10 PRINSIP ILMU PENGETAHUAN TENTANG SEJARAH PERADANBAN ISLAM

Kamis, 31 Desember 2015

10 PRINSIP ILMU PENGETAHUAN TENTANG SEJARAH PERADANBAN ISLAM




10 PRINSIP ILMU PENGETAHUAN TENTANG SEJARAH PERADANBAN ISLAM
1.      Prinsip Universalitas ilmu.
Dalam hal ini, ilmu pengetahuan tentang peradaban islam merupakan hal yang mencakup semuannya, baik itu ilmu agama ataupun ilmu yang umum. Bersifat teori ataupun eksperimen. Selama ilmu itu masih berjalan pada ranah pelayanan agama dan dunia, demi kemajuan, kepentingan kehidupan dan kemanusiaan. Dalam hal menuntut ilmu, islam tidak meletakkan batasan mengenai ilmu agama ataupun ilmu dunia saja. Tetapi menempatkan kepada sebuah istilah yang menyangkut kedua hal tersebut. Atau dalam artian lain adalah semua jenis ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan.
2.      Prinsip memikirkan hasil ciptaan Allah.
Terdapat banyak hal yang dapat mendorong manusia untuk berfikir secara rasional dan logis mengenai penciptaan langit dan bumi. Dalam rangka untuk mencapai ilmu, substansi dan kakikat yang benar. Dari sini kita pahami bahwa memikirkan hasil ciptaan dan kreasi Allah merupakan salah satu akses menuju sebuah peradaban dan merupakan cahaya penerang, untuk menyingkap ilmu pengetahuan sepanjang masa hingga hari kiamat kelak.
3.      Prinsip manusia sebagai makhluk mulia.
Banyak ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia. Lalu, dimana sisi manusia yang menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk yang sempurna?. Pertama, Allah memuliakan manusia dengan logika dan perasaan. Logika dan perasaan meripakan media ilmu pengetahuan atau alat penyikap esensi dan hakikat sesuatu serta berperan dalam menyikap kebesaran dan keagungan Allah di alam semesta. Kedua, Allah menjadikan manusia sebagai Khalifah. Ketiga, Allah menundukkan alam untuk manusian. Dengan tunduknya alam, Allah memberikan manusia kesempatan untuk memperbaharui peradaban dengan cara meng-eksploitasi alam tersebut dengan cara yang bijak.
4.      Prinsip persamaan HAM.
Ilmu pengetahuan tidak memandang jenis ras, suku, bangsa, warna kulit dan agama. Seperti prinsip nomor satu tadi, bahwa ilmu pengetahuan bersifat menyeluruh, fleksibel dapat digunakan oleh siapapun dimanapun dan kapanpun sesuai dengan kebutuhan dan digunakan secara bijak. Dari sini kita semakin memahami bahwa setiap individu yang menjalankan agama Islam ini dari semua aspek seperti aqidah, ibadah dan hukum, berarti telah ikut serta dalam membangun peradaban kemanusiaan dan kemuliaaan umat Islam sepanjang zaman.
5.      Prinsip transparansi.
Trasparansi dari kata trasnparan yang berati tembus pandang. Maksudnya adalah ilmu pengetahuan harus terbuka kepada semua manusia, tidak tertutup sehingga dapat menimbulkan kesan bahwa ilmu pengetahuan hanya untuk golongan tertentu. Islam berupaya untuk selalu terbuka terhadap semua golongan termasuk yang non-muslim. Semua itu mempunyai tujuan diantarannya untuk lebih mengenal dan mengambil manfaat dari model peradaban dan kemajuan yang beraneka ragam.
6.      Prinsip yang tidak lepas dari konsep teologi atau tauhid.
Teologi yang dimaksud bukan semata-mata meyakini Allah dalam hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan lewat perbuatan. Tetapi merupakan aktivitas mental berupa kesadaran manusia yang paling dalam perihal hubungan manusia dengan Allah swt., lingkungan dan sesama. Lebih tegasnya adalah teologi yang memunculkan kesadaran, yakni suatu matra yang paling dalam diri manusia yang merubah pandangan dunianya dan kemudian menghasilkan pola sikap dan tindakan yang selaras dengan pandangan dunia itu. Oleh karena itu, teologi pada ujungnya akan mempunyai implikasi yang sangat sosiologis, sekaligus antropologis.
7.      Prinsip semata-mata untuk bertakwa dan mendapatkan ridha Allah.
Hamba yang shalih akan mempelajari ilmu dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah, meraih ridha-Nya, dan mendapatkan pahala dari-Nya. Sesungguhnya ia tidak akan belajar ilmu demi meraih materi keduniaan yang fana, sehingga ia tidak akan mendapatkan pahala dari Allah. Hal ini penting ditegaskan, karena dorongan Al-Qur’an untuk mempelajari fenomena alam dan sosial tampak kurang diperhatikan, sebagai akibat perhatian dakwah Islam yang semula lebih tertuju untuk memperoleh keselamatan di Akhirat. Hal ini mesti diimbangi dengan perintah kepada Allah dalam arti yang luas, termasuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Menyesuaikan motivasi pengembangan ilmiah dengan ajaran Islam selain akan meningkatkan kuantitas juga kualitas ilmiah, karena motivasi utama tidak untuk mendapatkan popularitas dan imbalan materi semata atau sekedar ilmu untuk ilmu, melainkan mengembangkan ilmu yang didorong oleh keikhlasan dan rasa tanggung jawab kepada Allah. Dengan cara demikian, tujuan humanis ilmu pengetahuan bisa tercapai dan tidak digunakan untuk tujuan-tujuan yang membahayakan dan merugikan manusia
8.      Prinsip yang selalu memegang teguh sikap toleransi beragama.
Islam memegang teguh prinsip ini karena mereka kawatir jika syariat islam akan tercampur dengan syariat yang tidak terdapat dalam islam. Hal ini bertujun agar kebudayaan yang akan terjadi dimasa yang akan datang tidak mengalami proses perbedan pemikiran. Yang kemudian akan melahirkan sesuatu yang biasanya disebut dengan bid’ah. Padahal, sesuai dengan sabda rasul sesuatu yang bid’ah itu adalah haram. Disinilah umat islam selalu berhati-hati dengan persoalan agama, demi terciptanya peradaban islam yang sesungguhnya.
9.      Prinsip tidak mencari ilmu hanya untuk kebanggan semata.
Seorang muslim yang baik tidak akan mempelajari ilmu hanya untuk dipamerkan kepada saudara, ulama dan untuk membantah orang bodoh. Mereka mencari ilmu untuk dikembelikan lagi kepada seluruh manusia, yang kemujdian akan dievaluasi oleh masyarakat kembali. Dengan tujuan agar manusia dapat belajar dengan baik sesuai dengan apa yang telah ia dapatkan dari berbagai guru, dan diajarkan kembali. Jadi di sini telah terjalin sebuah peradaban ilmu pengetahuan walaupun masih berskala kecil, tetapi ini merupakan cikal bakal adanya peradaban ilmu pengetahuan
10.  Prinsip yang selalu menjunjung prinsip moral.
Dalam sistem dan interaksi sosial, dalam hukum dan perundang-undangan, pendidikan dan ilmu pengetahuan, dan lain-lain, moralitas selalu menjadi salah satu pondasi utama. Tidak ada suatu sistem budaya yang lebih tinggi perhatiannya terhadap moralitas dari pada peradaban Islam. Karena, sebagaimana ditegaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW, bahwa Islam lahir untuk tujuan memperbaiki moralitas manusia. Uniknya lagi, etika dan nilai-nilai moralitas yang diajarkan dan diteladankan oleh Nabi SAW hingga sekarang secara umum tetap diterapkan tanpa ada perubahan secara signifikan.

0 komentar :

Posting Komentar