PEMAKAIAN SARANA DAN PRASARANA

Rabu, 04 Mei 2016

PEMAKAIAN SARANA DAN PRASARANA





PEMAKAIAN SARANA DAN PRASARANA
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas: Manajemen Sarana dan Prasarana
Dosen Pengampu: Drs. H. Muslam, M.Ag, M.Pd

 




Di Susun Oleh:
Ruly Ardiyanto                       (1403036007)
Bryan Adam Pratama             (1403036076)
M. Arif Wiranto                      (1403036106)



FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS NEGERI ISLAM WALISONGO SEMARANG
2016



I.         PENDAHULUAN
Penggunaan sarana prasarana di sekolah merupakan tanggung jawab kelapa sekolah. Namun, kelapa sekolah dapat melimpahkan kepada wakil kepala sekolah. Wakil kepala sekolah yang menangani sarana prasarana sering disebut wakasek bidang sarana dan prasarana. Kepala sekolah hendaknya berupaya untuk mendaya gunakan sumber-sumber, baik personal maupun material, secara efektif dan efisien guna menunjang tercapainya tujuan pendidikan di sekolah secara optimal
Sarana prasarana pendidikan merupakan instrumen penting dalam pendidikan dan menjadi satu dari delapan standar nasional pendidikan. Kelengkapan sarana dan prasarana pendidikan merupakan salah satu daya tarik bagi calon peserta didik. Sarana dan prasarana pendidikan merupakan material pendidikan yang sangat penting. Banyak sekolah yang memiliki sarana dan prasarana pendidikan yang lengkap sehingga sangat menunjang proses pendidikan sekolah. Baik guru maupun siswa merasa terbantu adanya fasilitas tersebut.
Namun sayangnya, tingkat kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana tidak dapat dipertahankan secara terus menerus. Sementara itu, bantuan sarana dan prasarana tidak datang setiap saat. Oleh karena itu, diupayakan pengelolaan pemakaian sarana dan prasarana secara baik agar kualitas dan kuantitas sarana prasarana dapat dipertahankan dalam waktu yang relatif lebih lama.
II.      RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian penggunaan sarana dan prasarana?
2.      Bagaimana memahami petunjuk pemakaian sarana dan prasarana?
3.      Bagaimana mengatur pemakaian sarana dan prasarana sekolah?
4.      Bagaimana pemakaian sarana dan prasarana sekolah?
5.      Bagaimana pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah?
III.   PEMBAHASAN
A.    Pengertian Pemakaian Sarana dan Prasarana
Menurut kamus besar bahasa Indonesia pemakaian adalah perbuatan memakai.[1] Dapan disimpulkan bahwa pemakaian adalah kegiatan memakai suatu barang atau produk untuk mencapai tujuan tertentu.
Pemakaian sarana dan prasarana adalah pemanfaatan sarana dan prasarana pendidikan untuk mendukung proses pendidikan demi mencapai tujuan pendidikan. Dalam hal pemanfaatan sarana haus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut.
1.      Tujuan yang akan dicapai.
2.      Kesesuaian antar alat yang digunakan dengan materi yang dibahas.
3.      Tersedianya sarana dan prasarana penunjang.
4.      Karakteristik siswa.
Terdapat dua prinsip penggunaan sarana dan prasarana di sekolah yang harus diperhatikan dalam pemakaian perlengkapan media, yaitu:
1.      Prinsip efektivitas
Prinsip efektivitas berarti semua pemakaian perlengkapan pendidikan di sekolah harus ditujukan semata-mata dalam memperlancar pencapaian tujuan pendidikan sekolah, baik secara langsung maupun tidak langsung.
2.      Prinsip efisiensi
Prinsip efisiensi berarti semua pemakaian perlengkapan pendidikan secara hemat dan hati-hati, sehingga semua perlengkapan yang ada tidak mudah habis, rusak atau hilang.[2]
Penggunaan barang meliputi dua kategori yaitu inventaris yang tidak habis sekali pakai dan inventaris habis pakai, dalam administrasi logistik prinsip efisiensi dan efektivitas merupakan hal yang perlu dipegang menjaga adanya pemborosan, pemborosan terjadi karena dua faktor yaitu :
1.      Sikap Mental
Sikap mental pada dasarnya bentuk ketidak perdulian pada berfungsinya alat/barang yang digunakan pegawai dan ketidakjujuran dalam mengelola kekayaan milik organisasi.
2.      Kurangnya Keterampilan
Kurangnya keterampilan menyelesaikan tugas, dalam melaksanakan tugasnya sering banyak melakukan kesalahan. Hingga pemborosan terhadap alat/barang menjadi rusak
Dari segi pemakaian (penggunaan) terutama sarana alat perlengkapan dapat dibedakan di atas:

1.      Barang habis pakai.
Semua sarana pendidikan yang habis pakai merupakan bahan atau alat yang apabila digunakan dapat habis dalam waktu yang relatif singkat. Misalnya kapur tulis, kertas, dan bahan-bahan kimia untuk praktek.
2.      Bahan tidak habis pakai
Bahan yang tahan lama adalah bahan yang dapat yang digunakan secara terus menerus atau berkali-kali dalam waktu yang relatif lama. Misalnya meja, kursi, komputer, dan alat-alat olahraga.[3]
Penggunaan barang habis pakai harus secara maksimal dan dipertanggung jawabkan pada tiap triwulan sekali. Sedangkan penggunaan barang tetap dipertanggung jawabkan setahun sekali, maka perlu adanya pemeliharaan barang-barang itu disebut barang investasi.[4]
B.     Petunjuk Pemakaian Perlengkapan Sekolah
Berkat kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi, perlengkapan dan pendidikan di sekolah semakin canggih. Semua peralatan yang berteknologi tinggi itu biasanya dilengkapi dengan petunjuk teknis pemakaian oleh pihak pabrik ataupun perakitnya. Tujuannya untuk memudahkan konsumen dalam menggunakannya. Umumnya petunjuk teknis tersebut mencangkup komponen-komponen, sistem kerja, dan tata pengoperasian serta perawatannya.
Dalam hal ini ada enam kegiatan yang bisa dilakukan oleh pengelola perlengkapan pendidikan sekolah:
1.      Dalam setiap membeli perlengkapan pendidikan, khususnya perlengkapan pendidikan yang canggih, mengingatkan panitia pengadaannya agar tidak lupa meminta petunjuk teknis pemakaian kepada toko ataupun penjual.
2.      Mengkaji dan memahami semua isi petunjuk teknis penggunaan dan mendeskripsikan kembali dalam bentuk yang sekiranya lebih mudah dipahami semua pihak yang diperkirakan akan menggunakan perlengkapan pendidikan tersebut.
3.      Menyampaikan isi petunjuk yang telah dideskripsikan kepada semua pihak atau personel sekolah yang diperkirakan akan menggunakan perlengkapan pendidikan tersebut.
4.      Melatih semua personel tersebut untuk mengoperasikan dan merawat perlengkapan pendidikan sesuai dengan petunjuk teknis yang telah disesuaikan.
5.      Memotivasi semua personel yang telah dilatihnya agar selalu menggunakan perlengkapan pendidikan berdasarkan petunjuk teknis yang telah disediakan.
6.      Mengiakan pengawasan dan pembinaan secara terus menerus terhadap kegiatan penggunaan perlengkapan pendidikan oleh personel sekolah.[5]
C.     Pengaturan Pemakaian Sarana dan Prasarana
Pengaturan dan penggunaan sarana merupakan dua kegiatan yang tidak dapat dipisahkan karena dilaksanakan silih berganti. Sehubungan dengan pengaturan dan penggunaan ini, maka sarana dapat dibedakan menjadi 2 kategori, yaitu:
1.      Alat-alat langsung yang terlibat dalam proses belajar mengajar, seperti pengajaran, alat peraga dan media pendidikan.
2.      Alat-alat yang tidak langsung terlibat dalam proses pembelajaran seperti bangunan sekolah, meja, kursi, kamar kecil, dan sebagainya.
Pengaturan yang digunakan sebelum alat-alat digunakan disebut pengaturan awal meliputi:
1.      Memberikan identitas pada alat yaitu nomor inventaris dengan kode tertentu untuk jenis tertentu.
2.      Pencatatan alat ke dalam buku inventaris. Yang dimaksud dengan buku inventaris adalah buku yang digunakan untuk mencatat hasil kekayaan sekolah. Dengan adanya buku inventaris maka akan mudah melakukan pengontrolan dan pengecekan kembali sewaktu-waktu.
3.      Penempatan alat ke dalam ruang  atau almari yang sudah diberikan kode tertentu. Untuk sekolah yang besar yang memiliki banyak alat, pemisahan didasarkan penempatan dalam almari. Tetapi jika alat-alat hanya sedikit, pemisahan dilakukan berdasarkan rak-rak saja, misalnya rak IPA, rak alat matematika dan sebagainya.[6]
D.    Pemakaian Sarana dan Prasarana
Penggunaan atau pemakaian sarana dan prasarana di sekolah merupakan tanggung jawab kepala sekolah pada setiap jenjang pendidikan. Punuk kelancaran kegiatan tersebut, bagi kepala sekolah yang mempunyai wakil bidang sarana dan prasarana atau petugas yang berhubungan dengan sarana dan prasarana sekolah diberi tanggung jawab untuk menyusun jadwal tersebut. Yang perlu diperhatikan dalam penggunaan sarana dan prasarana adalah:
1.      Penyusunan jadwal harus dihindari benturan dengan kelompok lain.
2.      Hendaknya kegiatan-kegiatan pokok sekolah merupakan prioritas utama.
3.      Waktu dan jadwal penggunaan hendaknya diajukan pada awal tahun pelajaran.
4.      Penugasan atau penunjukan personil sesuai dengan keahlian pada bidangnya.
5.      Penjadwalan dalam penggunaan sarana dan prasarana sekolah, antar kegiatan intra kurikuler dengan ekstra kurikuler harus jelas.
Sesudah dilakukan pengaturan awal, maka alat-alat ataupun sarana lain siap untuk digunakan. Penggunaan alat dipengaruhi oleh 4 faktor, yaitu:
1.      Banyaknya alat
2.      Banyaknya kelas
3.      Banyaknya siswa dalam tiap-tiap kelas
4.      Banyaknya ruang atau lokal yang ada di sekolah
Dengan demikian, mengingat kembali faktor di atas serta pola pengaturan alat pelajaran (sentralisasi atau disentralisasi) maka secara umum dapat diatur sebagai berikut:
1.      Alat pelajaran untuk kelas tertentu
Ada kalanya suatu alat hanya diperlukan untuk kelas tertentu sesuai dengan materi kurikulum, jika banyaknya alat untuk mencukupi banyaknya kelas, maka sebaiknya alat-alat tersebut disimpan di kelas agar mempermudah penggunaan.
2.      Alat pelajaran untuk beberapa kelas
Apabila banyaknya alat terbatas, padahal yang membutuhkan lebih dari satu kelas, maka terpaksa alat-alat tersebut digunakan secara bersama-sama dan bergantian. Kemudian pengaturannya adalah:
a.       Alat pelajaran yang diangkut ke kelas yang membutuhkan secara bergantian
b.      Alat pelajaran disimpan di suat ruangan tertentu, dan guru mengajak murid untuk datang ke ruangan tersebut (sistem laboratorium).
3.      Alamat pelajaran semua siswa
Penggunaan alat pelajaran untuk semua kelas dapat dilakukan dengan membawa ke kelas yang membutuhkan secara bergantian atau siswa yang akan menggunakan mendatangi ruangan tertentu.
Dua sistem yaitu mendatangkan alat ke kelas atau mendatangkan murid ke ruangan alat ada kebaikan dan ada pula keburukannya. Alat di datangkan ke kelas terjadi yang namanya kelas tetap, dan siswa yang mendatangi ruangan-ruangan terjadi yang namanya kelas berjalan (kelas adalah sekelompok anak yang dalam waktu yang sama, di bawah bimbingan seorang guru).[7]
Berbeda dengan penggunaan mebel yang hanya kali di atur dalam artisan tidak dikeluarkan dan di masukan kembali ke tempat penyimpanan seperti alat-alat pelajaran, maka setelah digunakan alat-alat tersebut  harus diatur kembali. Inilah yang disebut dengan pengaturan kembali, yang perlu ditekankan dalam masalah ini adalah bahwa anak-anak harus diberi kesempatan untuk melaksanakan pengaturan kembali terhadap alat-alat yang mereka gunakan. Yang lebih awal dari itu adalah anak-anak harus diberi tahu dan di awasi bagaimana menggunakan perabotan sekolah. Banyak sekali ketahanan perabot sekolah tergantung dari cara pemakaiannya. Mengikutsertakan anak-anak ke dalam pemeliharaan dan pengaturan kembali mempunyai sekurang-kurangnya 3 manfaat:
1.      Melatih anak-anak untuk bertanggung jawab terhadap barang-barang yang mereka pergunakan.
2.      Mendidik anak untuk merasa ikut memiliki barang-barang milik sekolah.
3.      Anak-anak jauh lebih paham akan seluk beluk alat-alat yang mereka pergunakan.
Selain pencatatan dengan buku, ada juga pencatatan dengan menggunakan kartu. Sistem pencatatan dengan menggunakan kartu diharapkan dapat lebih teliti dan dapat diketahui dengan cepat perlunya penambahan unit barang dan atau penggantian.[8]
Selain buku atau kartu inventaris dan kartu peminjaman, ada lagi kru yang disebut dengan catatan khusus atau catatan istimewa. Catatan ini diadakan untuk mencatat hal-hal yang berkat rutin dan atau kadang-kadang bersifat mendesak. Sebagai contoh adalah mencatat jumlah barang yang pecah, di sini penting sekali yang setiap hari selalu digunakan akan tetapi tidak diketahui oleh pengelola alat. Dengan demikian, jika ditemukan barang yang rusak, maka pengelola alat dapat mengusahakan alat baru.
Sebagai pelengkap dari adanya kelas berjalan, maka setiap kelas perlu di tempel dengan:
1.      Jadwal pemakaian lokal
2.      Daftar petugas piket
3.      Acara kegiatan
4.      Peraturan yang berhubungan dengan penggunaan alat, misalnya:
a.       Cara mengeluarkan alat dari rak
b.      Aturan pembersihan setelah penggunaan
Banyak sekali siswa yang menggunakan alat praktek tetapi setelah menggunakan tidak membersihkannya kembali, contohnya adalah saat praktek mata pelajaran kimia. Banyak sekali siswa yang setelah selesai menggunakan alat langsung di taruh di rak penyimpanan tanpa membersihkannya terlebih dahulu. Hal ini dapat menimbulkan kesan bahwa siswa terebut tidak bertanggung jawab.
c.       Membuang bekas bahan yang telah digunakan dan lain sebagainya.
Dalam kasus yang sama, ada juga siswa yang setelah praktek tidak membuang bekas bahan yang digunakan, hal ini menyebabkan ruangan yang digunakan menjadi kotor dan menyebabkan bau yang tik sedapp
Satu hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan adanya pengaturan bahwa jangan membuat peraturan jika sekolah tidak menyediakan fasilitas, misalnya:
a.       Membuat peraturan jangan membuang sampah sembarangan, tetapi sekolah tidak menyediakan keranjang sampah.
b.      Peraturan hemat air, tetapi sekolah tidak pernah mengontrol apakah sistem perairan di sekolah berjalan dengan baik atau tidak.[9]
E.     Pemeliharaan Perlengkapan Sekolah
Keberadaan sarana dan prasarana bukan hanya untuk digunakan saja, tetapi juga dipelihara secara teratur, agar dapat mempertahankan kualitas serta kuantitas barang dengan baik dan tahan lama.
Menurut Soenarto dalam buku pedoman manajemen perlengkapan sekolah, pemeliharaan atau perawatan adalah upaya untuk membuat kondisi sarana dan prasarana tetap terjaga dengan baik dan menghindari kerusakan yang terlalu dini. Dengan demikian peralatan yang terawat dengan baik akan mudah untuk dipakai dan dapat menghemat biaya pembelian barang baru.
Menurut Sarjiman dalam buku pelatihan Manajemen Perawatan Preventif Sarana dan Prasarana menyatakan bahwa perawatan atau pemeliharaan adalah merupakan kegiatan yang dilakukan dalam rangka mempertahankan atau mengembalikan peralatan pada kondisi yang dapat diterima. Kondisi peralatan yang selalu dapat diterima tersebut dimaksudkan agar sarana atau fasilitas sekolah dalam keadaan siap pakai seoptimal mungkin, untuk meningkatkan unjuk kerja dan memperpanjang usia pakai, mengetahui adanya keruskan atay gejala kerusakan serta untuk menghindari terjadinya kerusakan lebih fatal.[10]
Dalam kegiatan pemeliharaan terdapat upaya pengurusan dan pengaturan agar sarana dan prasarana tetap dalam kondisi baik dan siap pakai. Dengan tujuan untuk mengoptimalkan usia pakai sarana dan prasarana, menjamin sarana dan prasarana agar selalu siap pakai, menjamin ketersediaan sarana dan prasarana yang diperlukan, menjamin keselamatan pengguna sarana dan prasarana.[11]
Adapun tujuan dan manfaat dari pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan adalah sebagai berikut:
Tujuan pemeliharaan: 
1.      Untuk mengoptimalkan usia pakai  perlatan. Hal ini sangat penting terutama jika dilihat dari aspek biaya, karena untuk membeli suatu peralatan akan jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan merawat bagian dari peralatan tersebut.
2.      Untuk menjamin kesiapan operasional peralatan untuk mendukung kelancaran pekerjaan sehingga diperoleh hasil yang optimal. Untuk menjamin ketersediaan peralatan yang diperlukan melalui pencekkan secara rutin dan teratur. 
3.      Untuk menjamin keselamatan orang atau siswa yang menggunakan alat tersebut.
Manfaat pemeliharaan:
1.      Jika peralatan terpelihara baik, umurnya akan awet yang berarti tidak perlu mengadakan penggantian dalam waktu yang singkat.
2.      Pemeliharaan yang baik mengakibatkan jarang terjadi kerusakan yang berarti biaya perbaikan dapat ditekan seminim mungkin. 
3.      Dengan adanya pemeliharaan yang baik, maka akan lebih terkontrol sehingga menghindar kehilangan. 
4.      Dengan adanya pemeliharaan yang baik, maka enak dilihat dan dipandang. 
5.      Pemeliharaan yang baik memberikan hasil pekerjaan yang baik.[12]
Dengan adanya pemeliharaan yang dilakukan secara teratur semua perlengkapan pendidikan di sekolah selalu enak dipandang, mudah digunakan, dan tidak cepat rusak. Ada beberapa macam pemeliharaan perlengkapan pendidikan sekolah.
1.      Ditinjau dari sifatnya
Ada 4 macam pemeliharaan perlengkapan sekolah, yaitu:
a.       Pemeliharaan yang bersifat pengecekan, pengecekan ini dilakukan oleh seseorang yang mengetahui tentang baik buruknya sebuah mesin.
b.      Pemeliharaan yang bersifat pencegahan. Pemeliharaan yang bersifat pencegahan, adalah pemeliharaan  sarana dan prasarana pendidikan yang secara sadar dilakukan melalui tahapan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, serta monitoring dengan tujuan untuk mencegah terjadinya gangguan kemacetan atau kerusakan fasilitas atau peralatan sekolah. Pemeliharaan preventif adalah perawatan yang dilakukan pada selang waktu tertentu dan pelaksanaannya dilakukan secara rutin dengan beberapa kriteria yang ditentukan sebelumnya dengan tujuan untuk mencegah dan mengurangi kemungkinan suatu komponen tidak memenuhi kondisi normal.[13]
c.       Pemeliharaan yang bersifat perbaikan ringan
d.      Pemeliharaan yang bersifat perbaikan berat.
e.       Perbaikan yang bersifat terencana
Jenis perawatan yang diprogramkan, diorganisir, dijadwal, dianggarkan, dan dilaksanakan sesuai dengan rencana, serta dilakukan monitoring dan evaluasi.
2.      Ditinjau dari waktu perbaikannya.
Ada dua pemeliharaan pelengkapan sekolah.
a.       Pemeliharaan sehari-hari. Contohnya: menyapu, mengepel lantai dan membersihkan halaman.
b.      Pemeliharaan berkala. Contohnya: penggantian atap/genteng.
IV.   KESIMPULAN
Pemakaian sarana dan prasarana adalah pemanfaatan sarana dan prasarana pendidikan untuk mendukung proses pendidikan demi mencapai tujuan pendidikan. Terdapat dua prinsip dalam penggunaan sarana dan prasaran pendidikan yaitu prinsip efektivitas da efisiensi.
Berkat kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi, perlengkapan dan pendidikan di sekolah semakin canggih. Semua peralatan yang berteknologi tinggi itu biasanya dilengkapi dengan petunjuk teknis pemakaian oleh pihak pabrik ataupun perakitnya. Tujuannya untuk memudahkan konsumen dalam menggunakannya. Keberadaan sarana dan prasarana bukan hanya untuk digunakan saja, tetapi untuk dipelihara secara teratur.
Kegiatan pertama yang perlu dilakukan setelah proses inventaris dan pencatatan ke dalam buku inventaris. Waktu terjadi proses pengadaan alat khususnya bersangkutan dengan alat-alat yang langsung digunakan dalam proses belajar mengajar.
Dalam kegiatan pemeliharaan terdapat upaya pengurusan dan pengaturan agar sarana dan prasarana tetap dalam kondisi baik dan siap untuk digunakan. Dengan tujuan mengoptimalkan usai pakai sarana dan prasarana, menjamin sarana dan prasarana agar selalu siap pakai, menjamin ketersediaan sarana dan prasarana yang diperlukan, menjamin keselamatan pengguna sarana dan prasarana.
V.      PENUTUP
Demikianlah makalah ini kami buat, semoga bermanfaat kepada pembaca dan dapat memberikan pemahaman kepada pemakalah.
Sekian dari kami, apabila ada kesalahan atau kekurangan dalam hal penulisan makalah ini, kritik serta saran yang membangun sangat kami butuhkan dari anda. Dari kami, selaku pemakalah meminta maaf yang sebesar-besarnya dan atas perhatian saudara kami ucapkan terimakasih





DAFTAR PUSTAKA

B. Suryosubroto, 2010. Manajemen Pendidikan di Sekolah. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Barnawi & M. Arifin, 2014, Menejemen Sarana & Prasarana Sekolah, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media,
Ibrahim Bafadal, 2003. Manajemen Perlengkapan Sekolah Teori dan Aplikasinya, Jakarta: PT. Bumi Aksara.
KBBI. 2008. Jakarta: Pusat Bahasa.
Suharsimi Arikunto & Liya Yuliana, 2008. Manajemen Pendidikan, Yogyakarta: Aditya Media,



 


[1] KBBI, (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008), Hlm. 1105
[2] Barnawi & M. Arifin, Menejemen Sarana & Prasarana Sekolah, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014), Hlm. 77
[3] Barnawi & M. Arifin, Menejemen Sarana & Prasarana Sekolah,... Hlm. 49-50
[4] B. Suryosubroto, Manajemen Pendidikan di Sekolah, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2010), Hlm. 114
[5] Ibrahim Bafadal, Manajemen Perlengkapan Sekolah Teori dan Aplikasinya, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2003), Hlm. 42-43
[6] Suharsimi Arikunto & Liya Yuliana, Manajemen Pendidikan, (Yogyakarta: Aditya Media, 2008), Hlm. 277
[7] Suharsimi Arikunto & Liya Yuliana, Manajemen Pendidikan,... Hlm. 278
[8] Suharsimi Arikunto & Liya Yuliana, Manajemen Pendidikan,... Hlm. 279
[9] Suharsimi Arikunto & Liya Yuliana, Manajemen Pendidikan,... Hlm. 277-280
[11] Barnawi & M. Arifin, Menejemen Sarana & Prasarana Sekolah,... Hlm. 277

0 komentar :

Posting Komentar