MUSEUM RANGGAWARSITA SEBAGAI KOLAM KEBUDAYAAN DAN KESENIAN ISLAM JAWA

Minggu, 08 Mei 2016

MUSEUM RANGGAWARSITA SEBAGAI KOLAM KEBUDAYAAN DAN KESENIAN ISLAM JAWA




Museum Ranggawarsita merupakan salah satu museum yang terdapat di kota Semarang, museum ini merupakan aset pelayanan publik di bidang pelestarian budaya dan kesenian. Museum ini didirikan pada 5 Juli 1975 dan diresmikn pada hari Sabtu Pahing, 2 April 1983. Nama Museum Ronggowarsito Semarang berasal dari nama pujangga Jawa yang hidup pada abad 19, yang juga merupakan ahli nujum Keraton Kasunanan Surakarta. Karyanya yang dikenal luas serta banyak dikutip adalah Serat Kalatidha yang secara harafiah berarti buku atau catatan tentang masa yang penuh ketidakpastian atau yang absurd.
Museum Jawa Tengah Ronggowarsito Semarang memiliki total koleksi mencapai 59.784 unit yang terdiri dari berbagai kategori koleksi. Koleksi terbanyak adalah kategori numismatik-heraldika, yakni mata uang dan tanda pangkat. Jumlah koleksi numismatik-heraldika tersebut mencapai 44.961 unit, kategori etnografi sebanyak 6.803 unit, dan koleksi benda-benda arkeologi berjumlah 5.211 unit. Jumlah koleksi keramik, kata dia, sebanyak 1.199 unit, biologi sebanyak 617 unit, historika sebanyak 318 unit, seni rupa 397 unit, dan geologika berupa batuan alam sebanyak 200 unit.
Dalam koleksi museum terdapat beberapa barang yang mecerminkan budaya islam Jawa, maksud dari islam Jawa adalah perpaduan antara kebudayaan Jawa dengan nuansa Islam. Seperti wayang, wayang adalah salah satu produk asli nusantara yang terdapat pula di daerah Jawa, wayang ini digunakan oleh beberara Wali Allah (Wali Songo) sebagai Edi antuk berdakwah. Sebagai contoh dalam tokoh Pandhawa Limo yang digambarkan seperti rukun Islam, kearifan dan kebijaksanaan yang dimiliki oleh setiap tokoh menggambarkan bahwa islam merupakan agama yang rahmatalil Alamin. Berikutnya adalah Padasan, padasan adalah Tempayan tempat air wudlu yang biasanya terletak dihalaman depan makam atau masjid kuno. Padasan ini terletak di kompleks Makam Sunan Bayat di Klaten Jawa Tengah. Kemudian terdapat Al-Qur’an yang ditulis dalam kulit hewan dan daun lontar, ini sama seperti penggambaran para pujangga menuliskan karyanya seperti serat, bukan berarti disamakan dengan serat, hanya saja saat itu belum ada kertas yang cukup baik.
Keterkaitan antara Islam dan kebudayaan tidak lepas dari peran para Wali yang menyebarkan agama islam di tanah Jawa. Penyatuan kebudayaan Jawa dan ajaran Islam, diharapkan dapat memberikan jalan masuk yang mudah untuk memperkenalkan Islam lebih luas kepada masyarakat saat itu. Karena pada masa itu, masyarakat masih memegang teguh kepercayaan mereka terdahulu yaitu Hindu dan Budha. Dengan adanya pengislaman budaya Jawa yang masih terpengaruhi oleh ajaran hindu Budha para wali dengan mudah masuk ke wilayah atau zona ajaran mereka, sehingga dengan pendekatan-pendekatan yang dilakukan oleh para Wali, maka islam dapat berkembang dengan pesat fitnah Jawa, dengan mewariskan budaya-budaya islam Jawa yang disebutkan di atas tadi.
Kesimpulan dari artikel saya adalah bahwa kita sebagai warga negara yang bersuku Jawa dan juga beragama Islam, ayo kita hidupkan budaya Jawa kita, kita lestarikan budaya kita dengan tekad api, semangat yang membara, jangan sampai kebudayaan kita yang sangat kaya ini dicuri oleh bangsa lain. Oleh karena itu, tindakan kecil yang dapat kita lakukan adalah dengan mengunjungi Museum kebudayaan dan kesenian, dari Sabang sampai Merauke. Karena museum adalah sebagai kolam kebudayaan dan kesenian yang dapat kita kubangi sebagai pengetahuan.
#UINPeduliJawa

Identitas Penulis
Nama                           : Bryan Adam Pratama
NIM                            : 1403036076
Mata Kuliah                : Islam Budaya Jawa
Jurusan                        : Manajemen Pendidikan Islam
Fakultas                       : Tarbiyah dan Keguruan
Universitas                  : UIN Walisongo Semarang
e-mail                          : apadampratama166@gmail.com
Blog                            : bryanadampratama2014.blogspot.co.id

0 komentar :

Posting Komentar