MUSEUM RANGGAWARSITA SEBAGAI KOLAM KEBUDAYAAN DAN KESENIAN ISLAM JAWA
Museum Ranggawarsita merupakan salah satu museum yang terdapat di kota
Semarang, museum ini merupakan aset pelayanan publik di bidang pelestarian
budaya dan kesenian. Museum ini didirikan pada 5
Juli 1975 dan diresmikn pada hari Sabtu
Pahing, 2 April 1983. Nama Museum Ronggowarsito Semarang berasal dari nama pujangga Jawa
yang hidup pada abad 19, yang juga merupakan ahli nujum Keraton Kasunanan
Surakarta. Karyanya yang dikenal luas serta banyak dikutip adalah Serat
Kalatidha yang secara harafiah berarti buku atau catatan tentang masa yang
penuh ketidakpastian atau yang absurd.
Museum Jawa
Tengah Ronggowarsito Semarang memiliki total koleksi mencapai 59.784 unit yang
terdiri dari berbagai kategori koleksi. Koleksi terbanyak adalah kategori
numismatik-heraldika, yakni mata uang dan tanda pangkat. Jumlah koleksi
numismatik-heraldika tersebut mencapai 44.961 unit, kategori etnografi sebanyak
6.803 unit, dan koleksi benda-benda arkeologi berjumlah 5.211 unit. Jumlah
koleksi keramik, kata dia, sebanyak 1.199 unit, biologi sebanyak 617 unit,
historika sebanyak 318 unit, seni rupa 397 unit, dan geologika berupa batuan
alam sebanyak 200 unit.
Dalam koleksi museum terdapat beberapa barang yang mecerminkan budaya islam
Jawa, maksud dari islam Jawa adalah perpaduan antara kebudayaan Jawa dengan
nuansa Islam. Seperti wayang, wayang adalah salah satu produk asli nusantara
yang terdapat pula di daerah Jawa, wayang ini digunakan oleh beberara Wali
Allah (Wali Songo) sebagai Edi antuk berdakwah. Sebagai contoh dalam tokoh
Pandhawa Limo yang digambarkan seperti rukun Islam, kearifan dan kebijaksanaan
yang dimiliki oleh setiap tokoh menggambarkan bahwa islam merupakan agama yang
rahmatalil Alamin. Berikutnya adalah Padasan, padasan adalah
Tempayan tempat air wudlu yang biasanya terletak dihalaman depan makam atau
masjid kuno. Padasan ini terletak di kompleks Makam Sunan Bayat di Klaten Jawa
Tengah. Kemudian terdapat Al-Qur’an yang ditulis dalam kulit hewan dan daun
lontar, ini sama seperti penggambaran para pujangga menuliskan karyanya seperti
serat, bukan berarti disamakan dengan serat, hanya saja saat itu belum ada
kertas yang cukup baik.
Keterkaitan antara Islam dan kebudayaan tidak lepas dari peran para Wali
yang menyebarkan agama islam di tanah Jawa. Penyatuan kebudayaan Jawa dan
ajaran Islam, diharapkan dapat memberikan jalan masuk yang mudah untuk
memperkenalkan Islam lebih luas kepada masyarakat saat itu. Karena pada masa
itu, masyarakat masih memegang teguh kepercayaan mereka terdahulu yaitu Hindu
dan Budha. Dengan adanya pengislaman budaya Jawa yang masih terpengaruhi oleh
ajaran hindu Budha para wali dengan mudah masuk ke wilayah atau zona ajaran
mereka, sehingga dengan pendekatan-pendekatan yang dilakukan oleh para Wali,
maka islam dapat berkembang dengan pesat fitnah Jawa, dengan mewariskan budaya-budaya
islam Jawa yang disebutkan di atas tadi.
Kesimpulan dari artikel saya adalah bahwa kita sebagai warga negara yang
bersuku Jawa dan juga beragama Islam, ayo kita hidupkan budaya Jawa kita, kita
lestarikan budaya kita dengan tekad api, semangat yang membara, jangan sampai
kebudayaan kita yang sangat kaya ini dicuri oleh bangsa lain. Oleh karena itu,
tindakan kecil yang dapat kita lakukan adalah dengan mengunjungi Museum
kebudayaan dan kesenian, dari Sabang sampai Merauke. Karena museum adalah
sebagai kolam kebudayaan dan kesenian yang dapat kita kubangi sebagai
pengetahuan.
#UINPeduliJawa
Identitas Penulis
Nama : Bryan Adam Pratama
NIM :
1403036076
Mata Kuliah : Islam
Budaya Jawa
Jurusan : Manajemen Pendidikan Islam
Fakultas : Tarbiyah dan Keguruan
Universitas : UIN Walisongo Semarang
e-mail : apadampratama166@gmail.com
Blog :
bryanadampratama2014.blogspot.co.id

0 komentar :
Posting Komentar