PEMIKIRAN H. BUYA HAMKA TENTANG PENDIDIKAN ISLAM

Senin, 28 Desember 2015

PEMIKIRAN H. BUYA HAMKA TENTANG PENDIDIKAN ISLAM




PEMIKIRAN H. BUYA HAMKA TENTANG PENDIDIKAN ISLAM

Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Sejarah Pendidikan Islam
Dosen Pengampu : Dr. H. M. Nur Hasan, Drs., M.Si,







Bryan Adam Pratama    (1403036076)


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2014



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pendidikan merupakan bagian yang penting adalah kehidupan manusia. Dan, manusia hanya dapat dimanusiakan melalui proses pendidikan. Karena itulah, maka pendidikan merupakan sebuah proses yang sangat vital dalam kelangsungan hidup manusia. Tidak terkecuali pendidikan Islam, yang dalam sejarah perjalanannya memiliki berbagai dinamika. Eksistensi pendidikan Islam telah membuat kita terperangah dengan berbagai dinamika dan perubahan yang ada.
Pendidikan islam tumbuh dan berkembang sejalan dengan adanya dakwah islam yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. Berkaitan dengan itu pula pendidikan islam memiliki corak dan karakteristik yang berbeda sejalan dengan upaya pembaharuan yang dilakukan terus menerus pasca generasi Nabi, sehingga dalam perjalanan selanjutnya, pendidikan Islam terus mengalami perubahan baik dari segi kurikulum maupun dari segi lembaga pendidikan islam yang dimaksud.
B.     Permasalahan
1.      Bagaimana Tentang Biografi H. Buya Hamka ?
2.      Bagaimana Pandangan H. Buya Hamka tentang pendidikan ?
3.      Apa saja Implikasi-implikasi H. Buya Hamka Tentang Pendidikan ?




BAB II
RIWAYAT HIDUP H. BUYA HAMKA
A.    Biografi Buya Hamka
Hamka lahir pada 17 Februari 1908 di Kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, dari pasangan Dr. H. Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul) dan Siti Safiyah Binti Gelanggar yang bergelar Bagindo nan Batuah. Hamka mewarisi darah ulama dan pejuang yang kokoh pada pendirian dari ayahnya yang dikenal sebagai ulama pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau serta salah satu tokoh utama dari gerakan pembaharuan yang membawa reformasi Islam (kaum muda).
Jika banyak tokoh berpengaruh yang bertahun-tahun menimba ilmu di sekolah formal, tidak demikian halnya dengan Hamka. Pendidikan formal yang ditempuhnya hanya sampai kelas dua Sekolah Dasar Maninjau. Setelah itu, saat usianya menginjak 10 tahun, Hamka lebih memilih untuk mendalami ilmu agama di Sumatera Thawalib di Padang Panjang, sekolah Islam yang didirikan ayahnya sekembalinya dari Makkah sekitar tahun 1906.
Di sekolah itu, Hamka mulai serius mempelajari agama Islam serta bahasa Arab. Sejak kecil Hamka memang dikenal sebagai anak yang haus akan ilmu. Selain di sekolah, ia juga menambah wawasannya di surau dan masjid dari sejumlah ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjopranoto dan Ki Bagus Hadikusumo.
Pada tahun 1924, Hamka yang ketika itu masih remaja sempat berkunjung ke Pulau Jawa. Di sana ia banyak menimba ilmu pada pemimpin gerakan Islam Indonesia di antaranya Haji Omar Said Chakraminoto, Haji Fakharudin, Hadi Kesumo bahkan pada Rashid Sultan Mansur yang merupakan saudara iparnya sendiri.
Selanjutnya pada 1927, berbekal ilmu agama yang didapatnya dari berbagai tokoh Islam berpengaruh tadi, Hamka memulai kariernya sebagai Guru Agama di Perkebunan Tebingtinggi, Medan. Dua tahun kemudian, ia mengabdi di Padang masih sebagai Guru Agama. Masih di tahun yang sama, Hamka mendirikan Madrasah Mubalighin. Bukan hanya dalam hal ilmu keagamaan, Hamka juga menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, 
sosiologi dan politik. Yang menarik, semua ilmu tadi dipelajarinya secara otodidak tanpa melalui pendidikan khusus. John L. Espito dalam Oxford History of Islam bahkan menyejajarkan sosok Hamka dengan Sir Muhammad Iqbal, Sayid Ahmad Khan dan Muhammad Asad.

B.     Karya Buya Hamka
Beliau adalah seorang ulama Muhammadiyah di Minang. Selain sebagai Ulama, beliau juga seorang wartawan dan penulis. Dalam dunia jurnalistik beliau menerbitkan majalah tengah bulanan Panji Masyarakat pada Juli 1959. Dan buku-bukunya sebagai berikut
·         Khatibul Ummah, Jilid 1-3. Ditulis dalam huruf Arab.
Si Sabariah. (1928).
·         Pembela Islam (Tarikh Saidina Abu Bakar Shiddiq),1929.
·         Adat Minangkabau dan agama Islam (1929).
·         Ringkasan tarikh Ummat Islam (1929).
·         Kepentingan melakukan tabligh (1929).



BAB III
PANDANGAN H. BUYA HAMKA TENTANG PENDIDIKAN
A.    Dasar Penidikan
Sosok HAMKA multiperan. Selain sebagai ulama dan pujangga, ia juga seorang pemikir. Di antara buah pikirannya adalah gagasan tentang pendidikan. Pentingnya manusia mencari ilmu pengetahuan, menurut HAMKA, bukan hanya untuk membantu manusia memperoleh penghidupan yang layak, melainkan lebih dari itu, dengan ilmu manusia akan mampu mengenal Tuhannya, memperhalus akhlaknya, dan senantiasa berupaya mencari keridhaan Allah. HAMKA membedakan makna pendidikan dan pengajaran. Menurutnya, pendidikan Islam merupakan serangkaian upaya yang dilakukan pendidik untuk membantu membentuk watak, budi, akhlak, dan kepribadian peserta didik, sehingga ia tahu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Sementara pengajar­an Islam adalah upaya untuk mengisi intelektual peserta didik dengan sejumlah ilmu pengetahuan.
Dalam mendefinisikan pendidikan dan pengajaran, ia hanya membedakan makna pengajaran dan pendidikan pada pengertian kata. Akan tetapi secara esensial ia tidak membedakannya. Setiap proses pendidikan, di dalamnya terdapat proses pengajaran. Keduanya saling melengkapi antara satu dengan yang lain, dalam rangka mencapai tujuan yang sama. Tujuan dan misi pendidikan akan tercapai melalui proses pengajaran. Demikian pula sebaliknya, proses pengajaran tidak akan banyak berarti bila tidak dibarengi dengan proses pendidikan. Dengan pertautan kedua proses ini, manusia akan memperoleh kemuliaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.
Adapun tujuan pendidikan, menurut HAMKA, memiliki dua dimensi, yakni bahagia di dunia dan di akhirat. Untuk mencapai tujuan tersebut, manusia harus menjalankan tugasnya dengan baik, yaitu beribadah. Oleh karena itu, segala proses pendidikan pada akhirnya bertujuan agar dapat menuju dan menjadikan anak didik sebagai abdi Allah. Dengan demikian, tujuan pendidikan Islam, menurut HAMKA, sama dengan tujuan penciptaan manusia itu sendiri, yakni untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah.
Komponen lain selain tujuan dalam pendidikan adalah bahan ajaran atau materi pelajaran (subject content). Untuk merealisasikan tujuan pendidikan, maka perlu adanya seperangkat materi yang perlu diberikan kepada anak didik untuk kemudian diinternalisasikan dalam kehidupan rill anak. Materi-materi keimanan Islam harus benar-benar tertanam dalam diri anak didik sejak sedini mungkin sehingga potensi keagamaan akan dapat tumbuh dan berkembang secara baik dan dapat menghasilkan suatu pandangan sikap hidup yang bertendensi pada nilai-nilai religi. Sebaliknya, bila potensi keagamaan ini dibiarkan begitu saja tidak dipupuk, tidaklah mustahil akan timbul sikap ateis. Hal ini sesuai dengan konsep Islam bahwasanya iman itu bisa bertambah dan berkurang tergantung pada pemeliharaannya. Sebagaiman firman Allah: “… Supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada) dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi. Dan Allah Maha Mengetahi dan Maha Bijaksana” (QS Al-Fath [48]: 4).
Buya HAMKA dalam memajukan pendidikan Islam di Indonesia patut dihargai, karena pemikirannya yang kemudian diwujudkan dengan membangun lembaga pendidikan Yayasan Pesantren Islam di Al Azhar. Itulah lembaga pendidikan Islam dapat menyaingi pendidikan umum dan Kristen yang sudah lebih dulu ada.
Sekolah atau lembaga pendidikan sebagai ujung tombak kristenisasi. Karena itu Buya Hamka mendirikan sekolah Islam untuk menyaingi sekolah Kristen yang membawa generasi muda kepada mental pemurtadan. Selain itu, pendirian sekolah Islam dalam hal ini Yayasan Pesantren Islam Al Azhar untuk menghilangkan dikotomi terhadap Islam”. Menurut konsep pendidikan yang ditetapkan oleh ulama yang banyak menciptakan karya sastra itu mencontoh zaman Rosulullah yang menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan, salah satunya sekolah. Kelahiran pesantren di tengah kota yang dirintisnya telah mampu menghilangkan anggapan bahwa pesantren hanya sebagai lembaga pendidikan formal pinggiran yang kondisinya serba memprihatinkan. Tetapi beliau mendirikan pesantren di tengah kota. Pesantren yang maju yang bisa diterima oleh berbagai kalangan masyarakat.
Bagi HAMKA, pendidikan adalah sarana untuk mendidik watak pribadi. Kelahiran manusia di dunia ini tak hanya untuk mengenal apa yang dimaksud dengan baik dan buruk, tapi juga, selain beribadah kepada Allah, juga berguna bagi sesama dan alam lingkungannya. Karena itu, bagaimana pun kehebatan sistem pendidikan modern, menurut HAMKA, tak bisa dilepas begitu saja tanpa diimbangi dengan pendidikan agama. Ia adalah salah satu dari pemikir pendidikan yang mendorong pendidikan agama agar masuk dalam kurikulum sekolah. Bahkan, HAMKA lebih maju lagi, ia menyarankan agar ada asrama-asrama yang menampung anak-anak sekolah. Dalam asrama tersebut anak-anak tak hanya mendapat pemondokan dan logistik, tapi juga penuh dengan muatan rohani dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pandangan HAMKA, pendidikan di sekolah tak bisa lepas dari pendidikan di rumah. Karena menurutnya, mesti ada komunikasi antara sekolah dengan rumah, antara orangtua murid dengan guru. Secara konvensional, antara orang tua murid dengan guru saling bersilaturahim, sekaligus mendiskusikan tentang perkembangan anak didiknya. Dan masjid adalah sarana untuk pertemuan tersebut. Dengan adanya shalat berjamaah di masjid, antara guru, orangtua, dan murid bisa saling berkomunikasi secara langsung. “Kalau rumahnya berjauhan, akan bertemu pada hari jumat,” begitu tutur HAMKA. Pemikiran HAMKA diatas akan bisa berjalan secara efektif di daerah-daerah pedesaan dimana mobilitas warganya yang begitu tinggi.
Menurut Beliau tugas dan tanggung jawab seorang pendidik adalah memantau, mempersiapkan dan menghantarkan peserta didik untuk memiliki pengetahuan yang luas, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. untuk melaksanakan hal ini, ada tiga institusi yang bertugas dan bertanggung jawab, yaitu:
Pertama, lembaga pendidikan informal (keluarga). Lembaga pendidikan informal merupakan lembaga pendidikan pertama dan utama, sebagai jembatan dan penunjang bagi pelaksanaan pendidikan selanjutnya (formal dan nonformal). Lingkungan keluarga adalah lingkungan yang pertama menyentuh anak sehingga besar peranannya terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak dalam rangka membentuk pribadi yang matang baik lahir maupun batin. Di dalam keluarga, baik disadari atau tidak, anak telah dilibatkan dalam suatu proses pendidikan, yaitu pendidikan keluarga. Pendidikan semacam ini lebih bersifat kodrat dan alami. Artinya, pendidikan keluarga lebih didasarkan pada sentuhan cinta dan kasih sayang orang tua kepada anak-anaknya. Anak dari kecil hendaklah sudah diperkenalkan kepada Tuhan agar tercipta sikap cinta kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebagaimana dikatakan Drs. R.I. Suhartin Citrobroto bahwa “Anak-anak kecil harus diajari untuk mencintai, menghormati, dan menyembah Tuhan (Allah)”. Tentu dengan cara yang sederhana, misalnya mengajaknya ke tempat-tempat ibadah, menyaksikan keindahan alam dengan disertai hikmah. Sebaliknya, jika hal tersebut tidak dilakukan maka saat dewasa nanti ia tidak merasakan pentingnya Tuhan dalam hidupnya. Menurut HAMKA, tanggung jawab pendidikan dalam keluarga diemban oleh orang tua. Tingkah laku orangtua didalam keluarga merupakan bentuk pendidikan pada  anaknya, baik yang disengaja maupun yang tidak. Orang tua adalah teladan bagi anak-anaknya. Karena perlunya pendidikan anak di dalam keluarga, Islam mengajarkan bahwa pendidikan agama harus diajarkan sedini mungkin. Begitu anak dilahirkan disitulah proses pendidikan dimulai, yaitu dengan cara mengadzani dan iqamah.
Kedua, lembaga pendidikan formal (sekolah). Sebagaimana kita ketahui bahwa tidaklah mungkin pendidikan akan dapat terpenuhi hanya dengan pendidikan informal saja. Oleh karena itu, muncul institusi-institusi yang menjalankan fungsinya sebagai tindak lanjut dari pendidikan keluarga. Sekolah adalah institusi khusus yang menjalankan pendidikan setelah pendidikan keluarga. Melalui sekolah anak mengenal dunia secara lebih luas. Kalau dalam lingkungan keluarga anak mengenal ayah, ibu, adik, kakak, dan familinya, dalam sekolah, kini anak mengenal sosok guru mereka, bermain bersama teman-teman dari berbagai kelompok masyarakat. Di sini suasana pendidikan tetap diciptakan dengan sengaja, dengan demikian, pendidikan lebih bersifat khusus dan terencana. Sekolah lebih dikatakan sebagai lingkungan pendidikan kedua bagi anak, setelah pendidikan keluarga. Sekolah sebagai institusi sosial yang menjalankan fungsinya sebagai lembaga yang diserahi pelimpahan tanggung jawab anak. Sebab, tidaklah mungkin setiap orang tua dapat memberikan pendidikan kepada anak secara optimal dan menyeluruh hanya dengan mengandalkan pendidikan keluarga. Bagaimanapun kemampuan orang tua masih tetap terbatas. Mungkin mereka memiliki pengetahuan serta keterampilan yang cukup untuk mendidik anaknya, akan tetapi mereka tidak banyak memiliki waktu. Untuk itulah para orangtua mempercayakan pelimpahan sekaligus tugas dan tanggung jawab kepada pihak sekolah.
Ketiga, lembaga pendidikan nonformal (masyarakat). Manusia tidak akan bisa lepas dari lingkungannya. Ia senantiasa membutuhkan pertolongan orang lain. Atas dasar saling ketergantungan dan saling membutuhkan tersebut, maka menimbulkan kecenderungan berkelompok dan bersatu. Dalam kehidupan berkelompok tersebut, mereka bisa saling take and give dalam rangka mempertahankan kehidupan. Setiap masyarakat memiliki aturan-aturan, sistem nilai, ideologi, cita-cita dan sistem pemerintahan atau kekuasaan tertentu. Mereka berusaha untuk melestarikannya dalam rangka kelangsungan masyarakat tersebut agar tetap eksis di tengah kehidupan masyarakat lain. Salah satu bentuk pelestarian budaya, sistem nilai tersebut adalah melalui pendidikan. Pendidikan pada hakikatnya adalah pemberian muatan-muatan pada anak didik untuk dapat melestarikan sebagian budaya masyarakat dan sebagian lagi untuk dikembangkan demi kemajuan masyarakat. Masyarakat langsung maupun tidak langsung, ikut serta memegang tanggung jawab pendidikan bagi anggota masyarakatnya. Masyarakat terutama setiap pemimpin Muslim tentu menghendaki masyarakatnya menjadi seorang Muslim yang baik, yang taat beribadah dalam segala aspeknya. Dalam hal ini, masyarakat secara keseluruhan harus dapat melaksanakan misinya, yaitu amar ma’ruf nahi munkar demi tegaknya Islam dan masyarakat tersebut.
HAMKA memaknai manusia sebagai khalifah fil-ardh, sebagai makhluk yang telah diberikan Allah potensi akal sebagai sarana untuk mengetahui hukum-Nya.
Menyingkap rahasia alam dan memanfaatkannya bagi kemaslahatan umat manusia. Menurut HAMKA, melalui akalnya manusia dapat menciptakan peradabannya dengan lebih baik. Fenomena ini dapat dilihat dari sejarah manusia di muka bumi. Sebagaimana firman Allah: “Hadapkan dengan seluruh dirimu itu kepada Agama (islam) sebagaimana engkau adalah hanif (secara kodrat memihak pada kebenaran): itulah fitroh Tuhan yang telah memfitrohkan (mempotensikan) manusia padanya.” (QS Ar-Ruum: 30)
Di samping itu, fungsi pendidikan bukan saja sebagai proses pengembangan intelektual dan kepribadian peserta didik, akan tetapi juga proses sosialisasi peserta didik dengan lingkungan di mana ia berada. Secara inheren, pendidikan merupakan proses penanaman nilai-nilai kebebasan dan kemerdekaan kepada peserta didik untuk menyatakan pikiran serta mengembangkan totalitas dirinya. Dengan kata lain pendidikan (Islam) merupakan proses transmisi ajaran Islam dari generasi ke generasi berikutnya. Proses tersebut melibatkan tidak saja aspek kognitif pengetahuan tentang ajaran Islam, tetapi juga aspek afektif dan psikomotorik (menyangkut bagaimana sikap dan pengamalan ajaran Islam secara kaffah). HAMKA juga menekankan pentingnya pendidikan jasmani dan rohani (jiwa yang diwarnai oleh roh agama dan dinamika intelektual) yang seimbang. Integralitas kedua aspek tersebut akan membantu keseimbangan dan kesempurnaan fitrah peserta didik. Hal ini disebabkan karena esensi pendidikan Islam berupaya melatih perasaan peserta didik sesuai dengan fitrah-Nya yang dianugerahkan kepada setiap manusia, sehingga akan tercermin dalam sikap hidup, tindakan, keputusan dan pendekatan mereka terhadap semua jenis dan bentuk pengetahuan dipengaruhi nilai-nilai ajaran Islam. Menurut HAMKA, untuk membentuk peserta didik yang memiliki kepribadian paripurna, maka eksistensi pendidikan agama merupakan sebuah kemestian untuk diajarkan, meskipun pada sekolah-sekolah umum. Namun demikian, dalam dataran operasional prosesnya tidak hanya dilakukan sebatas transfer of knowledge, akan tetapi jauh lebih penting adalah bagaimana ilmu yang mereka peroleh mampu membuahkan suatu sikap yang baik (akhlak al-karimah), sesuai dengan pesan nilai ilmu yang dimilikinya.
Lembaga pendidikan agama yang tidak mampu membina dan membentuk peserta didik berkepribadian paripuma, samalah kedudukannya dengan lembaga pendidikan umum yang sama sekali tidak mengajarkan agama, sebagaimana yang dikembangkan pada lembaga pendidikan kolonial. Hal ini disebabkan, karena secara epistemologi, pada dasarnya ilmu pengetahuan memiliki nilai murni yang bermuara kepada ajaran Islam yang hanif. Pandangannya di atas merupakan kritik terhadap proses pendidikan umat Islam waktu itu. Di mana banyak lembaga pendidikan yang mengajarkan agama, akan tetapi tidak mampu ‘mendidikkan’ agama pada pribadi peserta didiknya. Akibat proses yang demikian, mereka memang berhasil melahirkan out put yang memiliki wawasan keagamaan yang luas, dan fasih berbahasa Arab, akan tetapi memiliki budi pekerti yang masih rendah.
B.     Tujuan Pendidikan
“Penghambaan dan kekhalifahan manusia”, yaitu hubungan pemeliharaan manusia terhadap makhluk Allah lainnya, sebagai perwujudan tanggung jawabnya sebagai khalifah di muka bumi, serta hubungan timbal balik antara manusia dengan alam sekitarnya secara harmonis. Menurutnya karena salah satu bukti gagalnya pendidikan formal dalam menata moral dan etika terlihat dari munculnya kenakalan seperti tawuran.
C.    Pendidik
Pendidik adalah komponen yang sangat penting dalam sistim kependidikan, karena ia yang akan mengantarkan anak didik pada tujuan yang telah ditentukan, bersama komponen lain yang terkait dan lebih bersifat komplementatif. Hal ini disebabkan karena pendidikan merupakan cultural transition yang bersifat dinamis ke arah suatu perubahan secara kontiniu, sebagai sarana vital untuk membangun kebudayaan dan peradapan umat manusia. Dalam hal ini, pendidik bertanggung jawab memenuhi kebutuhan peserta didik, baik spiritual, intelektual, moral, estetika maupun kebutuhan fisik peserta didik.
D.    Anak Didik
Menurut Buya Hamka anak didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran pada jalur pendidikan baik pendidikan formal maupun pendidikan nonformal, pada jenjang pendidikan dan jenis pendidikan tertentu.
E.     Kurikulum
Sebagai rencana pelajaran yang merupakan bentuk usaha peningkatan pendidikan, kurikulum terdiri dari 4 kelompok, yaitu :
1.       Agama, yang mencakup :
a.       Tafsir Al Quran
b.      Hadits & Mushtkahah Hadits
c.       Fiqih dan Ushul fiqih
d.      Tauhid Islam
e.       Tarikh Tasyri’ Islamy
f.       Tauhid / Ilmu Kalam
g.      Akhlak dan tasawuf
2.       Bahasa, dengan kajian :
a.       Bahasa Arab dengan alat-alatnya ,yakni Nahwu, Sharaf, Balaghah, Ma’ani, Bayan, Mantiq (logika), Insya’, Tarjamah, Muhawarah, Khithabah dan Khath.
b.      Bahasa Belanda
c.       Bahasa Inggris
3.       Pengetahuan Umum, meliputi :
a.       Berhitung / Aljabar
b.       Ilmu Ukur (Handasah)
c.        Ilmu Bumi (Geografi)
d.       Ilmu Alam
e.       Ilmu Hayat (Hewan & Tumbuh-tumbuhan)
f.        Sejarah umum dan tanah air
g.       Ilmu Falak
4.       Keguruan/Dakwah dan Kepemimpinan
a.       Iilmu mengajar dan mendidik ( At Tarbiyah watta’lim)
b.       Ilmu Jiwa Umum dan Ilmu Jiwa Anak
c.        Muqaranah Al Adyan ( Perbandingan Agama)
d.       Organisasi dan Administrasi Muhamadiyah
e.       Muhadlarah atau pidato.
F.     Metode
Menurut Hamka materi pendidikan dapat dibagi menjadi empat bentuk,yaitu:
a.       Ilmu agama,seperti tauhid, fiqih, tafsir, hadits, nahwu, shorof, mantiq, dan lain-lain. Materi ini dimaksudkan untuk menjadi alat kontrol dan pewarna kepribadian peserta didik.
b.       Ilmu umum, seperti sejarah, filsafat, sastra, ilmu berhitung, falak, dan sebagainya. Dengan ini akan membuka wawasan keilmuan terhadap perkembangan zaman.
c.        Keterampilan ,seperti olahraga berguna untuk membuat tubuhnya sehat dan kuat.
d.       Kesenian, seperti musik, menggambar, menyanyi, dan sebagainya, dimaksudkan agar peserta didik akan memiliki rasa keindahan dan akan memperhalus budi rasanya.
Agar proses pendidikan bisa terlaksana secara efektif dan efisien, maka hendaknya perlu mempergunakan berbagai macam metode yang bisa mengantarkan peserta didik memahami semua materi dengan baik.
Pertama, metode secara umum diantaranya:
1.       Diskusi, proses bertukar pikiran antara dua belah pihak, proses ini bertujuan untuk mencari kebenaran melalui dialog dengan penuh keterbukaan dan persaudaraan.
2.       Karya wisata, mengajak anak mengenal lingkungannya, dengan ini sang anak akan memperoleh pengalaman langsung serta kepekaan terhadap sosial.
3.       Resitasi, memberikan tugas seperti menyerahkan sejumlah soal untuk dikerjakan, dimaksudkan agar anak didik memiliki rasa tanggung jawab terhadap amanat yang diberikan kepadanya.
Kedua, metode Islami, di antaranya:
1.       Amar ma’ruf nahi mungkar, menyuruh berbuat baik dan mencegah berbuat jahat. Bertujuan agar tulus hati dalam memperjuangkan kebenaran dan menjadikan pergaulan hidup lebih sentosa.
2.       Observasi, memberikan penjelasan dan pemahaman materi pada peserta didik. Metode ini digunakan agar peserta didik lebih mengenal Tuhannya.



BAB IV
IMPLIKASI
A.    Implikasi Teoeritik
Buya Hamka membedakan makna pendidikan dan pengajaran, menurutnya pendidikan merupakan serangkaian usaha yang dilakukan oleh pendidik untuk membentuk watak, budi pekerti, akhlak, dan kepribadian peserta didik, sehingga ia bisa membedakan mana yang baik, dan mana yang buruk.  Sedangkan pengajaran adalah upaya untuk mengisi intelektual peserta didik dengan sejumlah ilmu pengetahuan.
Perbedaan kedua pengertian tersebut sebetulnya hanya pada maknanya saja, namun secara esensi ia tidak membedakannya. Kedua kata tersebut memuat makna yang integral dan saling melengkapi dalam rangka mencapai tujuan yang sama. Sebab, setiap proses pendidikan, di dalamnya terdapat proses pengajaran. Tujuan dan misi pendidikan akan tercapai melalui proses pengajaran. Demikian pula sebaliknya, proses pengajaran tidak akan banyak berarti apabila tidak dibarengi dengan proses pendidikan.
Buya Hamka juga berpendapat bahwa: ”berdasarkan akalnya manusia dapat menciptakan peradaban dengan baik”, fenomena ini dapat dilihat dari sejarah manusia di muka bumi. Disamping itu fungsi pendidikan tidak hanya sebagai proses pengembangan intelektual dan kepribadian peserta didik saja, akan tetapi proses sosialisasi peserta didik dengan lingkungan dimana tempat ia berada.
Adapun tujuan pendidikan menurut Hamka memiliki dua dimensi; bahagia di dunia dan di akhirat. Untuk mencapai tujuan tersebut manusia harus menjalankan tugasnya dengan baik yaitu beribadah. Oleh karena itu segala proses pendidikan pada akhirnya bertujuan agar dapat menuju dan menjadikan anak didik sebagai abdi Allah yang baik
B.     Implikasi Empirik
Hamka telah berkelana ke sejumlah tempat di Minangkabau sejak berusia remaja, sehingga dijuluki oleh ayahnya dengan sebutan "Si Bujang Jauh". Ketika berusia 15 tahun, setelah mengalami suatu peristiwa yang mengguncangkan jiwanya, yakni perceraian orang tuanya, Hamka telah berniat pergi ke pulau Jawa setelah mengetahui bahwa Islam di Jawa lebih maju daripada Minangkabau terutama dalam hal pergerakan dan organisasi. Namun setiba di Bengkulu, Hamka terkena wabah penyakit cacar, sehingga setelah sekitar dua bulan berada di atas pembaringan, ia memutuskan kembali ke Padang Panjang. Meski begitu niatnya untuk pergi ke pulau Jawa tidak terbendung. Pada tahun 1924, setahun setelah sembuh dari penyakit cacar, ia kembali berangkat ke pulau Jawa.
Setiba di pulau Jawa, Hamka bertolak ke Yogyakarta dan menetap di rumah adik kandung ayahnya, Ja'far Amrullah. Melalui pamannya itu, ia mendapat kesempatan mengikuti berbagai diskusi dan pelatihan pergerakan Islam yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah dan Sarekat Islam. Selain mempelajari pergerakan Islam, ia juga meluaskan pandangannya dalam persoalan gangguan terhadap kemajuan Islam seperti kristenisasi dan komunisme. Selama di Jawa, ia aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan agama. Dalam berbagai kesempatan, ia berguru kepada Bagoes HadikoesoemoHOS TjokroaminotoAbdul Rozak Fachruddin, dan Suryopranoto. Sebelum kembali ke Minangkabau, ia sempat mengembara ke Bandung dan bertemu dengan tokoh-tokoh Masyumi seperti Ahmad Hassan dan Mohammad Natsir, yang memberinya kesempatan belajar menulis dalam Majalah Pembela Islam. Selanjutnya pada tahun 1925, ia pergi ke PekalonganJawa Timur untuk menemui Ahmad Rasyid Sutan Mansur yang waktu itu menjabat sebagai Ketua Muhammadiyah cabang Pekalongan sekaligus belajar kepadanya. Selama di Pekalongan, ia menetap di rumah kakak iparnya itu dan mulai tampil berpidato di beberapa tempat.
Dalam perantauan pertamanya ke pulau Jawa, ia mengaku memiliki semangat baru dalam mempelajari Islam. Ia juga melihat ada perbedaan antara misi pembaruan Islam di Minangkabau dan Jawa; jika di Minangkabau ditujukan pada pemurnian ajaran Islam dari praktik yang dianggap salah, seperti tarekattaklid, dan khirafat, maka di Jawa lebih berorientasi kepada usaha untuk memerangi keterbelakangan, kebodohan, dan kemiskinan.
Dalam usaha penyebaran agama islam di Minang beliau ikut gerakan Muhammadiyah di Minang Kabau. Setelah perkawinannya dengan Sitti Raham, Hamka aktif dalam kepengurusan Muhammadiyah cabang Minangkabau, yang cikal bakalnya bermula dari perkumpulan Sendi Aman yang didirikan oleh ayahnya pada tahun 1925 di Sungai Batang. Selain itu, ia sempat menjadi pimpinan Tabligh School, sebuah sekolah agama yang didirikan Muhammadiyah pada 1 Januari 1930.
Sejak menghadiri Muktamar Muhammadiyah di Solo pada tahun 1928, Hamka tidak pernah absen menghadiri kongres-kongres Muhammadiyah berikutnya. Sekembalinya dari Solo, ia mulai memangku beberapa jabatan, sampai akhirnya ia diangkat sebagai Ketua Muhammadiyah cabang Padang Panjang. Seusai Muktamar Muhammadiyah ke-19 di Bukittinggi pada tahun 1930, disusul dengan kongres berikutnya di Yogyakarta, ia memenuhi undangan untuk mendirikan cabang Muhammadiyah di Bengkalis. Selanjutnya pada tahun 1932, ia diutus oleh Muhammadiyah ke Makassar dalam rangka mempersiapkan dan menggerakkan semangat rakyat untuk menyambut Muktamar Muhammadiyah ke-21 di Makassar. Selama di Makassar, ia sempat menerbitkan Al-Mahdi, majalah pengetahuan Islam yang terbit sekali sebulan. Pada tahun 1934, setahun setelah menghadiri Kongres Muhammadiyah di Semarang, ia diangkat menjadi anggota tetap Majelis Konsul Muhammadiyah untuk wilayah Sumatera Tengah.
Kariernya di Muhammadiyah kian menanjak sewaktu ia pindah ke Medan. Pada tahun 1942, bersamaan dengan jatuhnya Hindia Belanda ke dalam tampuk kekuasaan penjajah Jepang, Hamka terpilih menjadi pimpinan Muhammadiyah untuk wilayah Sumatera Timur menggantikan H. Mohammad Said. Namun pada Desember 1945, ia memutuskan kembali ke Minangkabau dan melepaskan jabatan tersebut. Pada tahun berikutnya, ia terpilih menjadi Ketua Majelis Pimpinan Muhammadiyah Sumatera Barat menggantikan S.Y. Sutan Mangkuto. Jabatan ini ia rengkuh hingga tahun 1949.
Pada tahun 1953, ia terpilih sebagai pimpinan pusat Muhammadiyah dalam Muktamar Muhammadiyah ke-32 di Purwokerto. Sejak saat itu, ia selalu terpilih dalam Muktamar Muhammadiyah selanjutnya, sampai pada tahun 1971 ia memohon agar tidak dipilih kembali karena merasa uzur. Akan tetapi, ia tetap diangkat sebagai penasihat pimpinan pusat Muhammadiyah sampai akhir hayatnya.
                                                                                                            



BAB V
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Menurut HAMKA, proses pendidikan tidak hanya berorientasi pada hal-hal yang bersifat material belaka. Pendekatan yang demikian itu tidak akan dapat membawa manusia kepada kepuasan batin (rohani). Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang dapat mengintegralkan potensi fitrah-Nya yang tinggi dengan potensi akal pikiran, perasaan dan sifat-sifat kemanusiaannya yang lain secara serasi dan seimbang. Melalui integrasi kedua unsur potensi tersebut, maka peserta didik akan mampu mengetahui rahasia yang tertulis (Al-Qur’an dan Hadis) dan fenomena alam semesta yang tak tertulis (QS. Faathir: 28).
Ada tiga institusi yang Bertanggung jawab dalam pelaksanaan pendidikan, yakni:
1.      Lembaga pendidikan informal (keluarga)
2.      Lembaga pendidikan nonformal (lingkungan
3.      Lembaga pendidikan formal (sekolah)
Menurut HAMKA, untuk membentuk peserta didik yang memiliki kepribadian paripurna, maka eksistensi pendidikan agama merupakan sebuah kemestian untuk diajarkan, meskipun pada sekolah-sekolah umum. Namun demikian, jadi prosesnya tidak hanya dilakukan sebatas transfer of knowledge, akan tetapi jauh lebih penting adalah bagaimana ilmu yang mereka peroleh mampu membuahkan suatu sikap yang baik (akhlak al-karimah), sesuai dengan pesan nilai ilmu yang dimilikinya. Sehingga in put dan proses out put nya juga bagus sesuai antara teori dan peneraman moralnya, sehingga bukan hanya berhasil melahirkan out put yang memiliki wawasan keagamaan yang luas, dan fasih berbahasa Arab, akan tetapi memiliki budi pekerti yang masih rendah.
B.     Saran
Demikian makalah ini saya buat, mudah-mudahan makalah yang saya buat bermanfaat untuk umum. Makalah yang saya buat masih banyak kesalahan, oleh karena itu saya meminta kritik dan saran yang sangat membangun. Terima kasih.





DAFTAR PUSTAKA

http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/285-ensiklopedi/1259-ulama-politisi-dan-sastrawan-besar
http://id.wikipedia.org/wiki/Haji_Abdul_Malik_Karim_Amrullah
http://www.academia.edu/5490737/tokoh_Pendidikan_Islam_di_Indonesia
http://mcdens13.wordpress.com/2012/07/04/pemikiran-pendidikan-islam-hamka/
http://tulisan377.blogspot.com/2013/05/konsep-pendidikan-hamka.html
http://fiitrifaholv1992.blogspot.com/2014/02/pendidikan-islam-menurut-buya-hamka.html




 

0 komentar :

Posting Komentar