PEMIKIRAN PENDIDIKAN IBNU MISKAWAIH

Sabtu, 19 Desember 2015

PEMIKIRAN PENDIDIKAN IBNU MISKAWAIH




PEMIKIRAN PENDIDIKAN IBNU MISKAWAIH
Makalah
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Filsafat Pendidikan Islam
Dosen Pengampu : Dr. Mahfud Junaedi, M. Ag





Disusun Oleh :

Bryan Adam Pratama
:
1403036076




FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015


I.         PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan salah satu aspek yang sangat penting untuk membentuk generasi yang siap mengganti tongkat estafet generasi tua dalam rangka membangun masa depan. Karena itu pendidikan berperan menyosialisasikan kemampuan baru kepada mereka agar mampu mengantisipasi tuntutan masyarakat dinamis.
Dalam dunia filsafat islam banyak nama tokoh-tokoh yang terkenal salah satu diantaranya adalah Ibnu Miskawaih. Membahas pemikiran seorang Ibnu Miskawaih merupakan hal yang menarik dalam disepanjang khazanah intelektual.
Dalam makalah ini akan membahas tentang pemikiran pendidikan seorang Ibnu Miskawaih. Yang salah satu diantaranya dari pemikiran Ibnu Miskawaih tentang pendidikan lebih mengarah ke aspek etika dalam pendidikan.
Diharapkan dengan adanya makalah ini kita dapat memahami lebih tentang pendidikan etika islam menurut pemikiran Ibnu Miskawaih. Selain dari itu kita juga dapat lebih memahami tentang biografi ataupun karya-karya dari Ibnu Miskawaih.[1]
II.      RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana biografi Ibnu Miskawaih?
2.      Apa saja karya-karya Ibnu Miskawaih?
3.      Bagaimana pemikiran Ibnu Miskawaih tentang Pendidikan Islam?
III.   PEMBAHASAN
A.    Biografi Ibnu Miskawaih
Ibnu Miskawaih adalah seorang filusuf muslim yang paling banyak mengkaji dan mengungkapkan persoalan-persoalan akhlak. Nama lengkap beliau adalah Abu Ali al-Khazin Ahmad Ibn Muhammad Ibnu Ya’qub Ibn Miskawaih. Dilahirkan tahun 320 H/932 M., dan wafat tahun 412 H/1030 M.[2]
Kemudian dikenal sebagai Ibnu/Ibn Miskawaih atau Ibnu/Ibn Masakawaih. Nama itu didapatkan dari kakeknya yang semula beragama Majusi (persia) kemudian masuk Islam. Gelarnya adalah Abu Ali yang diperoleh dari sahabat Ali, yang bagi kaum Syi’ah dipandang sebagai yang berhak menggantikan Nabi dalam kedudukan sebagai seorang pemimpin umat sepeninggal beliau. Dari gelar tersebut tidaklah hern bahwa sebagian orang menganggapnya sebagi seorang yang beraliran Syi’ah. Gelar yang lain adalah al-Khazin, yang berarti bendaharawan, disebabkan pada masa kekuasaan Adid al-Daulah dari Bani Buwaih ia memperoleh kepercayaan sebagai seorang bendahara.[3]
Aktivitas intelektual Ibnu Miskawaih Dimulai dengan belajar sejarah kepada Abu Bakr Ahmad Ibn Kamil al-Qadhi. Selanjutnya ia belajar filsafat kepada Ibn al-Khammar, seorang komentator atas karya-karya Aristoteles. Disamping itu, ia juga belajar kimia dari Abi al-Tayyibah al-Razi, seorang ahli kimia terkenal di zamannya. Karena keahliannya dalam berbagai ilmu, iqbal mengelempokannya sebagai seorang pemikir, moralis dan sejarawan.[4]
Ibnu Miskawaih adalah seorang ahli sejarah yang pemikirannya sangat cemerlang, dialah ilmuan Islam yang paling terkenal dan pertama kali menulis filsafat akhlaq. Dia juga sangat memahami model administrasi dan strategi peperangan. Oleh karena itu, dalam sejarah, ia tercatat sebangai sekretaris Amirul-Umarak Adhud-Daulah (949-982 M) dari daulat Buwahi di Baghdad, merangkap  kepala perpustakaan Bait al-Hikmah.[5]
Sebagai seorang yang sangat memahami filsafat akhlak, menurut Ahmad Amin, semua karya Ibnu Miskawaih tidak luput dari kepentingan filsafat akhlaq. Sehubungan dengan itu, tidak heran jika Ibnu Miskawaih selanjutnya dikenal sebagai moralis. Abu Manshur al-Tsalabi (421 M) menerangkan bahwa Ibnu Miskawaih adalah pribadi mulia yang penuh keutamaan, halus budi, ahli sastra, alhi balaghah, ulet dan sebagai penyair.[6]
Sebagai seorang filusuf akhlaq, pemikiran Ibnu Miskawaih dalam pendidikan tidak bisa dilepaskan dari konsepnya tentang manusia dan akhlaq. Maka, jika berbicara mengenai pemikiran Ibnu Miskawaih tentang pendidikan mari terlebih dahulu apa dasar pemikiran beliau yang terkait dengan tingkatan daya dan akhlaq.[7]
B.     Karya-karya Ibnu Miskawaih
Ibn Miskawaiah selain dikenal sebagai pemikir (filosuf), ia juga sebagai penulis produktif. Dalam buku The History of the Muslim Philosophy seperti yang dikutip oleh Sirajuddin Zar disebutkan beberapa tulisannya sebagai berikut:
1.      Al Fauz al Akbar kitab tentang etika.
2.      Al Fauz al Asghar kitab tentang ketuhanan, jiwa, dan kenabian (metafisika)
3.      Tajarib al Umam kitab tentang sejarah yang berisi peristiwa-peristiwa sejak setelah air bah Nabi Nuh hingga tahun 369 H.
4.      Uns al Farid kitab tentang koleksi anekdot, syair, pribahasa, dan kata-kata hikmah
5.      Tartib al Sa`adat kitab tentang akhlak dan politik, terutama mengenai pemerintah Bani Abbas dan Bani Buwaih.
6.      Al Mustaufa kitab tentang syair-syair pilihan
7.      Jawidan Khirad koleksi ungkapan bijak
8.      Al Jami` kitab tentang ketabiban
9.      Al Siyab
10.  Kitab al Ashribah kitab tentang minuman
11.  Tahzib al Aklaq
12.  Risalat fi al Lazzat wa al Alam fi Jauhar al Nafs
13.  Ajwibat wa As`ilat fi al Nafs wa al `Alaq
14.  Thaharat al Nafs dan lain-lain[8]
C.       Pemikiran Ibnu Miskawaih tentang konsep Pendidikan
1.    Tingkatan Potensi Manusia
Pandangan Ibnu Miskawaih terhadap manusia tidak jauh berbeda dengan pandangan filosof lainnya. Menurutnya, di dalam diri manusia terdapat 3 macam daya atau potensi, diantarannya:
a.    Potensi Bernafsu (al-nafs al-bahimiyyat)
b.    Potensi Berani (al-nasf al-sabu’iyat)
c.    Potensi Berpikir (al-nafs al-nathiqah)[9]
Ketiga daya tersebut merupakan unsur rohani manusia, yang asal kejadiannya berbeda dengan satu dan yang lainnya. Sebagaimana yang dikutip oleh Abudin Nata (2007:7) Ibnu Miskawaih dalam bukunya Tahzib al-Alkhlaq wa Tathhir al-A’raq, memahami bahwa unsur rohani berupa daya bernafsu dan daya berani berasal dari unsur materi, sedangkan daya berpikir berasal dari ruh Tuhan tidak akan mengalami kehancuran.[10]
Lebih lanjut Ibnu Miskawaih mengatakan bahwa hubungan jiwa al-nafs al-bahimiyyat (bernafsu) dan jiwa al-nasf al-sabu’iyat (berani) dengan jasad , pada hakekatnya saling memengaruhi. Kuat atau lemahnya, sehat atau sakitnya kedua macam jiwa tersebut. Kedua macam jiwa ini dalam melaksanakan fungsinya tidak akan sempurna, kalau tidak menggunakan alat bendawi atau badani yang terdapat dalam tubuh manusia. Oleh karena itu, Ibnu Miskawaih melihat bahwa manusia terdiri dari unsur jasad dan rohani yang saling berhubungan.[11]
2.    Tentang Akhlaq
Pemikiran Ibnu Miskawaih dalam bidang akhlaq memiliki keunikan-keunikan dan ciri khas tersendiri. Pemikiran akhlaq beliau banyak dipengaruhi para filosof Yunani, seperti Aristoteles, Plato, dan Galen, yakni dengan cara meramu pemikiran-pemikiran tersebut dengan ajaran Islam. Selain dipengaruhi oleh filosof Yunani, ibnu miskawaih juga banyak dipengaruhi oleh filosof Muslim seperti: Al-Khindi, Al-Farabi, dan Al-Razi serta filosof yang lainnya. Oleh karena itu, corak pemikiran ibnu miskawaih dapat dikategorikan sebagai pemikiran yang bersifat tipologi etika filosofi (etika rasional), yaitu pemikiran etika yang banyak dipengaruhi oleh para filosof, terutama para filosof Yunani.[12]
Karakteristik pemikiran Ibnu Miskawaih dalam pendidikan akhlaq secara umum dimulai dengan pembahasan tentang akhlaq, atau dalam artian watak/karaker. Menurutnya, watak itu ada yang bersifat alami dan ada watak yang diperoleh melalui kebiasaan atau latihan. Kedua watak ini pada hakikatnya tidak alami, walaupun kita diciptakan dengan menerima watak, akan tetapi watak tyersebut dapat diusahalan melalui pendidikan dan pengajaran.[13]
Dalam pembahasan tentang watak tersebutt, ibnu miskawaih tidak mengambil diskursus dari Al Qur’an atau Sunnah Nabi. Karena menurutnya, akhlaq dalam Islam dibangun dengan fondasi kebaikan atau keburukan. Kebaikan dan keburukan tadi berada pada fitrah, sehingga segala sesuatu yang dianggap baik oleh fitrah dan akal yang lurus, ia termasuk bagian dari akhlaq yang baik, dan sebaliknya yang dianggap jelek, ia termasuk akhlaq yang buruk.[14]
Adapun pemikiran ibnu miskawaih tentang konsep pendidikan akhlaq sebagaimana dijelaskan oleh abudin nata dalam salah satu tulisannya, adalah sebagai berikut:
1.      Tujuan Pendidikan Akhlaq
Ibnu Miskawaih mengatakan bahwa tujuan pendidikan akhlaq adalah terwujudnya sikap bathin, yang mampu mendorong secara spontan untuk melahirkan semua perbuatan yang bernilai baik, sehingga mencapai kesempurnaan dan memperoleh kebahagiaan (al-Sa’adat) yang sejati dan sempurna. Bahwa persoalan al-sa’adat merupakan persoalan utama dan mendasar bagi kehidupan manusia, dan sekaligus bagi pendidikan akhlaq. Menurut M. Abdul Hak Ansari, al-sa’adat merupakan konsep komperhensif yang di dalamnya terkandung unsur kebahagiaan (happiness), kemakmuran (prosperity), keberhasilan (success), kesempurnaan (perfection), kesenangan (blessedness) dan kecantikan (beautitude).[15]
Konsep pendidikan menurut ibnu miskawaih, sebagaimana yang tercermin dalam awal kalimat kitabnya Tahdzib al-Akhlaq ialah terwujudnya pribadi susila. Berwatak, yang lahir dari perilaku-perilaku luhur (budi pekerti). Dari sanalah lahir perilaku yang mulia. Dan untuk meraihnya diperlukan jalur pendidikan.[16]
Dasar pendidikan, menurutnya pendidikan didasarkan pada syari’at agama dan pengetahuan psikologi. Karena keduanya saling berkaitan dalam rangka membentuk kepribadian atau karakter yang terbiasa untuk melakukan perbuatan yang terpuji. Disampiing itu, beliau juga mencoba untuk memadukan antara agama dan filsafat. Yaitu pemikiran yang diambul dari dasar Al Qur’an dan al-Hadis kemudian dipadukan dengan pemikiran yang diambilnya dari filsafat Yunani, sehingga terlihat kerhamoniasaan keduannya.[17]
Materi pendidikan, menurut ibnu miskawaih adalah hal-hal yang wajib bagi kebutuhan jasmani untuk membentuk akhlaq yang mulia yaitu materi yang berkaitan dengan ibadah fisik, seperti: yang tersebutkan dalam rukun islam. Hal-hal yang wajib bagi jiwa yaitu aqidah yang benar. Dan hal-hal yang berhubungan dengan sesama manusia seperti: ilmu mu’amalat, pertanian, perkawinan, peperangan, kedokteran dan sebagainya.[18]
2.      Pendidik dan anak didik
Pendidik bagi Ibnu Miskawaih adalah siapa saja yang melakukan usaha pendidikan, meliputi: orang tua, pemuka masyarakat, guru atau filosof. Ibnu Miskawaih juga memberikan kedudukan istimewa kepada guru atau filosof. Karena guru/filosof adalah penyebab eksistensi manusia.[19]
Menurut Ibnu Miskawaih, pendidik mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk meluruskan peserta didik melalui ilmu rasional, agar mereka dapat mencapai kebahagiaan intelektual dan mengarahkan peserta didik pada disiplin-disiplin praktis serta aktivis intelektual, agar dapat mencapai kebahagiaan praktis. Dari pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa pandangan Ibnu Miskawaih tentang pendidik sesuai dengan pandangannya tentang daya jiwa yang ada dalam diri manusia, sehingga filsafat Ibnu Miskawaih dapat di kategorikan pada filsafat etika praktis dan teoritis.[20]
Subyek didik menurut ibnu miskawaih adalah semua orang yang memperoleh atau memerlukan bimbingan dari orang lain.[21]
3.      Tentang Metode Pendidikan Akhlaq
Menurut Ibnu Miskawaih, dalam upaya mencapai akhlaq yang baik, maka seorang pendidika perlu melakukan dua hal berikut ini: pertama, kemauan yang sungguh-sungguh. Adanya kemauan yang sungguh-sungguh untuk berlatih secara terus-menerus, menahan diri (al-‘adat wa al-jihad) untuk memperoleh keutamaan dan kesopanan yang sebenarnya adalah sesuai dengan keutamaan jiwa. Latihan ini bertujuan untuk menahan kemauan jiwa al-syahwaniyyah dan al-ghadabiyyat. Latihan yang dilakukan antara lain adalah menahan untuk tidak makan dan minum secara berlebihan.; kedua, menjadikan pengetahuan pengalaman orang lain sebagai cermin bagi dirinya. Denga cara ini seseorang tidak akan hanyut kepada perbuatan yang tidak baik, karena ia bercermin kepada perbuatan buruk dan akibat buruk yang dialami orang lain.[22] Sebagai contoh, pencuri yang ketahuan oleh warga. Kemudian pencuri tersebut di bawa ke pihak yang berwenang. Dengan kejadian atau pengalaman yang didapat oleh pencuri tersebut, maka kita akan dapat merefleksikan jika pencuri itu adalah kita. Maka kita akan berpikir jauh kedepan apakah kita akan meniru perbuatan tersebut.
4.      Tentang materi pendidikan akhlaq
Ibnu Miskawaih mencoba untuk mengklasifikasikan materi pendidikan akhlaq kedalam 3 klasifikasi, yaitu:
a.       Hal-hal yang wajib bagi kebutuhan manusia
b.      Hal-hal yang wajib bagi kebutuhan jiwa manusia
c.       Hal-hal yang wajib bagi hubungannya dengan sesama manusia[23]
Pembagian ini tidak terlepas dari pembagian daya jiwa manusia. Dari ketiga pokok materi tersebut akan diperoleh ilmu yang secara garis besar dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu:
a.       Ilmu-ilmu tentang pemikiran (al-‘ulum al-fikriyah).
b.      Ilmu-ilmu yang berkaitan tentang indera (al-‘ulum al hissiyat).[24]
Sesungguhnya, materi pendidikan yang dikemukakan oleh Ibnu Miskawaih ini dipengaruhi oleh pajam ontologism agama yang ada pada dirinya, disamping keadaan situasi dimasa itu dan keadaan politik yang terjadi, Ibnu Miskawaih memang tidak merinci satu demi satu materi pendidikan, tetapi ia hanya menawarkan yang umum agar bisa berlaku dan relevan untuk masa yang selanjutnya.[25]
5.      Tentang lingkungan pendidikan
Ibn Miskawaih berpendapat bahwa, usaha mencapai al-sa’adat tidak dapat dilakukan sendiri, tetapi harus bersama atas dasar saling tolong-menolong dan saling melengkapi,  kondisi demikian akan tercipta kalau sesama manusia saling mencintai. Setiap pribadi merasa bahwa kesempurnaan sendirinya akan terwujud karena kesempurnaan yang lainnya. Jika tidak demikian, maka al-sa’adat tidak dapat terwujud sebagai makhluk sosial. Ibn Miskawaih berpendapat bahwa selama di alam ini, manusia memerlukan kondisi yang baik di luar dirinya. Ia juga menyatakan bahwa sebaik-baik orang adalah orang yang berbuat baik terhadap keluarganya dan orang-orang yang masih ada kaitan dengannya, mulai dari saudara, anak, kerabat, keturunan, rekanan, tetangga, hingga teman.  Disamping itu, Ibn Miskawaih berpendapat bahwa salah satu tabi’at manusia adalah tabi’at memelihara diri, karena itu manusia selalu berusaha untuk  memperolehnya bersama dengan mahluk sejenisnya. Diantara cara untuk menempuhnya adalah dengan saling bertemu, manfaat dari pertemuan diantaranya adalah akan memperkuat aqidah yang benar dan kestabilan cinta sesamanya.[26]
6.      Tentang konsep pembelajaran
Menurut Ibnu Miskawaih, suatu pembelajaran tidak akan berjalan jalam jalannya yang benar kecuali memperhatikan prinsip dasar, yaitu; pertama, memperhatikan persiapan, perbedaan individu yang berbeda diantara para individu manusia. Kedua, menjaga keseimbangan perikalu siswa dalam aturan yang bersifat khusus, yang disesuaikan dengan perkembangan anakm baik dari segi psikis maupun fisiknya.[27]
Sebagaimana yang tercermin dalam awal kalimat kitabnya Tahdzib al-Akhlaq ialah terwujudnya pribadi susila. Berwatak, yang lahir dari perilaku-perilaku luhur (berbudi pekerti). Dari sanalah lahir perilaku-perilaku mulia. Dan untuk memperolehnya melalui jalur pendidikan.[28] Dengan demikian bahwa konsep pembelajaran didasarkan pada watak yang berbudi pekerti.
IV.   PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.      Nama lengkap Ibnu Miskawaih adalah Abû Ali Ahmad bin Muhammad bin Ya’qûb Miskawaih.
2.      Ia lahir di Rayy di dekat kota Teheran pada tahun 320 H / 932 M.
3.      Gelarnya adalah Abu 'Ali, yang diperoleh dari nama sahabat 'Ali. Gelar lain yang sering disebutkan yaitu al-Khazin, yang berarti bendaharawan
4.      Ibnu Miskawaih Seorang filosof yang sempat menegaskan teori evolusi. Sebelum Darwin dinobatkan sebagai pelopor teori ini, Ibnu Miskawaih telah menyatakan bahwa kecerdikan manusia itu tidak lebih unggul dari seekor kera.
5.      Pada tahun 367 H–372 H., Ibnu Miskawaih diangkat sebagai bendaharawan ‘Adhul al-Daulah.
6.      Pada masa ini pula Ibnu Miskawaih memunculkan dirinya sebagai seorang filosof, tabib, ilmuwan, dan pujangga.
7.      Ibnu Miskawaih wafat pada 9 Shafar 421 H/ 16 Februari 1030 M.
8.      Karya-karya beliau
a.       Al Fauz al Akbar kitab tentang etika.
b.      Al Fauz al Asghar kitab tentang ketuhanan, jiwa, dan kenabian (metafisika)
c.       Tajarib al Umam kitab tentang sejarah yang berisi peristiwa-peristiwa sejak setelah air bah Nabi Nuh hingga tahun 369 H.
d.      Uns al Farid kitab tentang koleksi anekdot, syair, pribahasa, dan kata-kata hikmah
e.       Tartib al Sa`adat kitab tentang akhlak dan politik, terutama mengenai pemerintah Bani Abbas dan Bani Buwaih.
f.       Al Mustaufa kitab tentang syair-syair pilihan
g.      Jawidan Khirad koleksi ungkapan bijak
h.      Al Jami` kitab tentang ketabiban
i.        Al Siyab
j.        Kitab al Ashribah kitab tentang minuman
k.      Tahzib al Aklaq
l.        Risalat fi al Lazzat wa al Alam fi Jauhar al Nafs
m.    Ajwibat wa As`ilat fi al Nafs wa al `Alaq
n.      Thaharat al Nafs dan lain-lain
9.      Konsep Pendidikan
a.       Tujuan pendidikan akhlaq
b.      Anak didik dan peserta didik
c.       Metode pendidikan aklaq
d.      Materi pendidikan akhlaq
e.       Lingkungan pendidikan akhlaq
f.       Konsep pembelajaran
B.     Kalimat Penutup
Demikianlah makalah ini kami buat, semoga bermanfaat kepada pembaca dan dapat memberikan pemahaman kepada pemakalah.
Sekian dari kami, apabila ada kesalahan atau kekurangan dalam hal penulisan makalah ini, kritik serta saran yang membangun sangat kami butuhkan dari anda. Dari kami, selaku pemakalah meminta maaf yang sebesar-besarnya dan atas perhatian saudara kami ucapkan terimakasih.

DAFTAR PUSTAKA

Gunawan, Heri. Pendidikan Islam; Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2014
Maftukhin. Filsafat Islam. Tulungagung: Penerbit Mizan. 2012
Syar’i, Ahmad. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Penerbit Pustaka Firdaus. 2005
Sirajudin Zar. Filsafat Islam. Jakarta: RagaGrafindo Persada. 2014


[2] Heri Gunawan, Pendidikan Islam; Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2014), Hlm. 308
[3] Maftukhin, Filsafat Islam, (Tulungagung: Penerbit Mizan, 2012), Hlm. 116
[4] Heri Gunawan, Pendidikan Islam; Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, Hlm. 308
[5] Heri Gunawan, Pendidikan Islam; Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, Hlm. 308        
[6] Heri Gunawan, Pendidikan Islam; Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, Hlm. 308
[7] Heri Gunawan, Pendidikan Islam; Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, Hlm. 309
[8] Zar Sirajudin, Filsafat Islam, (Jakarta: RagaGrafindo Persada, 2014), Hlm. 128-129
[9] Heri Gunawan, Pendidikan Islam; Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, Hlm. 309
[10] Heri Gunawan, Pendidikan Islam; Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, Hlm. 309
[11] Heri Gunawan, Pendidikan Islam; Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, Hlm. 309
[12] Heri Gunawan, Pendidikan Islam; Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, Hlm. 310
[13] Heri Gunawan, Pendidikan Islam; Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, Hlm. 310
[14] Heri Gunawan, Pendidikan Islam; Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, Hlm. 310
[15] Heri Gunawan, Pendidikan Islam; Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, Hlm. 311
[16] Ahmad Syar’i, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Penerbit Pustaka Firdaus, 2005), Hlm. 93
[17] Ahmad Syar’i, Filsafat Pendidikan Islam, Hlm. 94
[18] Ahmad Syar’i, Filsafat Pendidikan Islam, Hlm. 94
[19] Ahmad Syar’i, Filsafat Pendidikan Islam, Hlm. 95
[20] Heri Gunawan, Pendidikan Islam; Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, Hlm. 311
[21] Ahmad Syar’i, Filsafat Pendidikan Islam, Hlm. 95-96
[22] Heri Gunawan, Pendidikan Islam; Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, Hlm. 312
[23] Heri Gunawan, Pendidikan Islam; Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, Hlm. 312
[24] Heri Gunawan, Pendidikan Islam; Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, Hlm. 313
[25] Ahmad Syar’i, Filsafat Pendidikan Islam, Hlm. 94
[26] Heri Gunawan, Pendidikan Islam; Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, Hlm. 313
[27] Heri Gunawan, Pendidikan Islam; Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, Hlm. 313
[28] Ahmad Syar’i, Filsafat Pendidikan Islam, Hlm.93

0 komentar :

Posting Komentar