SELEKSI DAN PENEMPATAN SUMBER DAYA MANUSIA

Rabu, 04 Mei 2016

SELEKSI DAN PENEMPATAN SUMBER DAYA MANUSIA




SELEKSI DAN PENEMPATAN SUMBER DAYA MANUSIA
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Manajemen Sumber Daya Manusia
Dosen Pengampu : Drs. Abdul Wahid, M.Ag





Bryan Adam Pratama           (1403036076)
Miss Ilham Charotmah        (1403036109)



FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG
2016



I.         PENDAHULUAN
Kualitas sumber daya manusia suat organisasi tergantung pada kualitas calon-calon karyawan atau pelamar. Upaya untuk menemukan calon karyawan itu diawali dengan rekruitmen, suatu proses untuk menemukan dan menarik pelamar-pelamar yang berkemampuan untuk bekerja pada suat organisasi. Proses ini dimulai ketika organisasi mencari calon-calon karyawan baru dan berakhir saat lamaran kerja diserahkan. Tahapan proses ini sangat penting karena rekruitmen, seleksi dan penempatan karyawan yang tepat akan menghasilkan tenaga kerja dengan kemampuan yang maksimal dan ini akan memberi keuntungan bagi organisasi atau perusahaan secara keseluruhan. Namun saat ini, proses rekruitmen sering tidak terencana dengan baik, karena masih ada yang berpendapat bahwa rekruitmen adalah fungsi yang hanya dilaksanakan jika kebutuhan sudah mendesak yaitu pada saat adanya kebutuhan akan karyawan saja. Begitu juga dengan proses seleksi, suatu organisasi juga sering kali kurang memperhatikan standar seleksi sehingga tingkat/kualitas dari pelamar yang dihasilkan pun juga kurang memenuhi kualifikasi pekerjaan yang ditawarkan.
II.      RUMUSAN MASALAH
1.      Apa Pengertian Seleksi dan Penempatan?
2.      Bagaimana Langkah-langkah dalam proses seleksi?
3.      Apa saja Faktor-Faktor Pertimbangan Dalam Penempatan Karyawan?
4.      Apa saja Kriteria Dalam Penempatan Karyawan?
5.      Apa saja Bentuk-Bentuk Penempatan Karyawan?
III.   PEMBAHASAN
A.    Pengertian seleksi dan penempatan
Pengertian seleksi menurut bahasa adalah penyaringan, pemilihan, (untuk mendapatkan yang terbaik). Atau metode dan prosedur yang dipakai oleh bagian personalia (perusahaan) untuk memilih orang untuk mengisi lowongan pekerjaan.
Sedangkan penempatan berasal dari kata dasar tempat kemudian mendapatkan imbuhan pe-an, menjadi penempatan yang berarti proses, perbuatan, cara menempati.
Seleksi dan penempatan merupakan langkah yang diambil segera setelah terlaksananya fungsi rekrutmen. Seperti halnya fungsi rekrutmen, proses seleksi dan penempatan merupakan salah satu fungsi terpenting dalam manajemen sumber daya manusia. seleksi dan penempatan merupakan serangkai langkah kegiatan yang dilaksanakan untuk memutuskan apakah seorang pekerja ditempatkan pada posisi-posisi tertentu yang ada di dalam organisasi.
Robert L Mathis dan John H Jackson menerangkan bahwa seleksi merupakan proses pemilihan individu-individu yang memiliki kualifikasi yang relevan untuk mengisi posisi dalam suatu organisasi. Tanpa para tenaga kerja yang memenuhi persyaratan sebuah organisasi berada dalam posisi yang lebih buruk untuk berhasil. Seleksi lebih dari sekedar pemilihan orang-orang terbaik dari yang tersedia. Menyeleksi sekumpulan pengetahuan, keahlian, dan kemampuan (knowledge-skills-abilities-KSAs) yang sesuai,­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­ -yang merupakan satu paket yang terdapat pada manusia merupakan usaha untuk memperoleh “kecocokan” antara apa yang dapat dilakukan oleh pelamar dan apa yang ingin lakukan, serta apa yang dibutuhkan oleh organisasi.
Kecocokan antara pelamar dan organisasi mempengaruhi baik kesediaan perusahaan untuk membuat penawaran kerja dan juga kesediaan pelamar untuk menerima pekerjaan tersebut. Menempatkan seseorang ke posisi yang sesuai disebut penempatan.
Secara ideal proses seleksi merupakan proses pengambilan keputusan timbal balik. Perusahaan memutuskan menawarkan lowongan kerja. Calon pelamar apakah perusahaan beserta lamaran nya akan memenuhi kebutuhan dan tujuan pribadinya. Tetapi dalam keadaan biasa pada umumnya proses seleksi cenderung akan ditentukan sepihak, yaitu dominasi pada pihak perusahaan.[1]
B.     Langkah-langkah dalam proses seleksi.
1.      Penerimaan pendahuluan pelamar
Proses ini merupakan jalur dua arah, di mana pelamar memilih organisasi tempat bekerja, dan organisasi memilih orang atau calon karyawan yang tepat. Dalam tahap pendahuluan seleksi, para pelamar memperoleh informasi bahwa surat lamarannya telah memenuhi syarat-syarat yang ditentukan.[2] Lamaran yang dianggap memenuhi persyaratan dan yang tidak kemudian dipisahkan dan disimpan dalam file yang berbeda.[3]
2.      Tes-tes seleksi
Tes-tes ini dilaksanakan untuk mendapatkan informasi yang relatif objektif tentang pelamar, diharapkan akan memperoleh calon yang lebih baik bila dibandingkan dengan pelamar lainnya atau dengan karyawan yang sudah ada. Untuk memperoleh informasi (termasuk kemampuan-kemampuan pelamar, maka biasanya dilakukan ujian atau tes tertulis.
Komposisi tes tersebut dilaksanakan oleh organisasi sesuai bidang yang dikerjakan oleh organisasi tersebut. Yang paling umum adalah tes mengisi formulir lamaran (tergantung kebijakan dari organisasi), Kemampuan dan pengetahuan, tes wawancara.
a.       Tes mengisi formulir lamaran
Pada tahap ini, yang dilakukan oleh organisasi adalah meminta pelamar untuk mengisi formulir lamaran yang telah disediakan dari organisasi. Bila bidang pekerjaan yang dilamar menuntut kemampuan berbahasa Inggris, maka formulir tersebut harus disiapkan dalam bahasa Inggris. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah benar pelamar tersebut yang membuat riwayat hidup yang dikirimkan atau dibuatkan oleh orang lain. Kemudian untuk mengetahui lebih banyak informasi tentang pelamar yang khusus dibutuhkan untuk tahap seleksi selanjutnya.[4]
b.      Kemampuan dan pengetahuan
Tes-tes yang akan diberikan tergantung pada persyaratan yang ditetapkan untuk tiap jabatan dan tingkatan dalam organisasi. Jenis tes yang umum adalah:
1)      tes kemampuan dan keterampilan teknis. Tes ini tergantung bidang kerja yang dilamar. Tes-tes jenis ini harus dilaksanakan sendiri tetapi bahan atau pertanyaan harus disediakan oleh unit kerja yang akan membutuhkan tenaga kerja
2)      tes pengetahuan umum. Sesuai dengan namanya, tes ini bersifat sangat umum dan berkisar tentang hal-hal umum, misalnya kejadian-kejadian terakhir yang ada di Indonesia dan di dunia.
3)      Tes dexterity. Adalah tes khusus untuk mengukur kecekatan tangan atau jari tangan untuk pekerjaan yang membutuhkan kecekatan organ tersebut. Misalnya operator mesin atau peralatan tertentu.
4)      Tes kemampuan atau daya tahan fisik. Biasanya dilakukan pada calon-calon yang akan mengisi jabatan yang memerlukan ketahanan fisik yang prima.
3.      Tes psikologi
Sebagian besar perusahaan, baik perusahaan besar ataupun kecil, melaksanakan tes psikologi dalam proses seleksi. Namun demikian, ada sebagian perusahaan kecil yang tidak melaksanakan tes psikologi sebagai dasar memilih calon karyawan terbaik, tetapi lebih mempercayakan pada seleksi wawancara saja. Keputusan tersebut diambil dengan pertimbangan sangat rumit dilaksanakan dan membutuhkan biaya yang relatif besar, pertimbangan tersebut melihat perbandingan antara manfaat yang diperoleh dengan besarnya biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan tersebut. Walaupun demikian, kebanyakan perusahaan akan mempercayai tes psikologi untuk mendapatan calon karyawan terbaik.[5] Berikut beberapa tes psikologi:
a.       Tes kemampuan numeracy. Kemampuan melakukan penghitungan secara cepat dan teliti. Tes  ini merupakan bagian dari tes psikologi, tapi terkadang juga dilakukan secara sendiri
b.      Tes intelegensi dasar. Adalah tes yang mengukur kecerdasan pelamar
4.      Tes kesehatan
Pemeriksaan kesehatan atau tes kesehatan merupakan standar pokok prosedur yang telah ditetapkan oleh instansi pemerintahan maupun perusahaan. Pemeriksaan kesehatan biasanya dilakukan di rumah sakit atau klinik kesehatan yang telah di percya oleh perusahaan. Di dalam tes kesehatan akan di ukur kemampuan jasmani pelamar dengan persyaratan pekerjaan. Termasuk kesehatan fisik, mata, pendengaran atau yang lainnya. Apakah dapat mengangkat barang seberat 15 kg, tidak memakai kaca mata, tidak menggunakan alat bantu pendengaran, dan lain sebagainya.[6]
Tujuannya adalah untuk menghindari diterimanya karyawan yang tidak sehat jasmani untuk memastikan bahwa calon karyawan tersebut telah sehat jasmani maupun mental dan dalam kondisi yang prima atau produktif. Tetapi pemeriksaan kesehatan juga dapat menyelamatkan perusahaan dari beban biaya pemeliharaan kesehatan yang berat bila ternyata calon tersebut tidak  lama setelah bergabung mengidap penyakit yang cukup berat. Saat ini biaya pemeliharaan kesehatan menjadi beban yang cukup berat bagi perusahaan, khususnya di negara seperti Indonesia di mana pemeliharaan kesehatan karyawan masih dibebankan kepada karyawan.[7]
5.      Pemeriksaan referensi-referensi
Pemeriksaan referensi bertujuan untuk memperoleh keterangan pelamar di masa lalu. Dari surat keterangan itu akan didapat beberapa informasi tentang pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dimiliki oleh calon karyawan. Banyak hal lain yang diperoleh dari pemeriksaan referensi seperti karier, prestasi kerja, latar belakang pendidikan, dan lain sebagainya. Metode yang digunakan untuk pemeriksaan referensi adalah melalui surat dan telepon.[8]
6.      Wawancara
Wawancara merupakan seleksi yang penting dilakukan untuk memperoleh informasi yang belum diperoleh saat tes tertulis, informasi tersebut berupa kepribadian, kemampuan berkomunikasi, dan kondisi fisik si pelamar, karena bertatap muka secara langsung si pelamar. Terkadang terdapat ketidak cocokan informasi yang disampaikan pelamar pada formulir lamaran. Oleh karena itu, pada tahap ini merupakan kesempatan bagi perusahaan untuk mengukur kemampuan calon karyawan secara langsung.
a.       Informasi yang di gali dari tes wawancara adalah:
1)      Kualitas pribadi (penampilan fisik, komunikasi, kosakata, assertives, dll.)
2)      Pengalaman bekerja
3)      Kompetensi interpersonal komunikasi
4)      Orientasi karier[9]
b.      Jenis wawancara
1)      Wawancara tak terstruktur. Adalah wawancara yang tidak menggunakan pedoman/kerangka pertanyaan. Dalam wawancara jenis ini, pertanyaan yang diajukan tidak menggunakan pola tertentu dan sering kali dikmbangkan sendiri oleh pewawancara.
2)      Wawancara terstruktur. Adalah wawancara yang menggunakan pedoman wawancara dan kerangka pertanyaan yang jelas.
c.       Metode wawancara
1)      One on one, percakapan antara pewawancara dengan pelamar.
2)      Group interviewer, percakapan antara satu pewawancara dan beberapa pelamar sekaligus.
3)      Board interview, percakapan antara beberapa pewawancara dengan satu atau beberapa pelamar.
4)      Stres interview, wawancara yang secara sengaja ingin menciptakan suasana yang menekan pelamar, baik melalui pertanyaan-pertanyaan maupun rekayasa kondisi saat wawancara berlangsung. Wawancara jenis ini digunakan untuk jabatan-jabatan yang mengandung tekanan atau potensi stres pada karyawannya.
d.      Proses wawancara.
1)      Melakukan persiapan (mempelajari lamaran, deskripsi jabatan dan sebagainya)
2)      Menciptakan/membangun suasana atau hubungan baik dengan pelamar (dengan cara memulai tepat waktu, mengajukan pertanyaan ringan, menggunakan bahasa tubuh (misalnya: senyum, jabat tangan, postur yang santai)
3)      Melakukan pertukaran informasi/percakapan (proses wawancara)
4)      Menutup wawancara (memberikan informasi setelahnya)
5)      Evaluasi (mencatat jawaban spesifik dan kesan-kesan umum tentang pelamar).
e.       Kualifikasi pewawancara
1)      Mempunyai kepribadian yang menyenangkan
2)      Bersikap empati
3)      Memiliki kemampuan berkomunikasi secara efektif, khususnya kemampuan mendengarkan
4)      Memiliki pengetahuan mendalam tentang persyaratan jabatan
5)      Menghormati orang-orang yang berasal dari berbagai latar belakang dan sifat.
6)      Sadar akan landasan stereotype terhadap wanita dan kelompom minoritas.[10]
f.       Beberapa kesalahan pewawancara
1)      Hallo effect: kesalahan ini terjadi bila pewawancara mengevaluasi peserta seleksi berdasarkan informasi yang terbatas (misalnya hanya dengan melihat prestasi akademiknya)
2)      Memberikan penilaian yang positif atau negatif karena pewawancara mempunyai prasangka tertentu (fisik, gender, ras, dan sebagainya) terhadap peserta[11]
7.      Keputusan Penerimaan
Langkah terakhir dari proses seleksi adalah tahap yang paling mendebarkan bagi calon pegawai. Disinilah mereka menerima nasib diterima atau di tolak. Untuk menjaga hubungan masyarakat tetap baik, maka bagi calon yang tidak diterima dapat dipertimbangkan untuk kesempatan yang akan datang. Dokumen-dokumen yang dari pelamar yang diterima perlu untuk di dokumentasikan, dan akan berguna bagi program-program pengembangan karyawan yang bersngkutan untuk waktu yang akan datang.[12]
8.      Umpan balik hasil seleksi
Karyawan baru merupakan hasil akhir dari proses seleksi. Apabila masukan-masukan selama proses seleksi itu di perhatikan dengan seksama dan langkah-langkah seleksi diikuti secara benar, maka para karyawan baru ini merupakan sumber daya yang paling produktif. Karyawan-karyawan baru adalah salah satu indikator paling baik suat proses seleksi yang efektif.
Untuk megevaluasi karyawan baru maupun proses seleksi diperlukan umpan balik. Umpan balik dapat diperoleh dari kinerja karyawan yang bersangkutan. Indikator-indikator lain yang dapat dijadikan impan balik hasil dan proses seleksi antara lain: kepuasan kinerja karyawan, absensi, prestasi kerja.
Informasi tentang umpan balik ini dapat diperoleh dari berbagai cara antara lain melalui: penilaian kerja secara berkala, wawancara antara atasan langsung dengan karyawan yang bersangkutan, atau percakapan dengan rekan sesama kerja.[13]
C.     Faktor-Faktor Pertimbangan Dalam Penempatan Karyawan
            Seperti halnya dengan pelaksanaan kegiatan-kegiatan lain dalam penempatan karyawan juga perlu dipertimbangkan beberapa faktor antara lain sebagai berikut :
a.       Faktor prestasi akademis
Faktor prestasi akademik yang telah dicapai oleh karyawan selama mengikuti jenjang pendidikan harus mendapatkan pertimbangan dalam menempatkan dimana karyawan yang bersangkutan harus melaksanakan tugas dan pekerjaannya serta wewenang dan tanggung jawab.
b.      Faktor Pengalaman
Pengalaman para karyawan yang sejenis yang telah dialami sebelumnya, perlu mendapat pertimbangan dalam rangka penempatan karyawan. Pengalaman bekerja banyak memberikan kecenderungan bahwa karyawan memiliki keahlian dan ketrampilan kerja yang relatif tinggi. Sebaliknya keterbatasan pengalaman bekerja yang dimiliki akan makin rendah tingkat keahlian dan ketrampilan yang dimiliki.
c.       Faktor Kesehatan Fisik dan Mental
Faktor kesehatan fisik dan mental perlu mendapatkan pertimbangan dalam penempatan karyawan, meskipun kurang akurat terhadap tingkat kepercayaan terhadap hasil tes kesehatan dilakukan terutama kondisi fisik, namun secara sepintas dapat dilihat kondisi fisik karyawan yang bersangkutan untuk dipertimbangkan pada tempat mana dia diberikan tugas dan pekerjaan yang cocok baginya berdasarkan kondisi yang dimiliki.
d.      Faktor Sikap
Sikap merupakan bagian hakiki dari kepribadian seseorang. Dalam penempatan karyawan faktor sikap hendaknya menjadi pertimbangan bagi manajer sumberdaya manusia, karena hal tersebut akan berpengaruh secara langsung baik bagi individu dan perusahaan maupun bagi masyarakat sebagai pengguna jasa dari perusahaan itu sendiri.
e.       Faktor Status Perkawinan
Untuk mengetahui status perkawinan karyawan kerja adalah merupakan hal yang penting. Dengan mengetahui status perkawinannya dapat ditentukan, dimana seseorang akan ditempatkan. Misalkan karyawan yang belum menikah ditempatkan di cabang perusahaan di luar kota dan sebaliknya karyawan yang sudah menikah ditempatkan pada perusahaan didalam kota dimana keluarganya bertempat tinggal.
f.       Faktor Usia
Faktor usia perlu dipertimbangkan dengan maksud untuk menghindarkan rendahnya produktifitas yang dihasilkan oleh karyawan yang bersangkutan.[14]
D.    Kriteria Dalam Penempatan Karyawan
Selain dari faktor-faktor tersebut dalam melaksanakan penempatan karyawan ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi. Menurut Bernardin dan Russel dalam Walanggare, kriteria yang harus dipenuhi dalam penempatan karyawan antara lain:
a.       Pengetahuan, merupakan suatu kesatuan informasi yang terorganisir yang biasanya terdiri dari sebuah fakta atau prosedur yang diterapkan secara langsung terhadap kinerja dari sebuah fungsi.
b.      Kemampuan, merupakan suatu kompetensi yang diperlihatkan dalam kinerja melalui perilaku yang diamati atau seluruh perilaku mengarah pada suatu hasil yang diamati.
c.       Ketrampilan, merupakan suatu tindakan psikomotor yang dipelajari dan dapat mencakup suatu manipulasi tangan, lisan, atau mental dari pada data, orang atau benda-benda.
d.      Ciri-ciri lain yang meliputi faktor kepribadian, sikap, sifat- sifat mental yang dibutukan untuk melakukan pekerjaan.[15]
E.     Bentuk-Bentuk Penempatan Karyawan
a.    Promosi
            Promosi adalah proses pemindahan dari satu jabatan ke jabatan lain yang lebih tinggi. Nitisemito. Promosi menurut Siagian  adalah apabila seorang pegawai dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya yang tanggung jawabnya lebih besar, tingkatannya dalam hierarki lebih tinggi dan penghasilannya pun lebih besar pula.
b.    Mutasi
            Mutasi merupakan kegiatan rutin perusahaan yang dilaksanakan dalam rangka menerapkan the right man in the righ place. Mutasi atau pemindahan adalah kegiatan memindahkan karyawan dari suatu pekerjaan ke pekerjaan lain yang dianggap sejajar. Nitisemito. Menurut Siswanto  mutasi adalah kegiatan ketenagakerjaan yang berhubungan dengan suatu proses pemindahan fungsi, tanggung jawab, dan status ketenagakerjaan tenaga kerja ke situasi tertentu dengan tujuan agar tenaga yang bersangkutan memperoleh kepuasan kerja yang mendalam dan dapat memberikan prestasi kerja yang semaksimal mungkin kepada perusahaan.
Menurut Siswanto  dalam pengadaan mutasi karyawan harus memperhatikan faktor-faktor yang dipandang obyektif dan rasional sebagai berikut :
1)      Mutasi disebabkan kebijakan dan peraturan manajer.
2)      Mutasi atas dasar prinsip the right man in the right job.
3)      Mutasi sebagai tindakan untuk meningkatkan moral kerja.
4)      Mutasi sebagai media kompetisi yang rasional.
5)      Mutasi sebagai langkah untuk promosi.
6)      Mutasi untuk mengurangi Labour turn over.
7)      Mutasi harus terkoordinasi.
            Alasan yang menjadi dasar dilaksanakannya mutasi adalah kemampuan kerja, rasa tanggung jawab, kesenangan dan sebagainya.
c.    Demos
Demosi yakni pemindahan seseorang ke jabatan lain yang lebih rendah dalam suatu organisasi. Martoyo, sedangkan menurut Siagian Demosi berarti bahwa seseorang, karena berbagai pertimbangan mengalami penurunan pangkat atau jabatan dan penghasilan serta tanggung jawab yang semakin kecil. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa demosi merupakan suatu proses perubahan dari suatu pekerjaan ke pekerjaan lain yang lebih rendah dalam hierarki tanggung jawab dan wewenangnya. Demosi pada umumnya dikaitkan dengan pengenaan suatu sanksi disiplin. Alasan lain yang berakibat pada demosi karyawan adalah apabila kegiatan organisasi menurun atau organisasi mengalami krisis. Selain itu demosi karyawan juga mungkin terjadi bila pasar tenaga kerja menunjukkan dimana suply tenaga kerja lebih besar dari pada demand tenaga kerja.[16]
IV.   PENUTUP
A.      Kesimpulan
Setiap perusahaan atau organisasi pasti menginginkan karyawan yang produktif, cekatan, dan berkualitas dalam segala bidang yang diampunya, agar kinerja dari karyawan tersebut dapat menuju pada tujuan perusahaan tersebut dengan efektif dan efisien. Maka dari itu, perusahaan harus melakukan seleksi sesuai dengan penjelasan diatas, di mana harus melalui berbagai proses yang selektif terlebih dahulu sebelum melakukan penempatan agar di hari kemudian tidak terjadi hal-hal yang di inginkan.
Proses penempatan juga harus diperhitungkan sesuai hasil dari program seleksi, jabatan yang di isi oleh karyawan baru tidak menjadi bumerang bagi perusahaan. Dengan kata lain seleksi tidak hanya mencari orang yang baik, tetapi juga mencari orang yang tepat bagi perusahaan. Dan penempatan yang tepat akan menjadikan sebuah perusahaan mencapai tujuannya dengan baik.
B.       Kata penutup
Demikianlah makalah ini kami buat, semoga bermanfaat kepada pembaca dan dapat memberikan pemahaman kepada pemakalah.
Sekian dari kami, apabila ada kesalahan atau kekurangan dalam hal penulisan makalah ini, kritik serta saran yang membangun sangat kami butuhkan dari anda. Dari kami, selaku pemakalah meminta maaf yang sebesar-besarnya dan atas perhatian saudara kami ucapkan terimakasih.
DAFTAR PUSTAKA


Notoatmojo, Soekidjo. Pengembangan Sumber Daya Manusia. (Jakarta: Rineka Cipta. 2009).
Sutrisno, Edy. Manajemen Sumber Daya Manusia. (Jakarta: Kencana, 2009).
Sofyandi, Herman. Manajemen Sumber Daya Manusia. (Yogyakarta: GRAHA ILMU. 2013).
Bangun, Wilson. Manajemen Sumber Daya Manusia. (Bandung: Erlangga, 2012).



 


[2] Soekidjo Notoatmojo, Pengembangan Sumber Daya Manusia, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), Hal. 109
[3] Edy Sutrisno, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Jakarta: Kencana, 2009), Hal. 54-55
[4] Edy Sutrisno, Manajemen Sumber Daya Manusia, Hal. 55
[5] Wilson Bangun, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Bandung: Erlangga, 2012), Hal. 165-166
[6] Wilson Bangun, Manajemen Sumber Daya Manusia, Hal. 169
[7] Edy Sutrisno, Manajemen Sumber Daya Manusia, Hal. 57
[8] Wilson Bangun, Manajemen Sumber Daya Manusia, Hal. 166
[9] Herman Sofyandi, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Yogyakarta: GRAHA ILMU, 2013), Hal. 108
[10] Herman Sofyandi, Manajemen Sumber Daya Manusia, Hal. 109
[11] Herman Sofyandi, Manajemen Sumber Daya Manusia, Hal. 110
[12] Soekidjo Notoatmojo, Pengembangan Sumber Daya Manusia, Hal. 111-112
[13] Soekidjo Notoatmojo, Pengembangan Sumber Daya Manusia, Hal. 112

0 komentar :

Posting Komentar