SHALAT JUM’AT DAN SHALAT DALAM KEADAAN SAKIT
SHALAT JUM’AT DAN SHALAT DALAM KEADAAN SAKIT
Makalah
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Fiqh
Dosen Pengampu : Ridwan, M. Ag
Disusun Oleh :
|
Ismi Nur Lailil M
Bryan Adam Pratama
Ahmad Miftahul Huda
Muhammad Farkhan
|
:
:
:
:
|
1403036075
1403036076
1403036077
1403036079
|
FAKULTAS ILMU
TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA
ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015
I.
PENDAHULUAN
Dalam
kehidupan umat muslim, terdapat satu hari yang sangat istimewa yaitu hari
Jum’at. Sebgai umat muslim terutama kaum laki-laki, shalat jum’at merupakan hal
yang wajib. Menurut ijma’ kaum muslimin, shalat jum’at hukumnya wajib
berdasarkan firman Allah dalam surat Al-Jum’ah ayat 9.
Juga
berdasarkan pada hadis-hadis mutawatir,
baik dari kalangan sunnah maupun syi’ah. Perbedaan pendapt mereka adalah dalam
hal: apakah syarat kewajiban shalat jum’at itu berkaitan dengan adanya sultan
atau wakilnya atau ia wajib dalam semua keadaan.
Hanafi
dan imamiyah mengatakan disyariatkan adanya sultan atau walinya, dan menjadi gugur dengan ketiadaan salah
seorang dari mereka. Selain itu, imamiyah menambahkan syariat lainnya, yaitu
keadilan sultan, kalau tidak adil maka keberadaannya sama dengan ketiadaannya.
Sedangkan hanafi mensyaratkan kebradaan sultan sekalipun tidak adil.
Syafi’i,
Maliki dan Hambali mengatakan tidak menganggap perlu adanya sultan. Dan
kebanyakan ulama imamiyah menyatakan, jika sultan atau wakilnya tidak ada,
tetapi ada faqih (ahli fiqh) yang adil, maka boleh dipilih antara mengerjakan
shalat dzuhur dan shalat jum’at, walaupun lebih dianjurkan mengerjakan shalat
jum’at.[1]
II.
RUMUSAN MASALAH
1. Apa Pengertian dan
dasar hukum shalat Jum’at?
2. Apa
saja Syarat dan rukun
shalat jum’at?
3. Bagaimana
Khutbah dalam shalat jum’at?
4. Bagaimana
Kaifiyah shalat bagi orang
yang sakit?
III. PEMBAHASAN
A. Pengertian dan dasar
hukum shalat
Jum’at
1. Pengertian
shalat Jum’at
Shalat
jum’at adalah shalat wajib 2 rakaat yang dilakukan pada waktu dzuhur sesudah
dua khuthbah orang yang sudah melaksanakan sholat Jum’at, tidak perlu lagi
melaksanakan sholat dzuhur.[2]
2. Dasar
hukum shalat jum’at
Shalat Jum’at hukumnya fardhu ‘ain bagi setiap
muslim yang mukallaf, laki-laki, merdeka, sehat, dan bukan musafir serta
dikerjakan secara berjama’ah. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah jumu’ah
ayat 9:
$pkr'¯»t tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sÎ) ÏqçR Ío4qn=¢Á=Ï9 `ÏB ÏQöqt ÏpyèßJàfø9$# (#öqyèó$$sù 4n<Î) Ìø.Ï «!$# (#râsur yìøt7ø9$# 4 öNä3Ï9ºs ×öyz öNä3©9 bÎ) óOçGYä. tbqßJn=÷ès? ÇÒÈ
“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat
Jum'at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual
beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
Ada empat golongan
yang tidak dikenakan kewajiban melakukan shalat Jum’at yaitu : hamba sahaya,
perempuan, anak-anak dan orang sakit. Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah SAW
dalam haditsnya :
الْجُمُعَةِ وَاجِبَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ اِلاَّ عَلَى اَرْبَعَةٍ عَبْدٍ
مَمْلُوْكٍ وَامْرَاَةٍ وَصَبِيٍّ وَمَرِيْضٍ (رواه ابوا داود)
“Shalat Jum’at itu wajib
atas setiap muslim, kecuali 4 golongan yaitu hamba sahaya, perempuan, anak-anak
dan orang sakit. (H.R Abu Daud).”
Orang tua bangka dan orang lumpuh, tetap wajib
melakukan shalat Jum’at jika mereka mendapatkan pengangkutan, walaupun dengan
menyewa ataupun meminjam. Begitu juga dengan orang buta juga tetap wajib
melakukan shalat Jum’at bila ia dapat berjalan sendiri tanpa kesulitan atau ada
orang yang menuntunnya, sekalipun dengan upah.
Dan bagi orang yang mampu mengerjakannya kemudian ia
tinggalkan maka akan dicap sebagai orang yang munafik, Nabi bersabda :
مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا طَبَعَ اللهُ
عَلَى قُلُوْبِهِمْ (رواه ابوا داود والترمليذى)
“Barang siapa meninggalkan shalat
Jum’at tiga kali karena menganggapnya enteng, niscaya Allah akan menutup mata
hatinya. (H.R. Abu Daud dan Tirmidzy).”[3]
B. Syarat
dan rukun Sholat Jum’at.
1. Syarat
sah sholat jum’at.
Syarat sah adalah syarat yang harus
dipenuhi agar sholatnya menjadi sah.
a. Jumlah
orang yang berjamaah sekurang-kurangnya 40 orang laki-laki.
b. Dilakukan
pada waktu dzuhur.
c. Sebelum
melakukan shalat jum’at didahulukan pembacaan khuthbah oleh khotib.
اَنَّهُ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ خُطْبَتَيْنِ يَجْلِسُ
بَيْنَهُمَا وَكَانَ يَخْطُبُ قَائِمًا
“Bahwasanya Rasulullah SAW selalu berkhutbah dua kali
pada hari Jum’at, duduk di antara keduanya, dan ketika berkhuptbah dengan
berdiri.”
d. Dilakukan
pada waktu dzuhur. Berikut dalilnya.
كَانَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يٌصَلِّى الْجُمُعَةَ حِيْنَ تَزُوْلُ
الشَّمْسِ (رواه بخارى)
“Rasulullah SAW melaksanakan shalat Jum’at ketika
matahari tergelincir. (H.R. Bukhari).”
كُنَّا نُصَلِّى مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْجُمُعِةَ اِذَا زَالَتِ الشَّمْسِ ثُمَّ نَرْجِعُ
فَنَتْبَعُ الْفَيْءَ اَيْ ظِلَّ الحيطان
“Kami shalat dengan Rasulullah SAW ketika matahari
tergelincir, kemudian kami pulang dengan mengikuti bayang-bayang tembok. (H.R.
Muslim).”
Masalah yang sering dihadapi oleh kaum muslimin
adalah tentang banyaknya jumlah jamaah yang hadir dalam sholat jum’at. Di dalam
Al qur’an sendiri tidak menerangkan atau menjelaskan tentang banyaknya jumlah
jamaah yang harus hadir dalam sholat jum’at. Berikut beberapa pendapat dari
para ulama:
a. Imam
Abu Hanifa (Imam Hanafi) menyatakan cukup empat orang termasuk imam. Pendapat
ini merujuk pada hadis berikut
الجمعة
واجبة على كل قرية فيهاامام وان لم يكونوا الااربعة. (رواه الطبراني)
“jum’ah itu wajib bagi tiap-tiap desa yang ada padanya seorang
imam, walaupun penduduknya hanya 4 orang”
b.
Imam
Aw-Za’i menyatakan bahwa jum’ah itu cukup dengan 12 orang. Pendapat ini dengan
alasan hadis berikut
اول
من قد م المدينة من المهاجرين مصعب بن عمير وهواول من جمع بهايوم الجمعت قبل ان
يقدم النبي صلى الله عليه وسلم وهم اثناعشررجلا. (رواه الطبرني)
“orang yang pertama kali datag ke madinah dari kaum muhajirin ialah
Mush’ab bin Umair, dan ialah yang pertama mendirikan sholat jum’at disitu pada
hari jum’at, sebelum nabi Muhammad datang (dan waktu itu) mereka berdua belas
orang”
c.
Imam
syafi’i menyatakan jumlah itu harus 40 orang dengan dalil sebagai berikut.
قال
عبدالرحمن بن كعب : كان ابي اذاسمع النداءيوم الجمعة ترحم لا سعدبن زرارة, فقلت
له: اذاسمعت النذاءتر حمتل لاسعدبن زرارة؟ قال: لانه اول من جمع بنا في هزم
النبيت: فقلت: كم كنتم يومئذ؟ قال: اربعون رجلا. (رواه ابو داود)
“Telah berkata Abdurrahman bin Ka’b:
bapak saya ketika mendengar adzan hari jumm’at biasa mendoakan bagi as’ad bin
Zararah. Maka saya bertanya kepadanya: apabila mendengar adzan mebgapa ayah
mendoakan untuk as’ad bin Zararah? Ayahnya menjawab: karena dialah yang pertama
kali mengumpulkan kita untuk shalat Jum’at Hazmin Nabit. Maka bertaya saya
kepadanya: berapakah jumlah orang yang hadir? Ia menjawab: empat puluh orang”[4]
Dari bebepara
pendapat diatas, pemakalah lebih condong ke pendapat dari imam syafi’i, dengan
alasan kehati-hatian.
2.
Rukun
Sholat Jum’at.
Rukun sholat
jum’at tidak berbeda dengan rukun sholat lainya.
a.
Niat
اصلي
فرض الجمعة ركعتين مستقبل القبلة اداء(مأموما)لله تعالى. الله اكبر.
“Saya menyengaja shalat fardhu Jum’at dua raka’at menghadap
qiblat (makmum) karena Allah ta’ala. Allahu Akbar.”
b.
Takbirratul
ihran.
c.
Berdiri
tegag bagi yang mapu. Boleh dengan duduk atau berbaring.
d.
Membaca
surat Al Fatihah pada tiap-tiap rakaat.
e.
Ruku’
dengan tuma’ninah.
f.
I’tidal
dengan tuma’ninah.
g.
Sujud
dengan tuma’ninah.
h.
Duduk
diantara dua sujud dengan tuma’ninah.
i.
Duduk
tasyahud akhir dengan tuma’ninah.
j.
Membaca
tasyahud akhir.
k.
Membaca
sholawat nabi pada tasyahud akhir.
l.
Membaca
salam pertama.
m.
Tertib.
C.
Khuthbah
dalam sholat jum’at
1.
Pengertian
Khuthbah
ialah perkataan yang mengandung mau’izhah dan tuntunan ibadah yang diucapkan
oleh khatib dengan syarat yang telah ditentukan syara’ dan menjadi rukun untuk
memberikan pengertian para hadirin, menurut rukun dari shalat Jum’at. Orang
berkhuthbah dinamakan khotib.
Khutbah Jum’at terbagi menjadi dua yang antara keduanya diadakan waktu
istirahat yang pendek dan khutbah ini dilakukan sebelum shalat.[5]
2. Rukun Khothbah
a. Membaca “Alhamdulillah” dalam khuthbah itu.
b. Membaca sholawat Nabi
c. Wasiat taqwa kepada Allah
d. Membaca Al Qur’an.
3. Syarat khutbah.
a. Khotib harus laki-laki
b. Berdiri bagi yang kuasa.
c. Menutup aurat
d. suci dari hadas dan najis.
e. Bersuara lantang
f. Duduk diantara dua khuthbah
g. Disampaikan sebelum shalat jum’at
h. Disampaikan pada waktu dzuhur
i.
Rukun disampaikan dengan bahasa Arab.
j.
Berturut-turut darikhuthbah pertama sampai khuthbah
kedua.[6]
D. Kaifiyah shalat
bagi orang yang sakit.
Shalat merupakan kewajiban seorang muslim dalam
kondisi bagaimanapun selama akalnya masih berfungsi. Jika seseorang mengalami
sakit dan dia mampu shalat dalam keadaan berdiri, maka dia harus shalat dalam
keadaan berdiri, jika tidak mampu dia shalat dalam keadaan duduk, dan jika
tidak mampu, dia shalat dalam keadaan berbaring, jika tidak mampu berbaring,
maka dia shalat dalam keadaan terlentang.
Orang
yang sakit tidak sama dengan yang sehat. Semua harus berusaha melaksanakan
kewajibannya menurut kemampuan masing-masing. Dengan ini nampaklah keindahan
syari’at dan kemudahannya. Diantara kewajiban agung yang harus dilakukan orang
yang sakit adalah sholat. Banyak sekali kaum muslimin yang kadang meninggalkan
sholat dengan dalih sakit atau memaksakan diri sholat dengan tata-tata cara
yang biasa dilakukan orang sehat. Akhirnya merasakan beratnya sholat bahkan
merasakan hal itu sebagai beban yang menyusahkannya. Solusinya adalah kewajiban
mengenal hukum-hukum dan tata cara sholat orang yang sakit sesuai petunjuk Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam dan penjelasan para ulama.
a. Hukum-Hukum yang berhubungan
dengan shalat orang sakit
Di
antara hukum-hukum yang berhubungan dengan orang sakit dalam ibadah sholatnya
adalah:
1. Orang yang sakit tetap wajib sholat diwaktunya
dan melaksanakannya menurut kemampuannya, sebagaimana diperintahkan Allah
Ta’ala dalam firman-Nya:
فَاتَّقُوا
اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu. (Qs.
At-Taghâbûn/ 64:16)
dan perintah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ‘Imrân bin Hushain:
كَانَتْ بِي
بَوَاسِيرُ فَسَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ
الصَّلَاةِ فَقَالَ صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لَمْ
تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ
“Pernah Penyakit wasir menimpaku, lalu akau
bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang cara sholatnya. Maka
beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Sholatlah dengan berdiri,
apabila tidak mampu maka duduklah dan bila tidak mampu juga maka berbaringlah.” (HR
al-Bukhari no. 1117)
2. Apabila berat melakukan setiap sholat pada
waktunya maka diperbolehkan baginya untuk men-jama’ (menggabung) antara shalat
Zhuhur dan Ashar, Maghrib dan ‘Isya baik dengan jama’ taqdim atau ta’khir. Hal
ini melihat kepada yang termudah baginya. Sedangkan shalat Shubuh maka tidak
boleh dijama’ karena waktunya terpisah dari shalat sebelum dan sesudahnya.
Diantara dasar kebolehan ini adalah hadits Ibnu Abasradhiallahu ‘anhuma yang
menyatakan:
جَمَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ
وَالْعِشَاءِ بِالْمَدِينَةِ فِي غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا مَطَرٍ قَالَ (أَبُوْ
كُرَيْبٍ) قُلْتُ لِابْنِ عَبَّاسٍ لِمَ فَعَلَ ذَلِكَ قَالَ كَيْ لَا يُحْرِجَ
أُمَّتَهُ
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjama’ antara Zhuhur dan Ashar, Maghrib
dan Isya’ di kota Madinah tanpa sebab takut dan hujan. AbuKuraib berkata: Aku
bertanya kepada Ibnu Abas radhiallahu ‘anhuma: Mengapa beliau berbuat demikian?
Beliau radhiallahu ‘anhuma menjawab Agar tidak menyusahkan umatnya. (HR
Muslim no. 705)
Dalam
hadits diatas jelaslah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membolehkan
kita menjama’ sholat karena adanya rasa berat yang menyusahkan (masyaqqoh)
dan jelas sakit merupakan masyaqqah. Hal ini juga dikuatkan dengan
menganalogikan orang sakit kepada orang yang terkena istihaadhoh yang
diperintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk
mengakhirkan sholat Zhuhur dan mempercepat Ashar dan mengakhirkan Maghrib dan mempercepat
Isya’.
3. Orang yang sakit tidak boleh meninggalkan sholat
wajib dalam segala kondisinya selama akalnya masih baik.
4. Orang sakit yang berat untuk mendatangi masjid
berjama’ah atau akan menambah dan atau memperlambat kesembuhannya bila sholat
berjamaah di masjid maka dibolehkan tidak sholat berjama’ah. Imam Ibnu
al-Mundzir rahimahullahmenyatakan: Tidak diketahui adanya perbedaan
pendapat diantara ulama bahwa orang sakit dibolehkan tidak sholat berjama’ah
karena sakitnya. Hal itu karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika
sakit tidak hadir di Masjid dan berkata:
مُرُوا أَبَا
بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ
Perintahkan
Abu Bakar agar mengimami sholat. (Muttafaqun
‘Alaihi)
b. Tata cara sholat orang yang sakit
Tata cara shalat orang sakit dapat diringkas
dalam keterangan berikut ini:
a.
Diwajibkan
atas orang yang sakit untuk sholat berdiri apabila mampu dan tidak khawatir
sakitnya bertambah parah, karena berdiri dalam sholat wajib adalah salah satu
rukunnya. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:
وَقُومُواْ
لِلّهِ قَانِتِينَ
“Berdirilah
untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu.” (Qs. Al-Baqarah/2:238)
Diwajibkan
juga orang yang mampu berdiri walaupun dengan menggunakan tongkat atau
bersandar ke tembok atau berpegangan dengan tiang berdasarkan hadits Ummu Qais radhiallahu
‘anha yang berbunyi:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا أَسَنَّ وَحَمَلَ اللَّحْمَ اتَّخَذَ عَمُودًا
فِي مُصَلَّاهُ يَعْتَمِدُ عَلَيْهِ
“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam ketika berusia lanjut dan lemah maka beliau memasang tiang di tempat
sholatnya untuk menjadi sandaran. (HR Abu Daud dan dishahihkan al-Albani
dalam Silsilah Ash-Shohihah 319)”
Demikian
juga orang bongkok diwajibkan berdiri walaupun keadaannya seperti orang rukuk. Syeikh
Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Diwajibkan berdiri atas
seorang dalam segala caranya, walaupun menyerupai orang ruku’ atau bersandar
kepada tongkat, tembok, tiang ataupun manusia.”
b.
Orang
sakit yang mampu berdiri namun tidak mampu ruku’ atau sujud tetap tidak gugur
kewajiban berdirinya. Ia harus sholat berdiri dan bila tidak bisa rukuk maka
menunduk untuk rukuk Bila tidak mampu membongkokkan punggungnya sama sekali
maka cukup dengan menundukkan lehernya, Kemudian duduk lalu menunduk untuk
sujud dalam keadaan duduk dengan mendekatkan wajahnya ke tanah sedapat mungkin.
c.
Orang
sakit yang tidak mampu berdiri maka melakukan sholat wajib dengan duduk,
berdasarkan hadits ‘Imrân bin Hushain dan ijma’ para ulama. Ibnu Qudâmahrahimahullah menyatakan,
“Para ulama telah ber-ijma’ (bersepakat) bahwa orang yang tidak mampu shalat
berdiri maka dibolehkan shalat dengan duduk.”
d.
Orang
sakit yang dikhawatirkan akan menambah parah sakitnya atau memperlambat
kesembuhannya atau sangat susah berdiri, diperbolehkan shalat dengan duduk.
Syeikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menyatakan, “Yang benar
adalah kesulitan (masyaqqah) membolehkan sholat dengan duduk. Apabila
seorang merasa susah shalat berdiri maka ia boleh shalat dengan duduk,
berdasarkan firman Allah Ta’ala:
يُرِيدُ اللّهُ
بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
Allah
menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (Qs.
Al-Baqarah/2:185)
.
Orang
yang sakit apabila sholat dengan duduk sebaiknya duduk bersila pada posisi
berdirinya berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha yang
berbunyi:
رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مُتَرَبِّعًا
Aku
melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sholat dengan bersila.
Juga
karena bersila secara umum lebih enak dan tuma’ninah (tenang) dari duduk
iftirâsy.
Apabila
rukuk maka rukuk dengan bersila dengan membungkukkan punggungnya dan meletakkan
tangannya di lututnya, karena ruku’ berposisi berdiri.
Dalam
keadaan demikian masih diwajibkan sujud diatas tanah dengan dasar keumuman
hadits Ibnu Abas radhiallahu ‘anhuma yang berbunyi:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أُمِرْتُ أَنْ
أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ الْجَبْهَةِ وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ
وَالْيَدَيْنِ وَالرِّجْلَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ
“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Aku diperintahkan untuk bersujud dengan tujuh tulang; Dahi
–dan beliau mengisyaratkan dengan tangannya ke hidung- kedua telapak tangan,
dua kaki dan ujung kedua telapak kaki.”(Muttafaqun
‘Alaihi)”
Bila tidak mampu juga maka ia
meletakkan kedua telapak tangannya ketanah dan menunduk untuk sujud. Bila juga
tidak mampu maka hendaknya ia meletakkan tangannya dilututnya dan menundukkan
kepalanya lebih rendah dari pada ketika ruku’.
e.
Orang
sakit yang tidak mampu melakukan shalat berdiri dan duduk maka boleh
melakukannya dengan berbaring miring, boleh dengan miring ke kanan atau ke kiri
dengan menghadapkan wajahnya ke arah kiblat. Hal ini dilakukan dengan dasar
sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits
‘Imrân bin al-Hushain:
صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ
فَعَلَى جَنْبٍ
Sholatlah dengan berdiri, apabila tidak mampu
maka duduklah dan bila tidak mampu juga maka berbaringlah. (HR
al-Bukhari no. 1117)
Dalam
hadits ini nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak
menjelaskan sisi mana ke kanan atau ke kiri sehingga yang utama adalah yang
termudah dari keduanya. Apabila miring ke kanan lebih mudah maka itu yang lebih
utama dan bila miring ke kiri itu yang termudah maka itu yang lebih utama.
Namun bila kedua-duanya sama mudahnya maka miring ke kanan lebih utama dengan
dasar keumuman hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anhayang berbunyi:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ
التَّيَمُّنَ فِي شَأْنِهِ كُلِّهِ فِي نَعْلَيْهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ
“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
suka mendahulukan sebelah kanan dalam seluruh urusannya, dalam memakai sandal,
menyisir dan bersucinya. (HR Muslim no 396).”
Kemudian
melakukan ruku’ dan sujud dengan isyarat menundukkan kepala ke dada dengan
ketentuan sujud lebih rendah dari ruku’. Apabila tidak mampu menggerakkan
kepalanya maka para ulama berbeda pendapat dalam tiga pendapat:
1.
Melakukannya
dengan mata. Sehingga apabila ruku’ maka ia memejamkan matanya sedikit kemudian
mengucapkan kata سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ lalu
membuka matanya. Apabila sujud maka memejamkan matanya lebih dalam.
2.
Gugur
semua gerakan namun masih melakukan sholat dengan perkataan.
3.
Gugur
kewajiban sholatnya dan inilah pendapat yang dirojihkan Syeikhul Islam Ibnu
Taimiyah.
Syeikh Ibnu Utsaimin merojihkan
pendapat kedua dengan menyatakan, “Yang rojih dari tiga pendapat tersebut
adalah gugurnya perbuatan saja, karena ini saja yang tidak mampu dilakukan.
Sedangkan perkataan maka ia tidak gugur karena ia mampu melakukannya dan Allah
berfirman:
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا
اسْتَطَعْتُمْ
Maka
bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu. (Qs.
At-Taghaabun/64:16)”
f.
Orang
sakit yang tidak mampu berbaring miring, maka boleh melakukan shalat dengan
terlentang dan menghadapkan kakinya ke arah kiblat karena hal ini lebih dekat
kepada cara berdiri. Misalnya bila kiblatnya arah barat maka letak kepalanya di
sebelah timur dan kakinya di arah barat.
g.
Apabila
tidak mampu menghadap kiblat dan tidak ada yang mengarahkannya atau membantu
mengarahkannya ke kiblat, maka shalat sesuai keadaannya tersebut, berdasarkan
firman Allah Ta’ala:
لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْساً
إِلاَّ وُسْعَهَا
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai
dengan kesanggupannya. (Qs. Al-Baqarah/2:286)
h.
Orang
sakit yang tidak mampu shalat dengan terlentang maka shalat sesuai keadaannya
dengan dasar firman Allah Ta’ala:
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا
اسْتَطَعْتُمْ
Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut
kesanggupanmu. (Qs. At-Taghaabun/64:16)
i.
Orang
yang sakit dan tidak mampu melakukan seluruh keadaan di atas. Ia tidak mampu
menggerakkan anggota tubuhnya dan tidak mampu juga dengan matanya, maka ia
sholat dengan hatinya. Shalat tetap diwajibkan selama akal seorang masih sehat.
j.
Apabila
orang sakit mampu di tengah-tengah shalat melakukan perbuatan yang sebelumnya
ia tidak mampu, baik keadaan berdiri, ruku’ atau sujud, maka ia melaksanakan
sholatnya dengan yang ia telah mampui dan menyempurnakan yang tersisa. Ia tidak
perlu mengulang yang telah lalu karena yang telah lalu dari sholat tersebut
telah sah.
k.
Apabila
orang sakit tidak mampu sujud di atas tanah, maka ia menundukkan kepalanya
untuk sujud di udara dan tidak mengambil sesuatu sebagai alas sujud. Hal ini
didasarkan kepada hadits Jâbir yang berbunyi:
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم عَادَ مَرِيْضًا فَرَآهُ يُصَلِّي
عَلَى وِسَادَةٍ فَأَخَذَهَا فَرَمَى بِهَا، فَأَخَذَ عُوْدًا لِيُصَلِّي عَلَيْهِ
فَأَخَذَهُ فَرَمَى بِهِ، قَالَ: صَلِّ عَلَى الأَرْضِ إِنِ اسْتَطَعْتَ وَإِلاَّ
فَأَوْمِ إِيْمَاءً وَاجْعَلْ سُجُوْدَكَ أَخْفَضَ مِنْ رُكُوْعِكَ
Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam menjenguk orang sakit lalu melihatnya sholat di atas (bertelekan)
bantal, lalu beliau mengambilnya dan melemparnya. Lalu ia mengambil kayu untuk
dijadikan alas sholatnya, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam
mengambilnya dan melemparnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sholatlah di atas tanah apabila ia mampu dan bila tidak maka dengan isyarat
dengan menunduk (al-Imâ’) dan menjadikan sujudnya lebih rendah dari ruku’nya.”[7]
IV.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Shalat jum’at adalah shalat wajib 2 rakaat yang dilakukan pada
waktu dzuhur sesudah dua khuthbah orang yang sudah melaksanakan sholat Jum’at,
Shalat Jum’at hukumnya fardhu ‘ain bagi setiap muslim yang mukallaf, laki-laki,
merdeka, sehat, dan bukan musafir serta dikerjakan secara berjama’ah.
Shalat merupakan kewajiban seorang muslim dalam
kondisi bagaimanapun selama akalnya masih berfungsi. Jika seseorang mengalami
sakit dan dia mampu shalat dalam keadaan berdiri, maka dia harus shalat dalam
keadaan berdiri, jika tidak mampu dia shalat dalam keadaan duduk, dan jika
tidak mampu, dia shalat dalam keadaan berbaring, jika tidak mampu berbaring,
maka dia shalat dalam keadaan terlentang.
B.
Kata Penutup
Demikianlah makalah ini kami buat, semoga bermanfaat kepada pembaca
dan dapat memberikan pemahaman kepada pemakalah. Sekian dari kami, apabila ada
kesalahan atau kekurangan dalam hal penulisan makalah ini, kritik serta saran
yang membangun sangat kami butuhkan dari anda. Dari kami, selaku pemakalah
meminta maaf yang sebesar-besarnya dan atas perhatian saudara kami ucapkan
terimakasih.
DAFTAR PUSTAKA
Asyhadi, Muhammad Sokhi, Fikih Ibadah Versi Syafi’i,
Grobogan: Pondok Pesantren Fadllul Wahid, 1432 H
Mughniyah, Muhammad Jawal, Fiqh
Lima Madzhab, Jakarta: Penerbit Lentera, 2007
Rifa’i, Moh, Risalah Tuntunan
Shalat Lengkap, Semarang: CV. TOHA
PUTRA, 1976
Rifa’i, Moh. Zuhri, Moh. Salomo, Terjemahan Khulashah Kifayatul
Akhyar, Semarang: CV. TOHA PUTRA, 1993
http://ekonomisyariat.com/sholat-orang-yang-sakit/ (13/04/2015)
[1] Muhammad Jawab
Mughniyah, Fiqh lima Madzhab, (Jakarta: PENERBIT LENTERA, 2007). Hlm 122
[2] Mohammad
Rifa’i, Risalah Tuntunan Shalat Lengkap, (Semarang: CV. TOHA PUTRA, 1976).
Hlm 61
[4] Mohammad
Rifa’i, Risalah Tuntunan Shalat Lengkap, Hlm 62-63
[5] Muhammad Jawab
Mughniyah, Hlm 123
[6] Muhammad Sokhi
Asyhadi, Fiqh Ibadah Versi Madzhab syafi’i, (Grobogan: Pondok Pesantren
Fadllul Wahid, 1432 H). Hal. 164


0 komentar :
Posting Komentar