PERUBAHAN PERAN PERMAINAN TRADISIONA OLEH PERMAINAN MODERN DENGAN UNSUR KOMPUTERISARI
PERUBAHAN
PERAN PERMAINAN TRADISIONA OLEH PERMAINAN MODERN DENGAN UNSUR KOMPUTERISARI
Guna
Memenuhi Tugas
Mata
Kuliah : Karya Tulis Ilmiah
Dosen
Pengampu : Agus Sutiyono, M. Ag
Di
Susun Oleh :
Bryan
Adam Pratama (1403036076)
FAKULTAS
ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2014
BAB I
PENDAHULUAN
I.
Latar Belakang Masalah
Modernisasi
merupakan salah satu efek dari adanya globalisasi yang menyebabkan transformasi
dari sistem tradisional menjadi modern. Semua aspek kehidupan sekarang ini,
telah terkontaminasi dan terkena imbas modernisasi, mulai dari kebiasaan, gaya
hidup, ekonomi, politik, sosial, budaya dan bahkan berimbas pada pendidikan.
Akan tetapi, dari sekian banyak aspek yang terkena imbas modernisasi salah satu
yang paling sangat terasa terkena imbasnya adalah permainan tradisional.
Akibat
adanya modernisasi permainan tradisional pada saat ini telah ditinggalkan dan
bahkan sudah tidak menarik minat anak-anak dan remaja. Mereka justru lebih
tertarik pada permainan modern dibandingkan dengan permainan tradisional.
Permainan modern yang saat ini disukai anak-anak dan remaja sebenarnya kurang
akan kandungan pesan moral, nilai-nilai dan jauh dari kesan mendidik.
Berbanding terbalik dengan permainan modern, permainan tradisional sebenarnya
penuh dengan filosofi, pesan moral, nilai-nilai dan mendidik. Anak-anak dan remaja jaman sekarang lebih tertarik
bermain Playstation, Nitendo, Internet dll, dibandingkan dengan bermain
Bebentengan, Congklak, Galah asin, kucing-kucingan dsb. Jika kita tanyakan nama-nama permainan
tradisional kepada mereka mungkin sebagian dari mereka tidak akan tahu terhadap
permainan tersebut. Permainan tradisional sebenarnya lebih memberikan manfaat
baik secara jasmani maupun rohani jika dibandingkan dengan permainan modern.
II.
Definisi Operasional
Menurut
kamus umum Bahasa Indonesia, permainan adalah jamak dari kata “main” yang
berarti kegiatan yang dapat menghibur dan menyenangkan hati. Sedangkan
tradisional menurut kamus umum Bahasa Indonesia adalah sesuatu yang turun
menurun dari nenek moyang, baik benda maupun yang lainnya.
Jadi
Permainan Tradisional adalah kegiatan yang menghibur dan menyenangkan hati yang
diwariskan dari oarang terdahulu atau nenek moyang untuk anak cucu mereka.
III.
Rumusan Masalah
1.
Apa permainan tradisional yang terdapat
pada Dusun Segono Kidul RT. 03/RW. 05, Desa Campurejo, Kecamatan Boja,
Kabupaten Kendal?
2.
Mengapa minat anak Dusun Segono Kidul
RT. 03/RW. 05, Desa Campurejo, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal terhadap
permainan tradisional menurun?
IV.
Tujuan dan Manfaat
A.
Tujuan
Adapun
dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui mengapa permaina
tradisional yang ada di Indonesia ini semakin mundur dan kurang berkembang.
B.
Manfaat
Untuk menambah wawasan dan dapat
memberikan saran yang membangun bagi masyarakat Indonesia.
V.
Telaah Pustaka
Setelah
mengkaji dan membaca karya tulis lain tentang permainan tradisional di
Indonesia, maka dalam hal ini penulis akan berfokus pada pengertianm manfaat
dan kegunaan permainan tradisional secara umum.
VI.
Metode Penelitian
1.
Jenis penelitian
Penelitian
yang penulis lakukan adalah penelitian yang langsung dilakukan di lapangan guna
mengetahui mengapa anak-anak di Dusun Segono Kidul RT. 03/RW. 05, Desa
Campurejo, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal mengalami perubahan dalam hal
permainan yang tadinya sering bermain dengan permainan tradisional kemudian
beralih ke permainan yang modern.
2.
Subyek Penelitian
Subyek
penelitian adalah sumber data atau informasi yang diperoleh untuk pembuatan
penelitian ini. Subyek yang penulis gunakan adalah Anak dan orangtua.
3.
Metode Pengumpulan Data
Dalam
proses pengumpulan data, penulis menggunakan beberapa metode guna dalam
pengumpulan data dapat diperoleh data yang valid, diantaranya:
a.
Observasi
Observasi
adalah pengumpulan data dengan cara mengamati permasalahan yang sedang terjadi
secara langsung. Yang diamati disini adalah lahan atau tempat yang digunakan
untuk melakukan permainan tradisional dan alat yang digunakan untuk bermain
dapat ditemukan dengan mudah atau tidak.
b.
Interview
Interview
adalah percakapan dua orang guna mendapatkan informasi yang diperlukan. Metode
ini dilakukan kepada anak-anak langsung dan orang tua mereka.
VII.
Sistematika Penulisan Penelitian
Adapun sistematika penulisan karya tulis ini diuraikan sebagai berikut :
1. Bab
Satu: Pendahuluan, yang berisikan: latarbelakangmasalah, perumusanmasalah,
tujuan dan manfaat, telaah pustaka, metode penelitian, dan sistematika penulisan.
2.
Bab Dua: Kajian Teori, yang didalamnya
membahas tentang Pengertian Permainan Tradisional dan aspek-aspeknya
3. Bab
Tiga: Pembahasan, berisikan tentang penyajian data dan pemecahan terhadap masalah-masalah mengapa minat anak
turun terhadap permainan tradisional.
4. Bab
Empat: Penutup, yang mana isinya adalah kesimpulan dan saran dari seluruh pembaca
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengertian
Permainan Tradisional
Permainan
tradisional adalah suatu bentuk permainan yang dimiliki oleh suatu daerah yang
merujuk permainan budaya yang sudah diamalkan oleh sesuatu masyarakat kita.
Menurut kamus umum Bahasa Indonesia,
permainan adalah jamak dari kata “main” yang berarti kegiatan yang dapat menghibur
dan menyenangkan hati. Sedangkan tradisional menurut kamus umum Bahasa
Indonesia adalah sesuatu yang turun menurun dari nenek moyang, baik benda
maupun yang lainnya.
Istilah permainan dapat berbeda
dikalangan para ahli Bahasa dan Psikologi. Menurut Hans Daeng (dalam Andang
Ismail, 2009: 17) permainan adalah
bagian mutlak dari kehidupan anak dan permainan merupakan bagian integral dari
proses pembentukan kepribadian anak. Selanjutnya Andang Ismail (2009: 26)
menuturkan bahwa permainan ada dua pengertian:
Pertama, permainan adalah sebuah aktifitas bermain yang
murni mencari kesenangan tanpa mencari menang atau kalah. Kedua, permainan diartikan sebagai aktifitas bermain
yang dilakukan dalam rangka mencari kesenangan dan kepuasan, namun ditandai
pencarian menang-kalah.
Menurut Kimpraswil (dalam As’adi
Muhammad, 2009: 26) mengatakan bahwa definisi permainan adalah usaha
olah diri (olah pikiran dan olah fisik) yang sangat bermanfaat bagi peningkatan
dan pengembangan motivasi, kinerja, dan
prestasi dalam melaksanakan tugas dan kepentingan organisasi dengan lebih baik.
Joan Freeman dan Utami
munandar (dalam Andang Ismail, 2009: 27) mendefinisikan prmainan sebagai suatu
aktifitas yang membantu anak mencapai perkembangan yang utuh, baik fisik,
intelektual, sosial, moral, dan emosional.
Menurut
Soetoto Pontjopoetro (2006 : 6.1) Indonesia memiliki beraneka ragam suku bagsa
dan budaya, sehingga banyak memiliki jenis-jenis permainan tradisional yang
sering dimainkan oleh masyarakat untuk mengisi waktu luang selesai melakukan
kegiatan sehari-hari. Tiap daerah memiliki jenis dan cara bermain yang
berbeda-beda, tetapi ada beberapa permainan yang mempunyai persamaan dalam hal
cara bermain dan peraturan, hanya nama yang berbeda. Permainan anak adalah
salah satu jenis permainan yang diperuntukkan untuk anakanak, diantaranya
berasal dari permainan tradisional yang berbeda-beda dari tiap daerah. Nama
permainan tradisional umumnya berasal dari latar belakang, tujuanataupun dari
legenda yang berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat danpermainan anak
tradisional tidak semuanya mengandung unsur pendidikan jasmani. Dalam permainan
ini anak banyak sekali bergerak, suatu hal yang mempunyai pengaruh baik
terhadap peredaran darah. Luas pernafasan diperbesar, ruang dada diperbesar
keseluruh jurusan, dan paru-paru lebih baik. Karena permainan traisional banyak
bergerak, maka organ-organ tubuh kita berfungsi lebih baik, dan pada gilirannya
akan meningkatkan kesegaran jasmani dan kesehatan.
Permainan tradisonal merupakan
simbolisasi dari pengetahuan yang turun temurun dan mempunyai bermacam-macam
fungsi atau pesan di baliknya, di mana pada prinsipnya permainan anak tetap
merupakan permainan anak. Dengan demikian bentuk atau wujudnya tetap
menyenangkan dan menggembirakan anak karena tujuannya sebagai media permainan.
Aktivitas permainan yang dapat mengembangkan aspek-aspek psikologis anak dapat
dijadikan sarana belajar sebagai persiapan menuju dunia orang dewasa.
Menurut Mulyadi (2004)
bermain secara umum sering dikaitkan dengan kegiatan anak-anak yang dilakukan
secara spontan yang terdapat lima pengertian bermain; (1) sesuatu yang
menyenangkan dan memiliki nilai intrinsik pada anak (2) tidak memiliki tujuan
ekstrinsik, motivasinya lebih bersifat intrinsik (3) bersifat spontan dan
sukarela, tidak ada unsur keterpaksaan dan bebas dipilih oleh anak serta
melibatkan peran aktif keikutsertaan anak, dan (4)memiliki hubungan sistematik
yang khusus dengan seuatu yang bukan bermain, seperti kreativitas, pemecahan
masalah, belajar bahasa, perkembangan sosial.
Mulyadi (1999) menyatakan
ciri-ciri permainan tradisional antara lain:
1. Memerlukan
tanah apang, karena permainan ini dilakukan di tempat terbuka.
2. Dimainkan
secara beramai-ramai
3. Menggunakan
bahan-bahan yang telah tersedia di aam misalnya batu, kayu ataupun pecahan
genting.
4. Melibatkan
fisik yang cukup berat seperti berlari, melompat dan melempar sekuat tenaga
yang diiringi oleh lagu atau gerakan tertentu.
Permainan
tradisional juga dikenal sebagai permainan rakyat, merupakan sebuah kegiatan
rekreatif yang tidak hanya bertujuan untuk menghibur diri, tetapi juga sebagai
alat untuk memelihara hubungan dan kenyamanan sosial. Dengan demikian bermain
merupakan suatu kebutuhan bagi anak. Jadi bermain bagi anak mempunyai nilai dan
ciri yang penting dalam kemajuan perkembangan kehidupan sehari-hari termasuk
dalam permainan tradisional.
Jadi, jika dikaitkan
dengan kata tradisional, maka Dari pendapat para ahli tentang
permainan tradisional dapat disimpulkan bahwa permainan tradisional adalah
permainan yang dimiliki oleh suatu daerah, yang pada umumnya berasal dari latar
belakang, tujuan atau dari legenda yang berkaitan dengan kehidupan sosial.
Karena permainan tradisional banyak sekali bergerak maka akan dapat
meningkatkan kesegaran jasmani dan kesehatan rohani
B. Aspek Permainan Tradisional
1.
Aspek-aspek permainan tradisional
diantaranya:
a. aspek
jasmani yang terdiri dari kekuatan dan daya tahan tubuh serta kelenturan;
b. aspek
psikis, yang meliputi unsur berfikir, unsur berhitung, kecerdasan, kemampuan
membuat siasat, kemampuan mengatasi hambatan, daya ingat, dan kreativitas;
c. aspek
sosial meliputi unsur kerjasama, suka akan keteraturan, hormat menghormati,
balas budi dan sifat malu.
C. Tujuan
Permainan Tradisional
Tujuan permainan ebih ditekankan
kepada pencapaian kesenangan dan kepuasan batin. Sedangkan jika ditinjau
sebagai sebuah kegiatan mayang mendidik, permainan harus dapat diarahkan untuk
dapat menghasilkan perubahan sikap. Dengan bermain diharapkan daya pikir, cipta
bahasa, ketrampilan, jasmani dan rohani dapat berkembang dengan maksimal.
Tujuan dari permainan tradisional
jika dipandang sebagai sebuah metode atau cara mendidik yang menyenangkan
adalah sebagai berikut:
1.
Untuk mengembangkan konsep diri
Konsep
diri merupakan faktor kepribadian yang utama. Dengan memiliki konsep diri,
berarti anak memiliki kepercayaan yang kuat terhadap dirinya.
2.
Untuk mengembangkan kreativitas
Melaui kegiatan bermain dengan berbagai permainan, anak dirangsang
untuk berpikir, emosi maupun sosial. Setiap anak memiliki irama dalam bermain
yang berainan, disesuaikan dengan perkembangan anak. Semakin besar fantasi yang
bisa dikembangkan oleh anak dari sebuah mainan, akan lebih lama mainan itu
menarik baginya dan anak dapat melakukan dan menciptakan sesuatu dari permainan
itu dengan tangannya sendiri.
3.
Untuk mengembangkan
komunikasi
Yang dimaksud dengan komunikasi disini adalah sebuah interaksi
antara dua anak atau lebih dalam rangka menyampaikan pesan atau informasi kepad
ayang dituju. Anak berkomuniaksi dengan tujuan untuk mengembangkan konsep
sosialisasi dalam arti ebih khusus.
4.
Mengembangkan aspek fisik
dan motorik
Perkembangan motorik merupakan kemampuan bergerak atau menggerakan
tubuhnya secara keseluruhan. Gerakan anak pada usia dini lebih terkendai dan
terorganisasi dalam pola-pola seperti menegakkan tubuh daam posisi berdiri,
mampu melangkah dengan menggerakan tungkai dan kaki. Pola-pola tersebut
memungkinkan anak untuk memberikan respon dalam berbgai situasi yang mereka
hadapi. Pada masa ini keterampilan motorik kasar dan halus sangat pesat
perkembangannya. Semakin sering anak bermain dapat melatih sensor motoriknya
menjadi sempurna, makanya anak harus diberi kebebasan untuk berekspresi.
5.
Mengembangkan aspek sosial
Dengan teman sepermainanya yang sebaya usianya, anak akan belajar
berbagi hak milik, menggunakan mainan secara bergilir, melakukan bersama,
mempertahankan hubungan yang sudah terbina, dan mencari cara pemecahan masalah
yang dihadapi teman mainnya.
D. Manfaat permainan tradisional
Secara garis besar, permainan
tradisional sangat bermanfaat bagi tumbuh kembang anak sebagai pribadi maupun
sebagai makhluk sosial. Permainan tradisional bermanfaat untuk meningkatkan
kemampuan berbahasa, berfikir serta bergaul dengan ingkungan. Manfaat bermain
bagi anak antara ain:
1. Bermain memicukreativitas.
2. Bermain bermanfaat mencerdaskan otak anak.
3. Bermain bermanfaat menagnggulangi konflik.
4. Bermain bermanfaat untuk melatih empati .
5. Bermain dapat mengasah panca indera.
6. Bermain sebagi media terapi.
7. Bermain dapat menghasilkan hal yang baru.
E. Contoh Permainan Tradisional
1.
Bentengan
Permainan ini dimainkan oleh dua
kelompok, masing–masing kelompok terdiri dari 4 sampai 8 orang. Kedua kelompok
kemudian akan memilih suatu tempat sebagai markas, biasanya sebuah tiang, batu
atau pilar yang disebut sebagai “benteng”.
Tujuan utama permainan ini adalah
untuk menyerang dan mengambil alih “benteng” lawan dengan menyentuh tiang atau
pilar yang telah dipilih oleh lawan dan meneriakkan kata benteng.
Kemenangan juga bisa diraih dengan
“menawan” seluruh anggota lawan dengan menyentuh tubuh mereka. Untuk menentukan
siapa yang berhak menjadi “penawan”, ditentukan dari siapa yang paling akhir
menyentuh “benteng” mereka.
2.
Congklak
Congklak adalah suatu permainan
tradisional yang dikenal dengan berbagai macam nama di seluruh Indonesia.
Biasanya dalam permainan, sejenis cangkang kerang digunakan sebagai biji
congklak dan jika tidak ada, kadangkala digunakan juga biji-bijian dari
tumbuhan. Permainan congklak dilakukan oleh dua orang. Dalam permainan mereka
menggunakan papan yang dinamakan papan congklak dan 98 (14 x 7) buah biji yang
dinamakan biji congklak atau buah congklak. Umumnya papan congklak terbuat dari
kayu dan plastik, sedangkan bijinya terbuat dari cangkang kerang, biji-bijian,
batu-batuan, kelereng atau plastik. Pada papan congklak terdapat 16 buah lobang
yang terdiri atas 14 lobang kecil yang saling berhadapan dan 2 lobang besar di
kedua ujungnya. Setiap 7 lobang kecil di sisi pemain dan lobang besar di sisi
kanannya dianggap sebagai milik sang pemain.
Pada awal permainan setiap lobang
kecil diisi dengan tujuh buah biji. Dua orang pemain yang berhadapan, salah
seorang yang memulai dapat memilih lobang yang akan diambil dan meletakkan satu
ke lobang di sebelah kanannya dan seterusnya. Bila biji habis di lobang kecil
yang berisi biji lainnya, ia dapat mengambil biji-biji tersebut dan melanjutkan
mengisi, bisa habis di lobang besar miliknya maka ia dapat melanjutkan dengan
memilih lobang kecil di sisinya. Bila habis di lubang kecil di sisinya maka ia
berhenti dan mengambil seluruh biji di sisi yang berhadapan. Tetapi bila
berhenti di lobang kosong di sisi lawan maka ia berhenti dan tidak mendapatkan
apa-apa.Permainan dianggap selesai bila sudah tidak ada biji lagi yang
dapat diambil (seluruh biji ada di lobang besar kedua pemain). Pemenangnya
adalah yang mendapatkan biji terbanyak.
3.
Galasin atau Gobak Sodor
Galah Asin atau di daerah lain
disebut Galasin atau Gobak Sodor adalah sejenis permainan daerah dari Indonesia.
Permainan ini adalah sebuah permainan grup yang terdiri dari dua grup, di mana
masing-masing tim terdiri dari 3–5 orang. Inti permainannya adalah menghadang
lawan agar tidak bisa lolos melewati garis ke baris terakhir secara
bolak-balik, dan untuk meraih kemenangan seluruh anggota grup harus secara
lengkap melakukan proses bolak-balik dalam area lapangan yang telah ditentukan.
Permainan ini biasanya dimainkan di lapangan bulu tangkis dengan acuan
garis-garis yang ada atau bisa juga dengan menggunakan lapangan segi empat
dengan ukuran 9 x 4 m yang dibagi menjadi 6 bagian.
Garis batas dari setiap bagian
biasanya diberi tanda dengan kapur. Anggota grup yang mendapat giliran untuk
menjaga lapangan ini terbagi dua, yaitu anggota grup yang menjaga garis batas
horisontal dan garis batas vertikal. Bagi anggota grup yang mendapatkan tugas
untuk menjaga garis batas horisontal, maka mereka akan berusaha untuk
menghalangi lawan mereka yang juga berusaha untuk melewati garis batas yang
sudah ditentukan sebagai garis batas bebas. Bagi anggota grup yang mendapatkan
tugas untuk menjaga garis batas vertikal (umumnya hanya satu orang), maka orang
ini mempunyai akses untuk keseluruhan garis batas vertikal yang terletak di
tengah lapangan. Permainan ini sangat mengasyikkan sekaligus sangat sulit
karena setiap orang harus selalu berjaga dan berlari secepat mungkin jika
diperlukan untuk meraih kemenangan.
F.
Faktor yang mempengaruhi
menurunnya minat anak terhadap permainan tradisional.
Yang
menjadi faktor adalah diantaraanya:
1. Faktor dari dalam diri. Faktor daam diri ini bisa saja kemalasan
atau engganya bermain dengan yang seumuran mereka. Mereka menganggap bahwa jika
bermain dengan orang yang lebih dewasa maka dia akan merasa dilindungi dan
merasa seakan-akan dia akan yang menjadi pemenangnya, karena orang dewasa
tersebut mengalah dengannya.
2. Faktor lingkungan. Faktor lingkungan juga berpengaruh, apakah
daerah tersebut mempunyai lahan atau tempat yang dapat digunakan sebagai arena
bermain. Seperti saja permainan Grobak Sodor, yang harus membutuhkan lahan
yang cukup luas agar para pemain dapat berlari dan menghindar dengan leluasa.
3. Faktor Keuarga. Faktor dalam keluarga juga sangat berpengaruh
dalam hal ini. Orang tua merekalah yang harus pertama kali mengajarkan kepada
anak-anak mereka tentang permainan tradisional.
BAB III
HASIL
PENELITIAN
Dari hasil wawancara yang penulis lakukan telah disimpulkan bahwa,
memang permainan tradisional saat ini kurang diminati dikarenakan berkembangnya
teknologi di dunia sehingga peran permainan tradisional tergeserkan oleh
perkembangan permainan yang ada di dalam gadged dan komputer. Dari 5 anak yang
penuis tanya 3 diantaranya memilih permainan modern yang terdapat daa komputer
(game online) dari pada permainan tradisional.
Menurut mereka permainan modern yang terdapat dalam komputer (game
online) ebih enak dan nyaman dalam hal pemahaman. Lebih menantang dan ada unsur
petuaangan yang membuat mereka betah berlama-lama di depan komputer. Dan orang
tua mereka telah menyarankan agar bermain dengan teman temannya dengan
permainan yang bersifat bergerak dan membutuhkan kekuatan fisik dan pikiran
daripadabermain dengan komputer (game onine) yang akan membuat membuat
pengeluaran keuangan keluarga membengkak. Berikut hitungannya.
1 jam di warnet = Rp. 3.500. Rata-rata anak main game online ± 3
jam. Rp. 3.500 × 3 jam = Rp. 10.500, kemudian Rp. 10.500 × 30 hari = Rp. 350.000,
ini dapat diartikan bahwa setiap bulannya anak tersebut mengeluarkan Rp.
350.000/bulan hanya untuk bermain game yang belum tentu bermanfaat. Begitulah
hasil wawancara terhadap salah satu orang tua anak.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kita dapat menyimpulkan bahwa Menurut kamus umum
Bahasa Indonesia, permainan adalah jamak dari kata “main” yang berarti kegiatan
yang dapat menghibur dan menyenangkan hati. Sedangkan tradisional menurut kamus
umum Bahasa Indonesia adalah sesuatu yang turun menurun dari nenek moyang, baik
benda maupun yang lainnya.
Jadi Permainan Tradisional adalah
kegiatan yang menghibur dan menyenangkan hati yang diwariskan dari oarang
terdahulu atau nenek moyang untuk anak cucu mereka.
Dan untuk contoh permainan
tradidiona sebagai berikut:
1.
Bentengan
Permainan ini dimainkan oleh dua
kelompok, masing–masing kelompok terdiri dari 4 sampai 8 orang. Kedua kelompok
kemudian akan memilih suatu tempat sebagai markas, biasanya sebuah tiang, batu
atau pilar yang disebut sebagai “benteng”.
2.
Congklak
Congklak adalah suatu permainan
tradisional yang dikenal dengan berbagai macam nama di seluruh Indonesia.
Biasanya dalam permainan, sejenis cangkang kerang digunakan sebagai biji
congklak dan jika tidak ada, kadangkala digunakan juga biji-bijian dari
tumbuhan. Permainan congklak dilakukan oleh dua orang. Dalam permainan mereka
menggunakan papan yang dinamakan papan congklak dan 98 (14 x 7) buah biji yang
dinamakan biji congklak atau buah congklak. Umumnya papan congklak terbuat dari
kayu dan plastik, sedangkan bijinya terbuat dari cangkang kerang, biji-bijian,
batu-batuan, kelereng atau plastik. Pada papan congklak terdapat 16 buah lobang
yang terdiri atas 14 lobang kecil yang saling berhadapan dan 2 lobang besar di
kedua ujungnya. Setiap 7 lobang kecil di sisi pemain dan lobang besar di sisi
kanannya dianggap sebagai milik sang pemain.
3.
Galasin atau Gobak Sodor
Galah Asin atau di daerah lain
disebut Galasin atau Gobak Sodor adalah sejenis permainan daerah dari
Indonesia. Permainan ini adalah sebuah permainan grup yang terdiri dari dua
grup, di mana masing-masing tim terdiri dari 3–5 orang. Inti permainannya
adalah menghadang lawan agar tidak bisa lolos melewati garis ke baris terakhir
secara bolak-balik, dan untuk meraih kemenangan seluruh anggota grup harus
secara lengkap melakukan proses bolak-balik dalam area lapangan yang telah
ditentukan. Permainan ini biasanya dimainkan di lapangan bulu tangkis dengan
acuan garis-garis yang ada atau bisa juga dengan menggunakan lapangan segi
empat dengan ukuran 9 x 4 m yang dibagi menjadi 6 bagian.
B. Saran-saran
Diharapkan untuk orang
tua agar ebih memperhatikan anak-anaknya dalam ha bermain. Usahakan agar mereka
bermain dengan permainan yang mendidik dan jangan sampai melewati batas
bermain. Agar terjadi keseimbangan kehidupan antara bermain dengan kegiatan
yamg lain.
C. Kaimat Penutup
Demikian Penelitian tentang Perubahan
Peran Permainan Tradisiona oleh Permainan Modern Dengan Unsur Komputerisari ini
kami buat, semoga dapat memberikan manfaat kepada kita semua, dan dapat
memberikan suatu pemahaman kepada peneliti secara khususnya.
Sekian apabila ada kesalahan atau
kekurangan dalam penulisan penelitian ini atau dalam pemahamannya, dimohon
kritik dan saran yang membangun sangat kami butuhkan agar dapat membuat makalah
selanjutnya dengan baik.
Mohon maaf yang sebesar-besarnya
dan atas perhatian pembaca kami mengucapkan terima kasih
DAFTAR
PUSTAKA


0 komentar :
Posting Komentar