SHALAT JUM’AT DAN SHALAT DALAM KEADAAN SAKIT

Sabtu, 19 Desember 2015

SHALAT JUM’AT DAN SHALAT DALAM KEADAAN SAKIT




SHALAT JUM’AT DAN SHALAT DALAM KEADAAN SAKIT
Makalah
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Fiqh
Dosen Pengampu : Ridwan, M. Ag



Disusun Oleh :

Ismi Nur Lailil M
Bryan Adam Pratama
Ahmad Miftahul Huda
Muhammad Farkhan
:
:
:
:
1403036075
1403036076
1403036077
1403036079


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015





I.          PENDAHULUAN
Dalam kehidupan umat muslim, terdapat satu hari yang sangat istimewa yaitu hari Jum’at. Sebgai umat muslim terutama kaum laki-laki, shalat jum’at merupakan hal yang wajib. Menurut ijma’ kaum muslimin, shalat jum’at hukumnya wajib berdasarkan firman Allah dalam surat Al-Jum’ah ayat 9.
Juga berdasarkan  pada hadis-hadis mutawatir, baik dari kalangan sunnah maupun syi’ah. Perbedaan pendapt mereka adalah dalam hal: apakah syarat kewajiban shalat jum’at itu berkaitan dengan adanya sultan atau wakilnya atau ia wajib dalam semua keadaan.
Hanafi dan imamiyah mengatakan disyariatkan adanya sultan atau walinya,  dan menjadi gugur dengan ketiadaan salah seorang dari mereka. Selain itu, imamiyah menambahkan syariat lainnya, yaitu keadilan sultan, kalau tidak adil maka keberadaannya sama dengan ketiadaannya. Sedangkan hanafi mensyaratkan kebradaan sultan sekalipun tidak adil.
Syafi’i, Maliki dan Hambali mengatakan tidak menganggap perlu adanya sultan. Dan kebanyakan ulama imamiyah menyatakan, jika sultan atau wakilnya tidak ada, tetapi ada faqih (ahli fiqh) yang adil, maka boleh dipilih antara mengerjakan shalat dzuhur dan shalat jum’at, walaupun lebih dianjurkan mengerjakan shalat jum’at.[1]
II.       RUMUSAN MASALAH
1.      Apa Pengertian dan dasar hukum shalat Jum’at?
2.      Apa saja Syarat dan rukun shalat jum’at?
3.      Bagaimana Khutbah dalam shalat jum’at?
4.      Bagaimana Kaifiyah shalat bagi orang yang sakit?
III.    PEMBAHASAN
A.    Pengertian dan dasar hukum shalat Jum’at
1.      Pengertian shalat Jum’at
Shalat jum’at adalah shalat wajib 2 rakaat yang dilakukan pada waktu dzuhur sesudah dua khuthbah orang yang sudah melaksanakan sholat Jum’at, tidak perlu lagi melaksanakan sholat dzuhur.[2]
2.      Dasar hukum shalat jum’at
Shalat Jum’at hukumnya fardhu ‘ain bagi setiap muslim yang mukallaf, laki-laki, merdeka, sehat, dan bukan musafir serta dikerjakan secara berjama’ah. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah jumu’ah ayat 9:
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sŒÎ) šÏŠqçR Ío4qn=¢Á=Ï9 `ÏB ÏQöqtƒ ÏpyèßJàfø9$# (#öqyèó$$sù 4n<Î) ̍ø.ÏŒ «!$# (#râsŒur yìøt7ø9$# 4 öNä3Ï9ºsŒ ׎öyz öNä3©9 bÎ) óOçGYä. tbqßJn=÷ès? ÇÒÈ  
“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
 Ada empat golongan yang tidak dikenakan kewajiban melakukan shalat Jum’at yaitu : hamba sahaya, perempuan, anak-anak dan orang sakit. Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya :
الْجُمُعَةِ وَاجِبَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ اِلاَّ عَلَى اَرْبَعَةٍ عَبْدٍ مَمْلُوْكٍ وَامْرَاَةٍ وَصَبِيٍّ وَمَرِيْضٍ (رواه ابوا داود)
“Shalat Jum’at itu wajib atas setiap muslim, kecuali 4 golongan yaitu hamba sahaya, perempuan, anak-anak dan orang sakit. (H.R Abu Daud).”
 Orang tua bangka dan orang lumpuh, tetap wajib melakukan shalat Jum’at jika mereka mendapatkan pengangkutan, walaupun dengan menyewa ataupun meminjam. Begitu juga dengan orang buta juga tetap wajib melakukan shalat Jum’at bila ia dapat berjalan sendiri tanpa kesulitan atau ada orang yang menuntunnya, sekalipun dengan upah.
Dan bagi orang yang mampu mengerjakannya kemudian ia tinggalkan maka akan dicap sebagai orang yang munafik, Nabi bersabda :
مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا طَبَعَ اللهُ عَلَى قُلُوْبِهِمْ (رواه ابوا داود والترمليذى)
Barang siapa meninggalkan shalat Jum’at tiga kali karena menganggapnya enteng, niscaya Allah akan menutup mata hatinya. (H.R. Abu Daud dan Tirmidzy).”[3]
B.     Syarat dan rukun Sholat Jum’at.
1.      Syarat sah sholat jum’at.
Syarat sah adalah syarat yang harus dipenuhi agar sholatnya menjadi sah.
a.       Jumlah orang yang berjamaah sekurang-kurangnya 40 orang laki-laki.
b.      Dilakukan pada waktu dzuhur.
c.       Sebelum melakukan shalat jum’at didahulukan pembacaan khuthbah oleh khotib.
اَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ خُطْبَتَيْنِ يَجْلِسُ بَيْنَهُمَا وَكَانَ يَخْطُبُ قَائِمًا
“Bahwasanya Rasulullah SAW selalu berkhutbah dua kali pada hari Jum’at, duduk di antara keduanya, dan ketika berkhuptbah dengan berdiri.”
d.      Dilakukan pada waktu dzuhur. Berikut dalilnya.
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يٌصَلِّى الْجُمُعَةَ حِيْنَ تَزُوْلُ الشَّمْسِ (رواه بخارى)
“Rasulullah SAW melaksanakan shalat Jum’at ketika matahari tergelincir. (H.R. Bukhari).”
كُنَّا نُصَلِّى مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْجُمُعِةَ اِذَا زَالَتِ الشَّمْسِ ثُمَّ نَرْجِعُ فَنَتْبَعُ الْفَيْءَ اَيْ ظِلَّ الحيطان
“Kami shalat dengan Rasulullah SAW ketika matahari tergelincir, kemudian kami pulang dengan mengikuti bayang-bayang tembok. (H.R. Muslim).”
Masalah yang sering dihadapi oleh kaum muslimin adalah tentang banyaknya jumlah jamaah yang hadir dalam sholat jum’at. Di dalam Al qur’an sendiri tidak menerangkan atau menjelaskan tentang banyaknya jumlah jamaah yang harus hadir dalam sholat jum’at. Berikut beberapa pendapat dari para ulama:
a.       Imam Abu Hanifa (Imam Hanafi) menyatakan cukup empat orang termasuk imam. Pendapat ini merujuk pada hadis berikut
الجمعة واجبة على كل قرية فيهاامام وان لم يكونوا الااربعة. (رواه الطبراني)
“jum’ah itu wajib bagi tiap-tiap desa yang ada padanya seorang imam, walaupun penduduknya hanya 4 orang”
b.      Imam Aw-Za’i menyatakan bahwa jum’ah itu cukup dengan 12 orang. Pendapat ini dengan alasan hadis berikut
اول من قد م المدينة من المهاجرين مصعب بن عمير وهواول من جمع بهايوم الجمعت قبل ان يقدم النبي صلى الله عليه وسلم وهم اثناعشررجلا. (رواه الطبرني)
“orang yang pertama kali datag ke madinah dari kaum muhajirin ialah Mush’ab bin Umair, dan ialah yang pertama mendirikan sholat jum’at disitu pada hari jum’at, sebelum nabi Muhammad datang (dan waktu itu) mereka berdua belas orang”
c.       Imam syafi’i menyatakan jumlah itu harus 40 orang dengan dalil sebagai berikut.
قال عبدالرحمن بن كعب : كان ابي اذاسمع النداءيوم الجمعة ترحم لا سعدبن زرارة, فقلت له: اذاسمعت النذاءتر حمتل لاسعدبن زرارة؟ قال: لانه اول من جمع بنا في هزم النبيت: فقلت: كم كنتم يومئذ؟ قال: اربعون رجلا. (رواه ابو داود)
“Telah berkata Abdurrahman bin Ka’b: bapak saya ketika mendengar adzan hari jumm’at biasa mendoakan bagi as’ad bin Zararah. Maka saya bertanya kepadanya: apabila mendengar adzan mebgapa ayah mendoakan untuk as’ad bin Zararah? Ayahnya menjawab: karena dialah yang pertama kali mengumpulkan kita untuk shalat Jum’at Hazmin Nabit. Maka bertaya saya kepadanya: berapakah jumlah orang yang hadir? Ia menjawab: empat puluh orang”[4]
Dari bebepara pendapat diatas, pemakalah lebih condong ke pendapat dari imam syafi’i, dengan alasan kehati-hatian.
2.      Rukun Sholat Jum’at.
Rukun sholat jum’at tidak berbeda dengan rukun sholat lainya.
a.       Niat
اصلي فرض الجمعة ركعتين مستقبل القبلة اداء(مأموما)لله تعالى. الله اكبر.
“Saya menyengaja shalat fardhu Jum’at dua raka’at menghadap qiblat (makmum) karena Allah ta’ala. Allahu Akbar.”
b.      Takbirratul ihran.
c.       Berdiri tegag bagi yang mapu. Boleh dengan duduk atau berbaring.
d.      Membaca surat Al Fatihah pada tiap-tiap rakaat.
e.       Ruku’ dengan tuma’ninah.
f.       I’tidal dengan tuma’ninah.
g.      Sujud dengan tuma’ninah.
h.      Duduk diantara dua sujud dengan tuma’ninah.
i.        Duduk tasyahud akhir dengan tuma’ninah.
j.        Membaca tasyahud akhir.
k.      Membaca sholawat nabi pada tasyahud akhir.
l.        Membaca salam pertama.
m.    Tertib.
C.     Khuthbah dalam sholat jum’at
1.      Pengertian
Khuthbah ialah perkataan yang mengandung mau’izhah dan tuntunan ibadah yang diucapkan oleh khatib dengan syarat yang telah ditentukan syara’ dan menjadi rukun untuk memberikan pengertian para hadirin, menurut rukun dari shalat Jum’at. Orang berkhuthbah dinamakan khotib.
            Khutbah Jum’at terbagi menjadi dua yang antara keduanya diadakan waktu istirahat yang pendek dan khutbah ini dilakukan sebelum shalat.[5]
2.      Rukun Khothbah
a.       Membaca “Alhamdulillah” dalam khuthbah itu.
b.      Membaca sholawat Nabi
c.       Wasiat taqwa kepada Allah
d.      Membaca Al Qur’an.
3.      Syarat khutbah.
a.       Khotib harus laki-laki
b.      Berdiri bagi yang kuasa.
c.       Menutup aurat
d.      suci dari hadas dan najis.
e.       Bersuara lantang
f.       Duduk diantara dua khuthbah
g.      Disampaikan sebelum shalat jum’at
h.      Disampaikan pada waktu dzuhur
i.        Rukun disampaikan dengan bahasa Arab.
j.        Berturut-turut darikhuthbah pertama sampai khuthbah kedua.[6]
D.    Kaifiyah shalat bagi orang yang sakit.
Shalat merupakan kewajiban seorang muslim dalam kondisi bagaimanapun selama akalnya masih berfungsi. Jika seseorang mengalami sakit dan dia mampu shalat dalam keadaan berdiri, maka dia harus shalat dalam keadaan berdiri, jika tidak mampu dia shalat dalam keadaan duduk, dan jika tidak mampu, dia shalat dalam keadaan berbaring, jika tidak mampu berbaring, maka dia shalat dalam keadaan terlentang.
Orang yang sakit tidak sama dengan yang sehat. Semua harus berusaha melaksanakan kewajibannya menurut kemampuan masing-masing. Dengan ini nampaklah keindahan syari’at dan kemudahannya. Diantara kewajiban agung yang harus dilakukan orang yang sakit adalah sholat. Banyak sekali kaum muslimin yang kadang meninggalkan sholat dengan dalih sakit atau memaksakan diri sholat dengan tata-tata cara yang biasa dilakukan orang sehat. Akhirnya merasakan beratnya sholat bahkan merasakan hal itu sebagai beban yang menyusahkannya. Solusinya adalah kewajiban mengenal hukum-hukum dan tata cara sholat orang yang sakit sesuai petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan penjelasan para ulama.
a.      Hukum-Hukum yang berhubungan dengan shalat orang sakit
Di antara hukum-hukum yang berhubungan dengan orang sakit dalam ibadah sholatnya adalah:
1.      Orang yang sakit tetap wajib sholat diwaktunya dan melaksanakannya menurut kemampuannya, sebagaimana diperintahkan Allah Ta’ala dalam firman-Nya:
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu. (Qs. At-Taghâbûn/ 64:16)
dan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ‘Imrân bin Hushain:
كَانَتْ بِي بَوَاسِيرُ فَسَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الصَّلَاةِ فَقَالَ صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ
“Pernah Penyakit wasir menimpaku, lalu akau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang cara sholatnya. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Sholatlah dengan berdiri, apabila tidak mampu maka duduklah dan bila tidak mampu juga maka berbaringlah.” (HR al-Bukhari no. 1117)
2.      Apabila berat melakukan setiap sholat pada waktunya maka diperbolehkan baginya untuk men-jama’ (menggabung) antara shalat Zhuhur dan Ashar, Maghrib dan ‘Isya baik dengan jama’ taqdim atau ta’khir. Hal ini melihat kepada yang termudah baginya. Sedangkan shalat Shubuh maka tidak boleh dijama’ karena waktunya terpisah dari shalat sebelum dan sesudahnya. Diantara dasar kebolehan ini adalah hadits Ibnu Abasradhiallahu ‘anhuma yang menyatakan:
جَمَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِالْمَدِينَةِ فِي غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا مَطَرٍ قَالَ (أَبُوْ كُرَيْبٍ) قُلْتُ لِابْنِ عَبَّاسٍ لِمَ فَعَلَ ذَلِكَ قَالَ كَيْ لَا يُحْرِجَ أُمَّتَهُ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjama’ antara Zhuhur dan Ashar, Maghrib dan Isya’ di kota Madinah tanpa sebab takut dan hujan. AbuKuraib berkata: Aku bertanya kepada Ibnu Abas radhiallahu ‘anhuma: Mengapa beliau berbuat demikian? Beliau radhiallahu ‘anhuma menjawab Agar tidak menyusahkan umatnya. (HR Muslim no. 705)
Dalam hadits diatas jelaslah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membolehkan kita menjama’ sholat karena adanya rasa berat yang menyusahkan (masyaqqoh) dan jelas sakit merupakan masyaqqah. Hal ini juga dikuatkan dengan menganalogikan orang sakit kepada orang yang terkena istihaadhoh yang diperintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengakhirkan sholat Zhuhur dan mempercepat Ashar dan mengakhirkan Maghrib dan mempercepat Isya’.
3.      Orang yang sakit tidak boleh meninggalkan sholat wajib dalam segala kondisinya selama akalnya masih baik.
4.      Orang sakit yang berat untuk mendatangi masjid berjama’ah atau akan menambah dan atau memperlambat kesembuhannya bila sholat berjamaah di masjid maka dibolehkan tidak sholat berjama’ah. Imam Ibnu al-Mundzir rahimahullahmenyatakan: Tidak diketahui adanya perbedaan pendapat diantara ulama bahwa orang sakit dibolehkan tidak sholat berjama’ah karena sakitnya. Hal itu karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sakit tidak hadir di Masjid dan berkata:
مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ
Perintahkan Abu Bakar agar mengimami sholat. (Muttafaqun ‘Alaihi)

b.      Tata cara sholat orang yang sakit
Tata cara shalat orang sakit dapat diringkas dalam keterangan berikut ini:
a.         Diwajibkan atas orang yang sakit untuk sholat berdiri apabila mampu dan tidak khawatir sakitnya bertambah parah, karena berdiri dalam sholat wajib adalah salah satu rukunnya. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:
وَقُومُواْ لِلّهِ قَانِتِينَ
“Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu.” (Qs. Al-Baqarah/2:238)
Diwajibkan juga orang yang mampu berdiri walaupun dengan menggunakan tongkat atau bersandar ke tembok atau berpegangan dengan tiang berdasarkan hadits Ummu Qais radhiallahu ‘anha yang berbunyi:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا أَسَنَّ وَحَمَلَ اللَّحْمَ اتَّخَذَ عَمُودًا فِي مُصَلَّاهُ يَعْتَمِدُ عَلَيْهِ
“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berusia lanjut dan lemah maka beliau memasang tiang di tempat sholatnya untuk menjadi sandaran. (HR Abu Daud dan dishahihkan al-Albani dalam Silsilah Ash-Shohihah 319)”
Demikian juga orang bongkok diwajibkan berdiri walaupun keadaannya seperti orang rukuk. Syeikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Diwajibkan berdiri atas seorang dalam segala caranya, walaupun menyerupai orang ruku’ atau bersandar kepada tongkat, tembok, tiang ataupun manusia.”
b.        Orang sakit yang mampu berdiri namun tidak mampu ruku’ atau sujud tetap tidak gugur kewajiban berdirinya. Ia harus sholat berdiri dan bila tidak bisa rukuk maka menunduk untuk rukuk Bila tidak mampu membongkokkan punggungnya sama sekali maka cukup dengan menundukkan lehernya, Kemudian duduk lalu menunduk untuk sujud dalam keadaan duduk dengan mendekatkan wajahnya ke tanah sedapat mungkin.
c.         Orang sakit yang tidak mampu berdiri maka melakukan sholat wajib dengan duduk, berdasarkan hadits ‘Imrân bin Hushain dan ijma’ para ulama. Ibnu Qudâmahrahimahullah menyatakan, “Para ulama telah ber-ijma’ (bersepakat) bahwa orang yang tidak mampu shalat berdiri maka dibolehkan shalat dengan duduk.”
d.        Orang sakit yang dikhawatirkan akan menambah parah sakitnya atau memperlambat kesembuhannya atau sangat susah berdiri, diperbolehkan shalat dengan duduk. Syeikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menyatakan, “Yang benar adalah kesulitan (masyaqqah) membolehkan sholat dengan duduk. Apabila seorang merasa susah shalat berdiri maka ia boleh shalat dengan duduk, berdasarkan firman Allah Ta’ala:
يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (Qs. Al-Baqarah/2:185)
.
Orang yang sakit apabila sholat dengan duduk sebaiknya duduk bersila pada posisi berdirinya berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha yang berbunyi:
رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مُتَرَبِّعًا
Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sholat dengan bersila.
Juga karena bersila secara umum lebih enak dan tuma’ninah (tenang) dari duduk iftirâsy.
Apabila rukuk maka rukuk dengan bersila dengan membungkukkan punggungnya dan meletakkan tangannya di lututnya, karena ruku’ berposisi berdiri.
Dalam keadaan demikian masih diwajibkan sujud diatas tanah dengan dasar keumuman hadits Ibnu Abas radhiallahu ‘anhuma yang berbunyi:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ الْجَبْهَةِ وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ وَالْيَدَيْنِ وَالرِّجْلَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ
“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku diperintahkan untuk bersujud dengan tujuh tulang; Dahi –dan beliau mengisyaratkan dengan tangannya ke hidung- kedua telapak tangan, dua kaki dan ujung kedua telapak kaki.”(Muttafaqun ‘Alaihi)”
Bila tidak mampu juga maka ia meletakkan kedua telapak tangannya ketanah dan menunduk untuk sujud. Bila juga tidak mampu maka hendaknya ia meletakkan tangannya dilututnya dan menundukkan kepalanya lebih rendah dari pada ketika ruku’.
e.             Orang sakit yang tidak mampu melakukan shalat berdiri dan duduk maka boleh melakukannya dengan berbaring miring, boleh dengan miring ke kanan atau ke kiri dengan menghadapkan wajahnya ke arah kiblat. Hal ini dilakukan dengan dasar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ‘Imrân bin al-Hushain:
صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ
Sholatlah dengan berdiri, apabila tidak mampu maka duduklah dan bila tidak mampu juga maka berbaringlah. (HR al-Bukhari no. 1117)

Dalam hadits ini nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjelaskan sisi mana ke kanan atau ke kiri sehingga yang utama adalah yang termudah dari keduanya. Apabila miring ke kanan lebih mudah maka itu yang lebih utama dan bila miring ke kiri itu yang termudah maka itu yang lebih utama. Namun bila kedua-duanya sama mudahnya maka miring ke kanan lebih utama dengan dasar keumuman hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anhayang berbunyi:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ التَّيَمُّنَ فِي شَأْنِهِ كُلِّهِ فِي نَعْلَيْهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ
“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam suka mendahulukan sebelah kanan dalam seluruh urusannya, dalam memakai sandal, menyisir dan bersucinya. (HR Muslim no 396).”

Kemudian melakukan ruku’ dan sujud dengan isyarat menundukkan kepala ke dada dengan ketentuan sujud lebih rendah dari ruku’. Apabila tidak mampu menggerakkan kepalanya maka para ulama berbeda pendapat dalam tiga pendapat:
1.      Melakukannya dengan mata. Sehingga apabila ruku’ maka ia memejamkan matanya sedikit kemudian mengucapkan kata سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ lalu membuka matanya. Apabila sujud maka memejamkan matanya lebih dalam.
2.      Gugur semua gerakan namun masih melakukan sholat dengan perkataan.
3.      Gugur kewajiban sholatnya dan inilah pendapat yang dirojihkan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah.
Syeikh Ibnu Utsaimin merojihkan pendapat kedua dengan menyatakan, “Yang rojih dari tiga pendapat tersebut adalah gugurnya perbuatan saja, karena ini saja yang tidak mampu dilakukan. Sedangkan perkataan maka ia tidak gugur karena ia mampu melakukannya dan Allah berfirman:
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu. (Qs. At-Taghaabun/64:16)”
f.         Orang sakit yang tidak mampu berbaring miring, maka boleh melakukan shalat dengan terlentang dan menghadapkan kakinya ke arah kiblat karena hal ini lebih dekat kepada cara berdiri. Misalnya bila kiblatnya arah barat maka letak kepalanya di sebelah timur dan kakinya di arah barat.
g.        Apabila tidak mampu menghadap kiblat dan tidak ada yang mengarahkannya atau membantu mengarahkannya ke kiblat, maka shalat sesuai keadaannya tersebut, berdasarkan firman Allah Ta’ala:
لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْساً إِلاَّ وُسْعَهَا
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (Qs. Al-Baqarah/2:286)
h.        Orang sakit yang tidak mampu shalat dengan terlentang maka shalat sesuai keadaannya dengan dasar firman Allah Ta’ala:
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu. (Qs. At-Taghaabun/64:16)
i.          Orang yang sakit dan tidak mampu melakukan seluruh keadaan di atas. Ia tidak mampu menggerakkan anggota tubuhnya dan tidak mampu juga dengan matanya, maka ia sholat dengan hatinya. Shalat tetap diwajibkan selama akal seorang masih sehat.
j.          Apabila orang sakit mampu di tengah-tengah shalat melakukan perbuatan yang sebelumnya ia tidak mampu, baik keadaan berdiri, ruku’ atau sujud, maka ia melaksanakan sholatnya dengan yang ia telah mampui dan menyempurnakan yang tersisa. Ia tidak perlu mengulang yang telah lalu karena yang telah lalu dari sholat tersebut telah sah.
k.        Apabila orang sakit tidak mampu sujud di atas tanah, maka ia menundukkan kepalanya untuk sujud di udara dan tidak mengambil sesuatu sebagai alas sujud. Hal ini didasarkan kepada hadits Jâbir yang berbunyi:
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم عَادَ مَرِيْضًا فَرَآهُ يُصَلِّي عَلَى وِسَادَةٍ فَأَخَذَهَا فَرَمَى بِهَا، فَأَخَذَ عُوْدًا لِيُصَلِّي عَلَيْهِ فَأَخَذَهُ فَرَمَى بِهِ، قَالَ: صَلِّ عَلَى الأَرْضِ إِنِ اسْتَطَعْتَ وَإِلاَّ فَأَوْمِ إِيْمَاءً وَاجْعَلْ سُجُوْدَكَ أَخْفَضَ مِنْ رُكُوْعِكَ
Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk orang sakit lalu melihatnya sholat di atas (bertelekan) bantal, lalu beliau mengambilnya dan melemparnya. Lalu ia mengambil kayu untuk dijadikan alas sholatnya, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambilnya dan melemparnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sholatlah di atas tanah apabila ia mampu dan bila tidak maka dengan isyarat dengan menunduk (al-Imâ’) dan menjadikan sujudnya lebih rendah dari ruku’nya.”[7]
IV.             PENUTUP
A.    Kesimpulan
Shalat jum’at adalah shalat wajib 2 rakaat yang dilakukan pada waktu dzuhur sesudah dua khuthbah orang yang sudah melaksanakan sholat Jum’at, Shalat Jum’at hukumnya fardhu ‘ain bagi setiap muslim yang mukallaf, laki-laki, merdeka, sehat, dan bukan musafir serta dikerjakan secara berjama’ah.
Shalat merupakan kewajiban seorang muslim dalam kondisi bagaimanapun selama akalnya masih berfungsi. Jika seseorang mengalami sakit dan dia mampu shalat dalam keadaan berdiri, maka dia harus shalat dalam keadaan berdiri, jika tidak mampu dia shalat dalam keadaan duduk, dan jika tidak mampu, dia shalat dalam keadaan berbaring, jika tidak mampu berbaring, maka dia shalat dalam keadaan terlentang.
B.     Kata Penutup
Demikianlah makalah ini kami buat, semoga bermanfaat kepada pembaca dan dapat memberikan pemahaman kepada pemakalah. Sekian dari kami, apabila ada kesalahan atau kekurangan dalam hal penulisan makalah ini, kritik serta saran yang membangun sangat kami butuhkan dari anda. Dari kami, selaku pemakalah meminta maaf yang sebesar-besarnya dan atas perhatian saudara kami ucapkan terimakasih.





DAFTAR PUSTAKA

Asyhadi, Muhammad Sokhi, Fikih Ibadah Versi Syafi’i, Grobogan: Pondok Pesantren Fadllul Wahid, 1432 H
Mughniyah, Muhammad Jawal, Fiqh Lima Madzhab, Jakarta: Penerbit Lentera, 2007
Rifa’i, Moh, Risalah Tuntunan Shalat Lengkap, Semarang:  CV. TOHA PUTRA, 1976
Rifa’i, Moh. Zuhri, Moh. Salomo, Terjemahan Khulashah Kifayatul Akhyar, Semarang: CV. TOHA PUTRA, 1993



[1] Muhammad Jawab Mughniyah, Fiqh lima Madzhab, (Jakarta: PENERBIT LENTERA, 2007). Hlm 122
[2] Mohammad Rifa’i, Risalah Tuntunan Shalat Lengkap, (Semarang: CV. TOHA PUTRA, 1976). Hlm 61
[4] Mohammad Rifa’i, Risalah Tuntunan Shalat Lengkap,  Hlm 62-63
[5] Muhammad Jawab Mughniyah, Hlm 123
[6] Muhammad Sokhi Asyhadi, Fiqh Ibadah Versi Madzhab syafi’i, (Grobogan: Pondok Pesantren Fadllul Wahid, 1432 H). Hal. 164

0 komentar :

Posting Komentar