MODEL-MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM

Rabu, 04 Mei 2016

MODEL-MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM




MODEL-MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Pengembangan Kurikulum
Dosen Pengampu : Bapak Abdul Rohman







Ismi Nur Lailil M.
Bryan Adam Pratama
Ahmad Miftahul Huda
M. Ayub Madkhan
:
:
:
:
1403036075
1403036076
1403036077
1403036078


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG
2016


 

 

I.          PENDAHULUAN
Pengembangan kurikulum  tidak dapat  lepas  dari  berbagai  aspek  yang mempengaruhinya, seperti cara berpikir, sistem nilai (nilai moral, keagamaan, politik, budaya,  dan  sosial),  proses  pengembangan,  kebutuhan  peserta  didik,  kebutuhan masyarakat  maupun  arah  program  pendidikan. Aspek-aspek tersebut  akan menjadi bahan  yang perlu  dipertimbangkan  dalam  suatu pengembangan  kurikulum. Model  pengembangan  kurikulum  merupakan  suatu alternatif  prosedur  dalam rangka mendesain (designing), menerapkan (implementation), dan  mengevaluasi (evaluation) suatu kurikulum. Oleh karena itu, model pengembangan kurikulum harus dapat  menggambarkan  suatu proses  sistem  perencanaan  pembelajaran  yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan dan standar keberhasilan pendidikan.[1]
Banyak model yang digunakan dalam pengembangan kurikulum. Pemilihan suatu model pengembangan kurikulum bukan saja didasarkan atas kelebihan dan kebaikan-kebaikan serta kemungkinan pencapaian hasil yang optimal, tetapi perlu juga disesuaikan dengan sistem pendidikan mana yang digunakan. Model pengembangan dalam kurikulum yang sifatnya subyek akademis berbeda dengan kurikulum humanistis, teknologis dan rekonstruksi sosial.
Sekurang-kurangnya ada delapan model pengembangan kurikulum, yaitu: Administrative model, grassroot model, demonstrative model, Taba’s inverted model, Beuchamp’s systematic model, Roger’s interpersonal model, Action Research model, emerging technological model.[2]
II.       RUMUSAN MASALAH
1.    Apa pengertian model pengembangan kurikulum?
2.    Bagaimana model pengembangan kurikulum administratif?
3.    Bagaimana model pengembangan kurikulum grass roots?
4.    Bagaimana model pengembangan kurikulum Beauchamp?
5.    Bagaimana model pengembangan kurikulum demonstrasi?
6.    Bagaimana model pengambangan kurikulum Taba?
7.    Bagaimana model pengembangan kurikulum Roger’s Interpersonal Relations?
8.    Bagaimana model pengembangan kurikulum The Systematic Action-research?
9.    Bagaimana model pengembangan kurikulum Emerging Technikal?
III.    PEMBAHASAN
A.    Pengertian Model Pengembangan Kurikulum
Model adalah abstraksi dunia nyata atau representasi peristiwa kompleks atau sistem, dalam bentuk naratif, matematis, grafis, serta lambang-lambang lainnya. Model bukanlah realitas, akan tetapi merupakan representasi realitas yang dikembangkan dari keadaan. Dengan demikian, model pada dasarnya berkaitan dengan rancangan yang dapat digunakan untuk menerjemahkan sesuatu sarana untuk mempermudah berkomunikasi, atau sebagai petunjuk yang bersifat perspektif untuk mengambil keputusan, atau sebagai petunjuk perencanaan untuk kegiatan pengelolaan.[3]
Model pengembangan kurikulum adalah langkah atau prosedur sistematis dalam proses penyusunan  suatu kurikulum, dimana pengembangan kurikulum dibutuhkan untuk memperbaiki atau menyempurnakan kurikulum yang dibuat untuk dikembangkan sendiri baik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah atau sekolah.
B.     The Administrative Model
Model pengembangan kurikulum ini merupakan model paling lama dan paling banyak dikenal. Diberi nama model administratif atau line staf karena inisiatif dan gagasan pengembangan datang dari para administrator pendidikan dan menggunakan prosedur administrasi atau dapat dikatakan pula sebagai garis dan staf yang sifatnya top down[4]. Dengan wewenang administrasinya, administrator pendidikan membentuk komisi atau tim yang terdiri atas pejabat di bawahannya, para ahli pendidikan, ahli kurikulum, ahli disiplin ilmu, dan para tokoh dari dunia kerja dan perusahaan. Tugas tim atau komisi ini adalah merumuskan konsep-konsep dasar, landasan-landasan kebijaksanaan, dan strategi utama ala pengembangan kurikulum. Setelah hal-hal yang mendasar ini terumuskan dan mendapatkan pengkajian yang seksama, administrator pendidikan menyusun tim atau komisi kerja pengambangan kurikulum.[5]
Tugas para administrator tersebut adalah merumuskan konsep-konsep dasar, landasan-landasan, kebijaksanaan dan strategi utama dalam pengembangan kurikulum. Selanjutnya tim membentuk kelompok kerja yang menyusun tujuan khusus pendidikan, garis besar bahan pengajaran, dan kegiatan belajar. Hasil kerja kelompok selanjutnya dikaji ulang oleh panitia pengarah yang telah dibentuk sebelumnya dan para ahli lain di bidangnya. Langkah selanjutnya adalah mengkaji ulang dengan cara melakukan uji coba untuk mengetahui keefektifan dan kelayakannya. Dengan cara-cara dan urutan semacam ini terlihat bahwa dari sisi kebijakan model ini lebih bersifat sentralistik. Dalam pelaksanaannya, kurikulum ini memerlukan kegiatan pantauan dan bimbingan di lapangan.
Setelah berjalan dalam kurun waktu yang ditetapkan, perlu dilakukan evaluasi untuk menentukan validitas komponen-komponen yang ada dalam kurikulum. Hasil penilaian tersebut merupakan umpan balik bagi semua unsur terkait, khususnya instansi pendidikan di tingkat pusat, daerah, dan sekolah.[6] Kelemahan model ini terletak pada kurang pekanya terhadap adanya perubahan masyarakat, selain itu kurikulum ini biasanya bersifat seragam secara nasional sehingga kadang-kadang melupakan (atau mengabaikan) adanya kebutuhan dan kekhususan yang ada pada setiap daerah. Model pengembangan ini dikembangkan di Indonesia bertahun-tahun sejak kurikulum 1968 sampai dengan kurikulum 2004.[7]
C.     The Grass Roots Model
Model pengembangan ini adalah kebalikan dari model pengambangan administratif, inisiatif atau ide pengembangan kurikulum bukan datang dari atas tetapi dari bawah, yaitu guru-guru. Model pengembangan administrasi digunakan dalam sistem pengelolaan pendidikan/kurikulum yang bersifat sentralisasi, sedangkan model grass roots akan berkembang dalam sistem pendidikan yang bersifat desentralisasi.
Dalam model pengembangan yang bersifat grass roots, seorang guru, sekelompok guru, atau keseluruhan guru di suatu sekolah mengadakan upaya pengembangan kurikulum, misalnya kepompong guru mata pelajaran tertentu dari berbagai sekolah dan madrasah seperti melalui wadah musyawarah guru mata pelajaran (MGMP). Pengambangan atau penyempurnaan ini dapat berkenaan dengan suatu komponen kurikulum, satu atau beberapa bidang studi ataupun seluruh bidang studi dan seluruh komponen kurikulum. Apabila kondisinya telah memungkinkan, baik dilihat dari kemampuan guru-guru, fasilitas, biaya maupun bahan-bahan kepustakaan, pengembangan kurikulum model grass roots, akan lebih baik. Hal itu didasarkan atas pertimbangan bahwa guru adalah perencana, pelaksana dan juga penyempurna dari pengajaran di kelasnya.[8]
Ada beberapa hal yang yang harus di perhatikan dalam pengembangan kurikulum model Grass roots diantaranya:
1.      Guru harus mempunyai kemampuan yang profesional
2.      Guru harus terlibat penuh dalam perbaikan kurikulum
3.      Guru harus terlibat dalam perumusan tujuan, pemilihan bahan, dan penentuan evaluasi.
4.      Seringnya pertemuan kelompok dalam pembahasan kurikulum yang akan berdampak terhadap pemahaman guru dan akan menghasilkan konsensus tujuan, prinsip maupun rencana-rencana[9]
Seiring dengan perubahan paradigma dalam pengelolaan pendidikan dari sentralisasi menjadi desentralisasi atau otonomi penyelenggaraan pendidikan, model pengembangan kurikulum ini dianut oleh pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) meskipun tidak secara penuh. Standar isi yang mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi lulusan setiap mata pelajaran pada setiap semester setiap jenis dan setiap jenjang pendidikan masih ditetapkan secara terpusat melalui Keputusan Menteri Pendidikan Nasional.[10]
D.    Model pengembangan Beauchamp
Model pengembangan kurikulum ini dikembangkan oleh Beaucuchamp seorang ahli kurikulum. Beauchamp mengemukakan ada lima hal dalam proses pengembangan suatu kurikulum:
a.       Menetapkan wilayah atau area yang akan melakikan perubahan suatu kurikulum. Wilayah itu bisa terjadi pada hanya satu sekolah, satu kecamatan, kabupaten atau kota atau mungkin tingkat provinsi atau tingkat nasional. Penetapan area ini ditentukan oleh wenang yang dimiliki oleh pengambi kebijakan dalam pengambangan kurikulum.
b.      Menetapkan personalia, yaitu pihak-pihak yang akan terlibat dalam proses pengembangan kurikulum. Pihak-[pihak yang harus dilibatkan dalam proses pengembangan kurikulum itu terdiri dari para ahli kurikulum, para ahli pendidikan termasuk di dalamnya para guru yang dianggap pengalaman, para profesional dan tenaga lain dalam bidang pendidikan lain.[11]
c.       Menetapkan organisasi dan prosedur yang akan ditempuh, yaitu dalam hal merumuskan tujuan umum (standar kompetensi) dan tujuan khusus (Kompetesi dasar), memilih isi dan pengalaman belajar serta menentukan evaluasi. Keseluruhan prosedur tersebut dibagi ke dalam lima langkah yaitu:
1)      Membentuk tim pengembang kurikulum
2)      Melakukan penilaian terhadap kurikulum yang sedang berjalan.
3)      Melakukan studi atau penjajakan tentang penentuan kurikulum baru.
4)      Merumuskan kriteria dan alternatif pengembangan kurikulum
5)      Menyusun dan menulis kurikulum yang di kehendaki.
d.      Implementasi kurikulum. Pada tahap ini perlu dipersiapkan secara matang berbagai hal yang dapat berpengaruh baik langsung maupun tuak langsung terhadap efektivitas penggunaan kurikulum.
e.       Melaksanakan evaluasi kurikulum yang menyangkut :
1)      Evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum
2)      Evaluasi terhadap desain kurikulum
3)      Evaluasi keberhasilan siswa
4)      Evaluasi dari keseluruhan sistem kurikulum.[12]
E.     Model Demonstrasi
Model pengembangan kurikulum demonstrasi pada dasarnya bersifat grass roots yang datang dari bawah. Model ini diprakarsai oleh sekelompok guru atau sekelompok guru bekerja sama dengan ahli yang bermaksud mengadakan perbaikan kurikulum. Model ini umumnya berskala kecil, hanya mencakup suatu atau beberapa sekolah, suatu komponen kurikulum atau mencakup keseluruhan komponen kurikulum.[13] Menurut Smith, Stanly dan Shores ada dua bentuk model pengembangan ini pertama, sekelompok guru atau dari beberapa sekolah yang diorganisasi dan ditunjuk untuk melaksanakan suatu uji coba atau eksperimen suatu kurikulum, unit ini melakukan suatu proyek melalui kegiatan penelitian dan pengembangan untuk menghasilkan suatu model kurikulum. Kedua, dari beberapa orang guru yang merasa kurang puas tentang kurikulum yang sudah ada, kemudian mereka mengadakan eksperimen, uji coba, dan mengadakan pengembangan secara mandiri.
Ada beberapa kebaikan dalam penerapan model pengembangan ini, di antaranya adalah;
1)      Kurikulum ini akan lebih nyata dan praktis karena dihasilkan melalui proses yang telah diuji dan di teliti secara ilmiah.
2)      Perubahan kurikulum dalam skala kecil atau pada aspek yang lebih khusus kemungkinan kecil akan ditolak oleh pihak administrator, akan berbeda dengan perubahan kurikulum yang sangat luas dan kompleks.
3)      Hakikat model demonstrasi berskala kecil akan terhindar dari kesenjangan dokumen dan pelaksanaan di lapangan.
4)      Model ini akan menggerakkan inisiatif, kreativitas guru-guru serta memberdayakan sumber-sumber administrasi untuk memenuhi kebutuhan dan minat guru dalam mengembangkan program yang baru.
F.      Taba’s Inverted Model
Model Taba merupakan modifikasi dari model Tyler. Modifikasi tersebut penekanannya terutama pada pemusatan perhatian guru. Taba mempercayai bahwa guru merupakan faktor utama dalam usaha pengembangan kurikulum. Pengembangan kurikulum yang dilakukan oleh guru dan memosisikan guru sebagai inovator dalam pengembangan kurikulum merupakan karakteristik dalam model pengembangan Taba.
Taba berpendapat model deduktif ini kurang cocok, sebab tidak merangsang timbulnya inovasi-inovasi. Menurutnya pengembangan kurikulum yang lebih mendorong inovasi dan kreativitas guru-guru adalah yang bersifat induktif. Ada lima langkah pengembangan kurikulum model Taba ini, yaitu;
1.      Mengadakan unit-unit eksperimen bersama guru-guru.
a.       Perencanaan berdasarkan dengan teori-teori yang kuat
b.      Eksperimen harus dilakukan di dalam kelas agar menghasilkan data empirik dan teruji.
Unit eksperimen ini harus dirancang melalui tahapan sebagai berikut:
a.       Mendiagnosis kebutuhan
b.      Merumuskan tujuan-tujuan khusus
c.       Memilih isi
d.      Mengorganisasi isi
e.       Memilih pengalaman belajar
f.       Mengorganisasi pengalaman belajar
g.      Mengevaluasi
h.      Melihat sekuens dan keseimbangan.[14]
2.      Menguji unit eksperimen.
3.      Mengadakan revisi dan konsolidasi.
4.      Pengembangan keseluruhan kerangka kurikulum.
5.      Implementasi dan diseminasi.[15]
G.    Roger’s Interpersonal Relations Model
Menurut Rogers pendidikan merupakan upaya untuk membantu, memperlancar, dan mempercepat perubahan peserta didik, guru serta pendidik lainnya bukan pemberi informasi apa lagi penentu perkembangan anak, merek hanyalah pendorong dan peselancar perkembangan anak. Ada empat langkah pengembangan kurikulum Roger’s:
a.       Pemilihan target dari sistem pendidikan
b.      Partisipasi guru dalam pengalaman kelompok yang intensif
c.       Pengembangan pengalaman kelompok yang intensif untuk satu kelas atau unit pelajaran.
d.      Partisipasi orang tua dalam kegiatan kelompok.
Model pengembangan kurikulum ini berbeda dari model-model lainnya sepertinya tidak ada perencanaan kurikulum tertulis, yang ada hanyalah rangkaian kegiatan kelompok. Bagi Roger’s yang penting adalah aktivitas dan interaksi.
H.    The Systematic Action-research model
Model kurikulum ini didasarkan pada asumsi bahwa perkembangan kurikulum merupakan perubahan sosial. hal itu mencakup suatu proses yang melibatkan kepribadian orang tua, siswa guru, struktur sistem sekolah, pola hubungan pribadi dan kelompok dari sekolah dan masyarakat. Sesuai dengan asumsi tersebut model ini menekankan pada tiga hal itu: hubungan insani, sekolah dan organisasi masyarakat, serta wibawa dari pengetahuan profesional. Penyusunan kurikulum harus memasukan pandangan dan harapan-harapan masyarakat, dan salah satu cara untuk mencapai hal itu adalah dengan prosedur Action Research.
Langkah pertama, mengadakan kajian secara seksama tentang masalah-masalah kurikulum, berupa pengumpulan data yang bersifat menyeluruh dan mengidentifikasi faktor-faktor, kekuatan dan kondisi yang mempengaruhi masalah tersebut. Kedua, implementasi dari keputusan yang diambil dari tindakan pertama. Tindakan ini segera diikuti oleh kegiatan pengumpulan data dan fakta-fakta. Kegiatan pengumpulan data ini mempunyai beberapa fungsi:
1.      Menyiapkan data bagi evaluasi tindakan
2.      Sebagai bahan pemahaman tentang masalah yang dihadapi
3.      Sebagai bahan untuk menilai kembali dan mengadakan modifikasi
4.      Sebagai bahan untuk menentukan tindakan lebih lanjut.
I.       Emerging Technikal Models
Pengembangan bidang teknologi dan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai efisiensi efektivitas dalam bisnis, juga mempengaruhi perkembangan model-model kurikulum. Tumbuh kecenderungan-kecenderungan baru yang didasarkan atas hal itu diantaranya:
1.      The Behavioral analysis model, menekankan penguasaan perilaku atau kemampuan. Suatu perilaku/kemampuan yang kompleks diuraikan menjadi perilaku-perilaku yang sederhana yang tersusun secara hierarkis. Siswa mempelajari perilaku-perilaku tersebut secara berangsur-angsur mulai dari yang sederhana menuju yang lebih kompleks.
2.      The System analysis model, berasal dari efisiensi bisnis. Langkah pertama dari model ini adalah menentukan spesifikasi perangkat hasil belajar yang harus dikuasai oleh siswa. Langkah kedua adalah menyusun instrumen untuk menilai ketercapaian hasil-hasil belajar tersebut. Langkah ketiga, mengidentifikasi tahap-tahap ketercapaian hasil serta perkiraan biaya yang diperlukan. Langkah keempat, membandingkan biaya dan keuntungan dari beberapa program pendidikan..
3.      The Computer-based model, suatu model pengembangan kurikulum dengan memanfaatkan komputer. Pengembangannya dimulai dengan mengidentifikasi seluruh unit-unit kurikulum, Tiap unit kurikulum telah memiliki rumusan tentang hasil-hasil yang diharapkan. Kepada para siswa dan guru-guru diminta untuk melengkapi pertanyaan tentang unit-unit kurikulum tersebut. Setelah diadakan pengolahan disesuaikan dengan kemampuan dan hasil-hasil belajar yang dicapai siswa disimpan dalam komputer.[16]
IV.    KESIMPULAN
Banyak model yang digunakan dalam pengembangan kurikulum. Pemilihan suatu model pengembangan kurikulum bukan saja didasarkan atas kelebihan dan kebaikan-kebaikan serta kemungkinan pencapaian hasil yang optimal, tetapi perlu juga disesuaikan dengan sistem pendidikan mana yang digunakan. Model pengembangan dalam kurikulum yang sifatnya subyek akademis berbeda dengan kurikulum humanistis, teknologis dan rekonstruksi sosial.
Sekurang-kurangnya ada delapan model pengembangan kurikulum, yaitu: Administrative model (Model pengembangan kurikulum ini merupakan model paling lama dan paling banyak dikenal. Diberi nama model administratif atau line staf karena inisiatif dan gagasan pengembangan datang dari para administrator pendidikan dan menggunkan prosedur administrasi.)
grassroot model (Model pengembangan ini adalah kebalikan dari model pengambangan administratif, inisiatif atau ide pengembangan kurikulum bukan datang dari atas tetapi dari bawah, yaitu guru-guru. Model pengembangan administrasi digunakan dalam sistem pengelolaan pendidikan/kurikulum yang bersifat sentralisasi, sedangkan model grass roots akan berkembang dalam sistem pendidikan yang bersifat desentralisasi.)
demonstrative model (Model ini diprakarsai oleh sekelompok guru atau sekelompok guru bekerja sama dengan ahli yang bermaksud mengadakan perbaikan kurikulum. Model ini umumnya berskala kecil, hanya mencakup suatu atau beberapa sekolah, suatu komponen kurikulum atau mencakup keseluruhan komponen kurikulum.)
Taba’s inverted model (Taba berpendapat model deduktif ini kurang cocok, sebab tidak merangsang timbulnya inovasi-inovasi. Menurutnya pengembangan kurikulum yang lebih mendorong inovasi dan kreativitas guru-guru adalah yang bersifat induktif)
Beuchamp’s systematic model, (Penetapan komponen dalam pengembangan kurikulum)
Roger’s interpersonal model, (pendidikan merupakan upaya untuk membantu, memperlancar, dan mempercepat perubahan peserta didik, guru serta pendidik lainya bukan pemberi informasi apa lagi penentu perkembangan anak, merek hanyalah pendorong dan peselancar perkembangan anak.)
Action Research model, (berdasarkan pada rekonstruksi sosial)
emerging technological model. (berasumsi bahwa Pengembangan bidang teknologi dan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai efisiensi efektivitas dalam bisnis, juga mempengaruhi perkembangan model-model kurikulum.)



V.       PENUTUP
Demikianlah makalah ini kami buat, semoga bermanfaat kepada pembaca dan dapat memberikan pemahaman kepada pemakalah.
Sekian dari kami, apabila ada kesalahan atau kekurangan dalam hal penulisan makalah ini, kritik serta saran yang membangun sangat kami butuhkan dari anda. Dari kami, selaku pemakalah meminta maaf yang sebesar-besarnya dan atas perhatian saudara kami ucapkan terimakasih.


DAFTAR PUSTAKA
Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. 2011. Kurikulum & Pembelajaran. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Sukmadinata, Nana Syaodih, 2012. Pengembangan Kurikulum. Teori dan Praktek. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
Hidayat, Sholeh. 2013. Pengembangan Kurikulum Baru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.



[1] Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran, Kurikulum & Pembelajaran, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2011), Hlm. 78
[2] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, Teori dan Praktek, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2012), Hlm. 161
[4]Sholeh Hidayat, Pengembangan Kurikulum Baru, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2013), Hlm 84
[5] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, Teori dan Praktek, Hlm. 161
[6] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, Teori dan Praktek, Hlm. 162
[7] Sholeh Hidayat, Pengembangan Kurikulum Baru, Hlm. 81
[8] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, Teori dan Praktek, Hlm. 163
[9] Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran, Kurikulum & Pembelajaran, Hlm. 82
[10] Sholeh Hidayat, Pengembangan Kurikulum Baru, Hlm. 82
[11] Sholeh Hidayat, Pengembangan Kurikulum Baru, Hlm 84
[12] Sholeh Hidayat, Pengembangan Kurikulum Baru, Hlm. 85
[13] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, Teori dan Praktek, Hlm. 162
[14] Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran, Kurikulum & Pembelajaran, Hlm. 85
[15] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, Teori dan Praktek, Hlm. 166-167
[16] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, Teori dan Praktek, Hlm. 170

0 komentar :

Posting Komentar