10 PRINSIP ILMU PENGETAHUAN TENTANG SEJARAH PERADANBAN ISLAM
10 PRINSIP ILMU
PENGETAHUAN TENTANG SEJARAH PERADANBAN ISLAM
1.
Prinsip
Universalitas ilmu.
Dalam hal ini, ilmu pengetahuan
tentang peradaban islam merupakan hal yang mencakup semuannya, baik itu ilmu
agama ataupun ilmu yang umum. Bersifat teori ataupun eksperimen. Selama ilmu
itu masih berjalan pada ranah pelayanan agama dan dunia, demi kemajuan,
kepentingan kehidupan dan kemanusiaan. Dalam hal menuntut ilmu, islam tidak
meletakkan batasan mengenai ilmu agama ataupun ilmu dunia saja. Tetapi
menempatkan kepada sebuah istilah yang menyangkut kedua hal tersebut. Atau
dalam artian lain adalah semua jenis ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan.
2.
Prinsip
memikirkan hasil ciptaan Allah.
Terdapat banyak hal yang dapat
mendorong manusia untuk berfikir secara rasional dan logis mengenai penciptaan
langit dan bumi. Dalam rangka untuk mencapai ilmu, substansi dan kakikat yang
benar. Dari sini kita pahami bahwa memikirkan
hasil ciptaan dan kreasi Allah merupakan salah satu akses menuju sebuah
peradaban dan merupakan cahaya penerang, untuk menyingkap ilmu pengetahuan
sepanjang masa hingga hari kiamat kelak.
3.
Prinsip
manusia sebagai makhluk mulia.
Banyak ayat Al-Qur’an yang
menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia. Lalu, dimana sisi
manusia yang menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk yang sempurna?. Pertama,
Allah memuliakan manusia dengan logika dan perasaan. Logika dan perasaan
meripakan media ilmu pengetahuan atau alat penyikap esensi dan hakikat sesuatu
serta berperan dalam menyikap kebesaran dan keagungan Allah di alam semesta. Kedua,
Allah menjadikan manusia sebagai Khalifah. Ketiga, Allah menundukkan
alam untuk manusian. Dengan tunduknya alam, Allah memberikan manusia kesempatan
untuk memperbaharui peradaban dengan cara meng-eksploitasi alam tersebut dengan
cara yang bijak.
4.
Prinsip
persamaan HAM.
Ilmu pengetahuan tidak memandang
jenis ras, suku, bangsa, warna kulit dan agama. Seperti prinsip nomor satu
tadi, bahwa ilmu pengetahuan bersifat menyeluruh, fleksibel dapat digunakan
oleh siapapun dimanapun dan kapanpun sesuai dengan kebutuhan dan digunakan
secara bijak. Dari sini kita semakin memahami
bahwa setiap individu yang menjalankan agama Islam ini dari semua aspek seperti
aqidah, ibadah dan hukum, berarti telah ikut serta dalam membangun peradaban
kemanusiaan dan kemuliaaan umat Islam sepanjang zaman.
5.
Prinsip
transparansi.
Trasparansi dari kata trasnparan
yang berati tembus pandang. Maksudnya adalah ilmu pengetahuan harus terbuka
kepada semua manusia, tidak tertutup sehingga dapat menimbulkan kesan bahwa
ilmu pengetahuan hanya untuk golongan tertentu. Islam berupaya untuk selalu
terbuka terhadap semua golongan termasuk yang non-muslim. Semua itu mempunyai
tujuan diantarannya untuk lebih mengenal dan mengambil manfaat dari model
peradaban dan kemajuan yang beraneka ragam.
6.
Prinsip
yang tidak lepas dari konsep teologi atau tauhid.
Teologi yang dimaksud bukan
semata-mata meyakini Allah dalam hati, mengucapkan dengan lisan, dan
mengamalkan lewat perbuatan. Tetapi merupakan aktivitas mental berupa
kesadaran manusia yang paling dalam perihal hubungan manusia dengan Allah swt.,
lingkungan dan sesama. Lebih tegasnya adalah teologi yang memunculkan
kesadaran, yakni suatu matra yang paling dalam diri manusia yang merubah
pandangan dunianya dan kemudian menghasilkan pola sikap dan tindakan yang
selaras dengan pandangan dunia itu. Oleh karena itu, teologi pada ujungnya akan
mempunyai implikasi yang sangat sosiologis, sekaligus antropologis.
7.
Prinsip
semata-mata untuk bertakwa dan mendapatkan ridha Allah.
Hamba yang shalih akan
mempelajari ilmu dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah, meraih
ridha-Nya, dan mendapatkan pahala dari-Nya. Sesungguhnya ia tidak akan belajar
ilmu demi meraih materi keduniaan yang fana, sehingga ia tidak akan mendapatkan
pahala dari Allah. Hal ini penting ditegaskan, karena dorongan
Al-Qur’an untuk mempelajari fenomena alam dan sosial tampak kurang
diperhatikan, sebagai akibat perhatian dakwah Islam yang semula lebih tertuju
untuk memperoleh keselamatan di Akhirat. Hal ini mesti diimbangi dengan
perintah kepada Allah dalam arti yang luas, termasuk mengembangkan ilmu
pengetahuan. Menyesuaikan motivasi pengembangan ilmiah dengan ajaran Islam
selain akan meningkatkan kuantitas juga kualitas ilmiah, karena motivasi utama
tidak untuk mendapatkan popularitas dan imbalan materi semata atau sekedar ilmu
untuk ilmu, melainkan mengembangkan ilmu yang didorong oleh keikhlasan dan rasa
tanggung jawab kepada Allah. Dengan cara demikian, tujuan humanis ilmu
pengetahuan bisa tercapai dan tidak digunakan untuk tujuan-tujuan yang
membahayakan dan merugikan manusia
8.
Prinsip
yang selalu memegang teguh sikap toleransi beragama.
Islam memegang teguh prinsip ini karena mereka kawatir jika syariat
islam akan tercampur dengan syariat yang tidak terdapat dalam islam. Hal ini
bertujun agar kebudayaan yang akan terjadi dimasa yang akan datang tidak
mengalami proses perbedan pemikiran. Yang kemudian akan melahirkan sesuatu yang
biasanya disebut dengan bid’ah. Padahal, sesuai dengan sabda rasul
sesuatu yang bid’ah itu adalah haram. Disinilah umat islam selalu
berhati-hati dengan persoalan agama, demi terciptanya peradaban islam yang
sesungguhnya.
9.
Prinsip
tidak mencari ilmu hanya untuk kebanggan semata.
Seorang muslim yang baik tidak akan
mempelajari ilmu hanya untuk dipamerkan kepada saudara, ulama dan untuk
membantah orang bodoh. Mereka mencari ilmu untuk dikembelikan lagi kepada
seluruh manusia, yang kemujdian akan dievaluasi oleh masyarakat kembali. Dengan
tujuan agar manusia dapat belajar dengan baik sesuai dengan apa yang telah ia
dapatkan dari berbagai guru, dan diajarkan kembali. Jadi di sini telah terjalin
sebuah peradaban ilmu pengetahuan walaupun masih berskala kecil, tetapi ini
merupakan cikal bakal adanya peradaban ilmu pengetahuan
10.
Prinsip
yang selalu menjunjung prinsip moral.
Dalam sistem dan interaksi sosial, dalam hukum dan perundang-undangan,
pendidikan dan ilmu pengetahuan, dan lain-lain, moralitas selalu menjadi salah
satu pondasi utama. Tidak ada suatu sistem budaya yang lebih tinggi
perhatiannya terhadap moralitas dari pada peradaban Islam. Karena, sebagaimana
ditegaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW, bahwa Islam lahir untuk tujuan
memperbaiki moralitas manusia. Uniknya lagi, etika dan nilai-nilai moralitas
yang diajarkan dan diteladankan oleh Nabi SAW hingga sekarang secara umum tetap
diterapkan tanpa ada perubahan secara signifikan.

0 komentar :
Posting Komentar