliki keutamaan. Dari aspek ini ruang lingkup akhlaq islam meliputi:
1.      Aklaq terhadap diri sendiri
2.      Aklaq dalam keluarga
3.      Akhlaq dalam masyarakat
4.      Akhlaq dalam bernegara
5.      Akhlaq dalam agama[5] 
C.    Ciri-ciri Akhlaq Islam
Ciri-ciri akhlaq Islam meliputi:
            Akhlaq sebagai salah satu aspek penting dalam Islam memiliki ciri-ciri penting sebagai berikut:
a.       Mengajarkan dan menuntun manusia kepada tingkah laku yang baik dan menjauhkan diri dari tingkah laku yang buruk
b.      Menjadi sumber moral, ukuran baik dan buruknya perbuatan seserorang yang didasarkan kepada Al-Qur’an dan Hadis yang sahih
Bersifat universal dan komprehensif, dapat diterima dan dijadikan pedoman oleh selurruh umat manusia kapan pun dan dimana pun mereka berada, serta dalam keadaan apa pun dan bagaimana pun.[6]
D.    Akhlak Sebagai Karakter Pendidikan Islam
           Ada yang berpendapat bahwa pendidikan akhlakdalam Islam dapat dimaknai sebagai latihan mental dan fisik. Latihan tersebut dapat menghasilkan manusia yang  berbudaya tinggi untuk melaksanakan tugas kewajiban dan juga rasa tanggung jawab selaku hamba Allah. Latihan-latihan ini bisa bersifat formal yang terstruktur dalam lembaga-lembaga pendidikan, maupun nonformal yang diperoleh dari hassil interaksi manusia terhadap lingkungan sekitar. Atau dengan kata lain, pendidikan akhlak dalam Islam dapat menjadi sarana untuk membentuk karakter individu Muslim yang berakhlakul karimah. Individu yang berkarakter maampu melaksanakan kewajiban-kewajibannya dan menjauhi segala laraangan-larangan. Individu ini juga mampu memberikan hak kepada Allah dan Rasul-Nya, sesama manusia, makhluk lain, serta alam sekitar dengan sebaik-baiknya.
            Akhlak merupakan fondasi dasar sebuah karakter diri. Sehingga pribadi yang berakhlak baik nantinya aakan menjadi bagian dari masyarakat yang baik pula. Akhlak dalam Islam juga memiliki nilai yang mutlak karena persepsi antara akhlak baik dan buruk memiliki nilai yang dapat diterapkan pada kondisi apapun. Tentu saja, hal ini sesuai dengan fitrah manusia yang menempatkan akhlak sebagai pemelihara eeksistensi manusia sebagai makhluk yang paling mulia. Akhlaklah yang membedakan karakter manusia dengan makhluk lainnya. Tanpa akhlak, manusia akan kehilangan derajat sebagai hamba Allah yang paling terhormat. Sebagai firman-Nya,
QS At-Tin ayat 4-6
ôs)s9 $uZø)n=y{ z`»|¡SM}$# þÎû Ç`|¡ômr& 5OƒÈqø)s? ÇÍÈ   ¢OèO çm»tR÷ŠyŠu Ÿ@xÿór& tû,Î#Ïÿ»y ÇÎÈ   žwÎ) tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=ÏHxåur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# óOßgn=sù íô_r& çŽöxî 5bqãYøÿxE ÇÏÈ  
4. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .
5. kemudian Kami kembalikan Dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),
6. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.
            Pembinaan akhlaq bagian dari integral dan tak terpisah dalam dunia pendidikan. Karena tujuan pendidikan dalam Islam adalah menciptakan manusia yang beriman dan bertakwa melalui pengetahuan, keterampilan, dan berperlaku sesuai dengan nilai-nilai Islam. Tujuan ini dapat diperoleh  melalui proses pendidikan Islam sebagai cerminan karakter seorang muslim. Keberadaan pembinaan akhlaq ini ditujukan untuk mengarahkan potensi-potensi baik yang ada pada diri setiap manusia agar selaras dengan fitrahnya. Selain itu, juga untuk meminimalkan aspek-aspek buruknya.
            Para tokoh pendidikan abad-abad lampau juga menekankan pentingnya pendidikan akhlak sebagai salah satu landasan dasar dari sebuah proses  pembentukan karakter dalam pendidikan. Ibnu Taimiyah dan Ghozali misalnya, meskipun hanya mengklasifikasikan pendidikan menjadi dua golongan besar, yaitu pendidikan rohani (tauhid) dan pendidikan jasmani.
E.     Aspek Pendidikan Akhlak Sebagai Salah Satu Fondasi Dasar Pendidikan
            Menurut Syaikh Saltut, Al-Qur’an menempatkan pendidikan akhlaq sebagai salah satu fondasi dasar pendidikan. Menurutnya, ada tiga aspek besar yang dijelaskan dalam Al-Qur’an, yaitu:
a.       Aspek Tauhid atau akidah, yaitu berhubungan dengan upaya pembersihan diri dari bahaya syirik dan keberhalaan, serta pendidikan jiwa terkait rukun iman
b.      Aspek akhlaq, yaitu yang berhubungan dengan upaya pendidikan diri atau jiwa agar menjadi insan mulia, dan mampu membangun hubungan baik antarsesama manusia dan makhluk Allah lainnya. Implikasi positifnya adalah jujur, sabar, amanah, lemah lembut, penyayang dan lainnya
c.       Aspek hukum, yaitu tataran peraturan yang ditentukan berdasarkan diktum dan pasal tertentu dalam Al-Qur’an yang mesti diikuti. Pasal yang dimaksud adalah ayat tertentu yang mengatur hubungan makhluk dengan Sang Khaalik, seperti hukum-hukum ibadah mahdah (shalat, puasa, zakat, haji), pasal-pasal yang mengatur hubungan antarsesama manusia (menikah, keluarga, waris, dll), pasal-pasal yang mengatur muamalah (perniagaan, utang-piutang, keuangan dll), pasal-pasal jinayat (pidana), bahkan termasuk juga hukum peperangan, perdamaian dan perjanjian.[7]
IV.    PENUTUP
a.      Kesimpulan
Akhlaq berasal dari bahasa Arab, jama’ dari “Khuluqun” yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku dan tabiat. Kalimat tersebut mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan “Khalqun” yang berarti: Pencipta, dan “Makhluq” yang berarti: yang diciptakan.
Sedangkan menurut para ahli adalah
1.      Ibn Miskawaih
“keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan pikiran (terlebih dahulu).”
2.      Imam Ghazali
“akhlaq adalah sesuatu yang tertanam dalam jiwa yang dari padanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran (terlebih dahulu).”
3.      Prof. Dr. Ahmad Amin
“Akhlaq  ialah suatu ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh setengah manusia kepada lainnya menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang harus diperbuat.
b.      Kata Penutup
Demikianlah makalah ini kami buat, semoga bermanfaat kepada pembaca dan dapat memberikan pemahaman kepada pemakalah.
Apabila ada kesalahan atau kekurangan dalam hal penulisan makalah ini, kritik serta saran yang membangun sangat kami butuhkan dari anda. Dari kami, selaku pemakalah meminta maaf yang sebesar-besarnya dan atas perhatian saudara kami ucapkan terimakasih.



DAFTAR PUSTAKA
Ya’qub Hamzah, Etika Islam, Bandung: CV. Diponegoro, 1993
Quasem Abul, Etika Al-Ghazali
Nasirudin, Pendidikan Tasawuf, Semarang: RaSAIL Media Group,  2010
Khozin, Khasanah Pendidikan Islam,
Mahfud Rois, Al-Islam Pendidikan Agama Islam, Jakarta:Erlangga, 2011
Syafri Ulil Amri, Pendidikan Karakter Berbasis Al-Qur’an, Jakarta:Rajawali Pers, 2012



[1] M. Abul Quasem, Etika Al-Ghazali, (Bandung:Pustaka, 1988), hal: 91-96
[2] Hamzah Ya’qub, Etika Islam, (Bandung: CV. Diponegoro, 1993), hlm. 11-12
[4]  Nasirudin, Pendidikan Tasawuf, (Semarang:RaSAIL Media Group, 2010), hlm.32-33
[5] Khozin, Khasanah Pendidikan Islam, (Bandung: PT remaja Rosdakarya, 2013), hlm.140-144
[6] Rois Mahfud, Al-Islam Pendidikan Agama Islam, (Jakarta:Erlangga,  2011),  hlm. 98

[7] Ulil Amri Syafri, Pendidikan Karakter Berbasis Al-Qur’an, (Jakarta:Rajawali Pers, 2012),  hlm.67-71.

2 komentar :