PEMIKIRAN PENDIDIKAN IBNU MISKAWAIH
PEMIKIRAN PENDIDIKAN
IBNU MISKAWAIH
Makalah
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Filsafat Pendidikan Islam
Dosen Pengampu : Dr. Mahfud Junaedi, M. Ag
Disusun Oleh :
|
Bryan
Adam Pratama
|
:
|
1403036076
|
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015
I.
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan salah satu aspek yang sangat
penting untuk membentuk generasi yang siap mengganti tongkat estafet generasi
tua dalam rangka membangun masa depan. Karena itu pendidikan berperan
menyosialisasikan kemampuan baru kepada mereka agar mampu mengantisipasi
tuntutan masyarakat dinamis.
Dalam dunia filsafat islam banyak nama tokoh-tokoh
yang terkenal salah satu diantaranya adalah Ibnu Miskawaih. Membahas pemikiran
seorang Ibnu Miskawaih merupakan hal yang menarik dalam disepanjang khazanah
intelektual.
Dalam makalah ini akan membahas tentang pemikiran
pendidikan seorang Ibnu Miskawaih. Yang salah satu diantaranya dari pemikiran
Ibnu Miskawaih tentang pendidikan lebih mengarah ke aspek etika dalam
pendidikan.
Diharapkan dengan adanya makalah ini kita dapat
memahami lebih tentang pendidikan etika islam menurut pemikiran Ibnu Miskawaih.
Selain dari itu kita juga dapat lebih memahami tentang biografi ataupun
karya-karya dari Ibnu Miskawaih.[1]
II. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana
biografi Ibnu Miskawaih?
2. Apa
saja karya-karya Ibnu Miskawaih?
3. Bagaimana
pemikiran Ibnu Miskawaih tentang Pendidikan Islam?
III. PEMBAHASAN
A. Biografi
Ibnu Miskawaih
Ibnu Miskawaih adalah seorang filusuf muslim yang
paling banyak mengkaji dan mengungkapkan persoalan-persoalan akhlak. Nama
lengkap beliau adalah Abu Ali al-Khazin Ahmad Ibn Muhammad Ibnu Ya’qub Ibn
Miskawaih. Dilahirkan tahun 320 H/932 M., dan wafat tahun 412 H/1030 M.[2]
Kemudian dikenal sebagai Ibnu/Ibn Miskawaih atau
Ibnu/Ibn Masakawaih. Nama itu didapatkan dari kakeknya yang semula beragama
Majusi (persia) kemudian masuk Islam. Gelarnya adalah Abu Ali yang diperoleh
dari sahabat Ali, yang bagi kaum Syi’ah dipandang sebagai yang berhak
menggantikan Nabi dalam kedudukan sebagai seorang pemimpin umat sepeninggal
beliau. Dari gelar tersebut tidaklah hern bahwa sebagian orang menganggapnya
sebagi seorang yang beraliran Syi’ah. Gelar yang lain adalah al-Khazin, yang
berarti bendaharawan, disebabkan pada masa kekuasaan Adid al-Daulah dari Bani
Buwaih ia memperoleh kepercayaan sebagai seorang bendahara.[3]
Aktivitas intelektual Ibnu Miskawaih Dimulai dengan
belajar sejarah kepada Abu Bakr Ahmad Ibn Kamil al-Qadhi. Selanjutnya ia
belajar filsafat kepada Ibn al-Khammar, seorang komentator atas karya-karya
Aristoteles. Disamping itu, ia juga belajar kimia dari Abi al-Tayyibah al-Razi,
seorang ahli kimia terkenal di zamannya. Karena keahliannya dalam berbagai
ilmu, iqbal mengelempokannya sebagai seorang pemikir, moralis dan sejarawan.[4]
Ibnu Miskawaih adalah seorang ahli sejarah yang
pemikirannya sangat cemerlang, dialah ilmuan Islam yang paling terkenal dan
pertama kali menulis filsafat akhlaq. Dia juga sangat memahami model
administrasi dan strategi peperangan. Oleh karena itu, dalam sejarah, ia
tercatat sebangai sekretaris Amirul-Umarak Adhud-Daulah (949-982 M) dari daulat
Buwahi di Baghdad, merangkap kepala
perpustakaan Bait al-Hikmah.[5]
Sebagai seorang yang sangat memahami filsafat
akhlak, menurut Ahmad Amin, semua karya Ibnu Miskawaih tidak luput dari
kepentingan filsafat akhlaq. Sehubungan dengan itu, tidak heran jika Ibnu
Miskawaih selanjutnya dikenal sebagai moralis. Abu Manshur al-Tsalabi (421 M)
menerangkan bahwa Ibnu Miskawaih adalah pribadi mulia yang penuh keutamaan,
halus budi, ahli sastra, alhi balaghah, ulet dan sebagai penyair.[6]
Sebagai seorang filusuf akhlaq, pemikiran Ibnu
Miskawaih dalam pendidikan tidak bisa dilepaskan dari konsepnya tentang manusia
dan akhlaq. Maka, jika berbicara mengenai pemikiran Ibnu Miskawaih tentang
pendidikan mari terlebih dahulu apa dasar pemikiran beliau yang terkait dengan
tingkatan daya dan akhlaq.[7]
B. Karya-karya
Ibnu Miskawaih
Ibn Miskawaiah selain dikenal sebagai pemikir (filosuf), ia juga sebagai
penulis produktif. Dalam buku The History of the Muslim
Philosophy seperti yang dikutip oleh Sirajuddin Zar disebutkan beberapa tulisannya sebagai berikut:
1.
Al Fauz al Akbar kitab
tentang etika.
2.
Al Fauz al Asghar kitab
tentang ketuhanan, jiwa, dan kenabian (metafisika)
3.
Tajarib al Umam kitab
tentang sejarah yang berisi peristiwa-peristiwa sejak setelah air bah Nabi Nuh
hingga tahun 369 H.
4.
Uns al Farid kitab tentang koleksi anekdot, syair, pribahasa, dan kata-kata hikmah
5.
Tartib al Sa`adat kitab tentang akhlak dan
politik,
terutama mengenai pemerintah Bani Abbas dan Bani Buwaih.
6.
Al Mustaufa kitab tentang syair-syair pilihan
7.
Jawidan Khirad koleksi ungkapan
bijak
8.
Al Jami` kitab
tentang ketabiban
9.
Al Siyab
10. Kitab al Ashribah kitab
tentang minuman
11. Tahzib al Aklaq
12. Risalat fi al Lazzat wa al Alam
fi Jauhar al Nafs
13. Ajwibat wa As`ilat fi al Nafs
wa al `Alaq
C. Pemikiran
Ibnu Miskawaih tentang konsep Pendidikan
1. Tingkatan
Potensi Manusia
Pandangan Ibnu
Miskawaih terhadap manusia tidak jauh berbeda dengan pandangan filosof lainnya.
Menurutnya, di dalam diri manusia terdapat 3 macam daya atau potensi,
diantarannya:
a. Potensi
Bernafsu (al-nafs al-bahimiyyat)
b. Potensi
Berani (al-nasf al-sabu’iyat)
c. Potensi
Berpikir (al-nafs al-nathiqah)[9]
Ketiga daya tersebut merupakan unsur rohani manusia,
yang asal kejadiannya berbeda dengan satu dan yang lainnya. Sebagaimana yang
dikutip oleh Abudin Nata (2007:7) Ibnu Miskawaih dalam bukunya Tahzib
al-Alkhlaq wa Tathhir al-A’raq, memahami bahwa unsur rohani berupa daya
bernafsu dan daya berani berasal dari unsur materi, sedangkan daya berpikir
berasal dari ruh Tuhan tidak akan mengalami kehancuran.[10]
Lebih
lanjut Ibnu Miskawaih mengatakan bahwa hubungan jiwa al-nafs al-bahimiyyat
(bernafsu) dan jiwa al-nasf al-sabu’iyat (berani) dengan jasad , pada
hakekatnya saling memengaruhi. Kuat atau lemahnya, sehat atau sakitnya kedua
macam jiwa tersebut. Kedua macam jiwa ini dalam melaksanakan fungsinya tidak
akan sempurna, kalau tidak menggunakan alat bendawi atau badani yang terdapat
dalam tubuh manusia. Oleh karena itu, Ibnu Miskawaih melihat bahwa manusia
terdiri dari unsur jasad dan rohani yang saling berhubungan.[11]
2. Tentang
Akhlaq
Pemikiran
Ibnu Miskawaih dalam bidang akhlaq memiliki keunikan-keunikan dan ciri khas
tersendiri. Pemikiran akhlaq beliau banyak dipengaruhi para filosof Yunani,
seperti Aristoteles, Plato, dan Galen, yakni dengan cara meramu
pemikiran-pemikiran tersebut dengan ajaran Islam. Selain dipengaruhi oleh
filosof Yunani, ibnu miskawaih juga banyak dipengaruhi oleh filosof Muslim
seperti: Al-Khindi, Al-Farabi, dan Al-Razi serta filosof yang lainnya. Oleh karena
itu, corak pemikiran ibnu miskawaih dapat dikategorikan sebagai pemikiran yang
bersifat tipologi etika filosofi (etika rasional), yaitu pemikiran etika yang
banyak dipengaruhi oleh para filosof, terutama para filosof Yunani.[12]
Karakteristik
pemikiran Ibnu Miskawaih dalam pendidikan akhlaq secara umum dimulai dengan
pembahasan tentang akhlaq, atau dalam artian watak/karaker. Menurutnya, watak
itu ada yang bersifat alami dan ada watak yang diperoleh melalui kebiasaan atau
latihan. Kedua watak ini pada hakikatnya tidak alami, walaupun kita diciptakan
dengan menerima watak, akan tetapi watak tyersebut dapat diusahalan melalui
pendidikan dan pengajaran.[13]
Dalam
pembahasan tentang watak tersebutt, ibnu miskawaih tidak mengambil diskursus
dari Al Qur’an atau Sunnah Nabi. Karena menurutnya, akhlaq dalam Islam dibangun
dengan fondasi kebaikan atau keburukan. Kebaikan dan keburukan tadi berada pada
fitrah, sehingga segala sesuatu yang dianggap baik oleh fitrah dan akal yang
lurus, ia termasuk bagian dari akhlaq yang baik, dan sebaliknya yang dianggap
jelek, ia termasuk akhlaq yang buruk.[14]
Adapun
pemikiran ibnu miskawaih tentang konsep pendidikan akhlaq sebagaimana
dijelaskan oleh abudin nata dalam salah satu tulisannya, adalah sebagai
berikut:
1. Tujuan
Pendidikan Akhlaq
Ibnu Miskawaih mengatakan bahwa
tujuan pendidikan akhlaq adalah terwujudnya sikap bathin, yang mampu mendorong
secara spontan untuk melahirkan semua perbuatan yang bernilai baik, sehingga
mencapai kesempurnaan dan memperoleh kebahagiaan (al-Sa’adat) yang sejati
dan sempurna. Bahwa persoalan al-sa’adat merupakan persoalan utama dan mendasar
bagi kehidupan manusia, dan sekaligus bagi pendidikan akhlaq. Menurut M. Abdul
Hak Ansari, al-sa’adat merupakan konsep komperhensif yang di dalamnya
terkandung unsur kebahagiaan (happiness), kemakmuran (prosperity),
keberhasilan (success), kesempurnaan (perfection), kesenangan (blessedness)
dan kecantikan (beautitude).[15]
Konsep pendidikan menurut ibnu
miskawaih, sebagaimana yang tercermin dalam awal kalimat kitabnya Tahdzib
al-Akhlaq ialah terwujudnya pribadi susila. Berwatak, yang lahir dari
perilaku-perilaku luhur (budi pekerti). Dari sanalah lahir perilaku yang mulia.
Dan untuk meraihnya diperlukan jalur pendidikan.[16]
Dasar pendidikan, menurutnya
pendidikan didasarkan pada syari’at agama dan pengetahuan psikologi. Karena
keduanya saling berkaitan dalam rangka membentuk kepribadian atau karakter yang
terbiasa untuk melakukan perbuatan yang terpuji. Disampiing itu, beliau juga
mencoba untuk memadukan antara agama dan filsafat. Yaitu pemikiran yang diambul
dari dasar Al Qur’an dan al-Hadis kemudian dipadukan dengan pemikiran yang
diambilnya dari filsafat Yunani, sehingga terlihat kerhamoniasaan keduannya.[17]
Materi pendidikan, menurut ibnu
miskawaih adalah hal-hal yang wajib bagi kebutuhan jasmani untuk membentuk
akhlaq yang mulia yaitu materi yang berkaitan dengan ibadah fisik, seperti:
yang tersebutkan dalam rukun islam. Hal-hal yang wajib bagi jiwa yaitu aqidah
yang benar. Dan hal-hal yang berhubungan dengan sesama manusia seperti: ilmu
mu’amalat, pertanian, perkawinan, peperangan, kedokteran dan sebagainya.[18]
2. Pendidik
dan anak didik
Pendidik bagi Ibnu Miskawaih adalah
siapa saja yang melakukan usaha pendidikan, meliputi: orang tua, pemuka
masyarakat, guru atau filosof. Ibnu Miskawaih juga memberikan kedudukan
istimewa kepada guru atau filosof. Karena guru/filosof adalah penyebab
eksistensi manusia.[19]
Menurut Ibnu Miskawaih, pendidik
mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk meluruskan peserta didik melalui ilmu
rasional, agar mereka dapat mencapai kebahagiaan intelektual dan mengarahkan
peserta didik pada disiplin-disiplin praktis serta aktivis intelektual, agar
dapat mencapai kebahagiaan praktis. Dari pernyataan tersebut dapat diketahui
bahwa pandangan Ibnu Miskawaih tentang pendidik sesuai dengan pandangannya
tentang daya jiwa yang ada dalam diri manusia, sehingga filsafat Ibnu Miskawaih
dapat di kategorikan pada filsafat etika praktis dan teoritis.[20]
Subyek didik menurut ibnu miskawaih
adalah semua orang yang memperoleh atau memerlukan bimbingan dari orang lain.[21]
3. Tentang
Metode Pendidikan Akhlaq
Menurut Ibnu Miskawaih, dalam upaya
mencapai akhlaq yang baik, maka seorang pendidika perlu melakukan dua hal
berikut ini: pertama, kemauan yang sungguh-sungguh. Adanya kemauan yang
sungguh-sungguh untuk berlatih secara terus-menerus, menahan diri (al-‘adat
wa al-jihad) untuk memperoleh keutamaan dan kesopanan yang sebenarnya
adalah sesuai dengan keutamaan jiwa. Latihan ini bertujuan untuk menahan
kemauan jiwa al-syahwaniyyah dan al-ghadabiyyat. Latihan yang
dilakukan antara lain adalah menahan untuk tidak makan dan minum secara
berlebihan.; kedua, menjadikan pengetahuan pengalaman orang lain sebagai
cermin bagi dirinya. Denga cara ini seseorang tidak akan hanyut kepada
perbuatan yang tidak baik, karena ia bercermin kepada perbuatan buruk dan
akibat buruk yang dialami orang lain.[22]
Sebagai contoh, pencuri yang ketahuan oleh warga. Kemudian pencuri tersebut di
bawa ke pihak yang berwenang. Dengan kejadian atau pengalaman yang didapat oleh
pencuri tersebut, maka kita akan dapat merefleksikan jika pencuri itu adalah
kita. Maka kita akan berpikir jauh kedepan apakah kita akan meniru perbuatan
tersebut.
4. Tentang
materi pendidikan akhlaq
Ibnu Miskawaih mencoba untuk
mengklasifikasikan materi pendidikan akhlaq kedalam 3 klasifikasi, yaitu:
a. Hal-hal
yang wajib bagi kebutuhan manusia
b. Hal-hal
yang wajib bagi kebutuhan jiwa manusia
c. Hal-hal
yang wajib bagi hubungannya dengan sesama manusia[23]
Pembagian
ini tidak terlepas dari pembagian daya jiwa manusia. Dari ketiga pokok materi
tersebut akan diperoleh ilmu yang secara garis besar dapat dikelompokan menjadi
dua, yaitu:
a. Ilmu-ilmu
tentang pemikiran (al-‘ulum al-fikriyah).
b. Ilmu-ilmu
yang berkaitan tentang indera (al-‘ulum al hissiyat).[24]
Sesungguhnya,
materi pendidikan yang dikemukakan oleh Ibnu Miskawaih ini dipengaruhi oleh
pajam ontologism agama yang ada pada dirinya, disamping keadaan situasi
dimasa itu dan keadaan politik yang terjadi, Ibnu Miskawaih memang tidak
merinci satu demi satu materi pendidikan, tetapi ia hanya menawarkan yang umum
agar bisa berlaku dan relevan untuk masa yang selanjutnya.[25]
5. Tentang
lingkungan pendidikan
Ibn Miskawaih berpendapat bahwa,
usaha mencapai al-sa’adat tidak dapat dilakukan sendiri, tetapi harus bersama
atas dasar saling tolong-menolong dan saling melengkapi, kondisi
demikian akan tercipta kalau sesama manusia saling mencintai. Setiap pribadi
merasa bahwa kesempurnaan sendirinya akan terwujud karena kesempurnaan yang
lainnya. Jika tidak demikian, maka al-sa’adat tidak dapat terwujud sebagai
makhluk sosial. Ibn Miskawaih berpendapat bahwa selama di alam ini, manusia
memerlukan kondisi yang baik di luar dirinya. Ia juga menyatakan bahwa
sebaik-baik orang adalah orang yang berbuat baik terhadap keluarganya dan
orang-orang yang masih ada kaitan dengannya, mulai dari saudara, anak, kerabat,
keturunan, rekanan, tetangga, hingga teman. Disamping
itu, Ibn Miskawaih berpendapat bahwa salah satu tabi’at manusia
adalah tabi’at memelihara diri, karena itu manusia selalu berusaha
untuk memperolehnya bersama dengan mahluk sejenisnya. Diantara
cara untuk menempuhnya adalah dengan saling bertemu, manfaat dari pertemuan
diantaranya adalah akan memperkuat aqidah yang benar dan kestabilan cinta
sesamanya.[26]
6. Tentang
konsep pembelajaran
Menurut Ibnu Miskawaih, suatu
pembelajaran tidak akan berjalan jalam jalannya yang benar kecuali
memperhatikan prinsip dasar, yaitu; pertama, memperhatikan persiapan,
perbedaan individu yang berbeda diantara para individu manusia. Kedua, menjaga
keseimbangan perikalu siswa dalam aturan yang bersifat khusus, yang disesuaikan
dengan perkembangan anakm baik dari segi psikis maupun fisiknya.[27]
Sebagaimana
yang tercermin dalam awal kalimat kitabnya Tahdzib al-Akhlaq ialah
terwujudnya pribadi susila. Berwatak, yang lahir dari perilaku-perilaku luhur
(berbudi pekerti). Dari sanalah lahir perilaku-perilaku mulia. Dan untuk
memperolehnya melalui jalur pendidikan.[28]
Dengan demikian bahwa konsep pembelajaran didasarkan pada watak yang berbudi
pekerti.
IV. PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Nama
lengkap Ibnu Miskawaih adalah Abû Ali Ahmad bin Muhammad bin Ya’qûb Miskawaih.
2. Ia lahir di Rayy
di dekat kota Teheran pada tahun 320 H / 932 M.
3. Gelarnya adalah
Abu 'Ali, yang diperoleh dari nama sahabat 'Ali. Gelar lain yang sering
disebutkan yaitu al-Khazin, yang berarti bendaharawan
4. Ibnu Miskawaih
Seorang filosof yang sempat menegaskan teori evolusi. Sebelum Darwin dinobatkan
sebagai pelopor teori ini, Ibnu Miskawaih telah menyatakan bahwa kecerdikan
manusia itu tidak lebih unggul dari seekor kera.
5. Pada tahun 367 H–372
H., Ibnu Miskawaih diangkat sebagai bendaharawan ‘Adhul al-Daulah.
6. Pada masa ini
pula Ibnu Miskawaih memunculkan dirinya sebagai seorang filosof, tabib,
ilmuwan, dan pujangga.
7. Ibnu Miskawaih
wafat pada 9 Shafar 421 H/ 16 Februari 1030 M.
8. Karya-karya
beliau
a.
Al Fauz al Akbar kitab
tentang etika.
b.
Al Fauz al Asghar kitab
tentang ketuhanan, jiwa, dan kenabian (metafisika)
c.
Tajarib al Umam kitab
tentang sejarah yang berisi peristiwa-peristiwa sejak setelah air bah Nabi Nuh
hingga tahun 369 H.
d.
Uns al Farid kitab tentang koleksi anekdot, syair, pribahasa, dan kata-kata hikmah
e.
Tartib al Sa`adat kitab tentang akhlak dan
politik,
terutama mengenai pemerintah Bani Abbas dan Bani Buwaih.
f.
Al Mustaufa kitab tentang syair-syair pilihan
g.
Jawidan Khirad koleksi ungkapan bijak
h.
Al Jami` kitab
tentang ketabiban
i.
Al Siyab
j.
Kitab al Ashribah kitab tentang minuman
k.
Tahzib al Aklaq
l.
Risalat fi al Lazzat wa al Alam fi Jauhar al Nafs
m.
Ajwibat wa As`ilat fi al Nafs wa al `Alaq
n. Thaharat al Nafs dan lain-lain
9. Konsep
Pendidikan
a. Tujuan
pendidikan akhlaq
b. Anak
didik dan peserta didik
c. Metode
pendidikan aklaq
d. Materi
pendidikan akhlaq
e. Lingkungan
pendidikan akhlaq
f. Konsep
pembelajaran
B. Kalimat
Penutup
Demikianlah makalah ini kami buat, semoga bermanfaat
kepada pembaca dan dapat memberikan pemahaman kepada pemakalah.
Sekian dari kami, apabila ada kesalahan atau
kekurangan dalam hal penulisan makalah ini, kritik serta saran yang membangun
sangat kami butuhkan dari anda. Dari kami, selaku pemakalah meminta maaf yang
sebesar-besarnya dan atas perhatian saudara kami ucapkan terimakasih.
DAFTAR PUSTAKA
Gunawan,
Heri. Pendidikan Islam; Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2014
Maftukhin. Filsafat
Islam. Tulungagung: Penerbit Mizan. 2012
Syar’i, Ahmad. Filsafat
Pendidikan Islam. Jakarta: Penerbit Pustaka Firdaus. 2005
Sirajudin Zar. Filsafat Islam.
Jakarta: RagaGrafindo Persada. 2014
http://serewax.blogspot.com/2013/04/pemikiran-pendidikan-islam-ibnu.html
diakses tanggal 02/06/2015
[1] http://serewax.blogspot.com/2013/04/pemikiran-pendidikan-islam-ibnu.html diakses tanggal 02/06/2015
[2]
Heri Gunawan, Pendidikan
Islam; Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2014), Hlm. 308
[3] Maftukhin, Filsafat Islam,
(Tulungagung: Penerbit Mizan, 2012), Hlm. 116
[4]
Heri Gunawan, Pendidikan
Islam; Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, Hlm. 308
[5]
Heri Gunawan, Pendidikan
Islam; Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, Hlm. 308
[6]
Heri Gunawan, Pendidikan
Islam; Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, Hlm. 308
[7] Heri Gunawan, Pendidikan
Islam; Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, Hlm. 309
[8] Zar Sirajudin, Filsafat
Islam, (Jakarta: RagaGrafindo Persada, 2014), Hlm. 128-129
[9]
Heri Gunawan, Pendidikan
Islam; Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, Hlm. 309
[10]
Heri Gunawan, Pendidikan
Islam; Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, Hlm. 309
[11]
Heri Gunawan, Pendidikan
Islam; Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, Hlm. 309
[12]
Heri Gunawan, Pendidikan
Islam; Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, Hlm. 310
[13]
Heri Gunawan, Pendidikan
Islam; Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, Hlm. 310
[14] Heri Gunawan, Pendidikan
Islam; Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, Hlm. 310
[15] Heri Gunawan, Pendidikan
Islam; Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, Hlm. 311
[16]
Ahmad Syar’i, Filsafat
Pendidikan Islam, (Jakarta: Penerbit Pustaka Firdaus, 2005), Hlm. 93
[17] Ahmad Syar’i, Filsafat
Pendidikan Islam, Hlm. 94
[18] Ahmad Syar’i, Filsafat
Pendidikan Islam, Hlm. 94
[19] Ahmad Syar’i, Filsafat
Pendidikan Islam, Hlm. 95
[20] Heri Gunawan, Pendidikan
Islam; Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, Hlm. 311
[21] Ahmad Syar’i, Filsafat
Pendidikan Islam, Hlm. 95-96
[22] Heri Gunawan, Pendidikan Islam;
Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, Hlm. 312
[23]
Heri Gunawan, Pendidikan
Islam; Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, Hlm. 312
[24]
Heri Gunawan, Pendidikan
Islam; Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, Hlm. 313
[25] Ahmad Syar’i, Filsafat
Pendidikan Islam, Hlm. 94
[26]
Heri Gunawan, Pendidikan
Islam; Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, Hlm. 313
[27]
Heri Gunawan, Pendidikan
Islam; Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, Hlm. 313
[28] Ahmad Syar’i, Filsafat
Pendidikan Islam, Hlm.93


0 komentar :
Posting Komentar