MODEL-MODEL
PENGEMBANGAN KURIKULUM
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi
Tugas
Mata Kuliah:
Pengembangan Kurikulum
Dosen Pengampu : Bapak Abdul Rohman
|
Ismi Nur Lailil M.
Bryan Adam Pratama
Ahmad Miftahul Huda
M. Ayub Madkhan
|
:
:
:
:
|
1403036075
1403036076
1403036077
1403036078
|
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG
2016
I.
PENDAHULUAN
Pengembangan kurikulum tidak dapat lepas
dari berbagai aspek yang mempengaruhinya, seperti cara
berpikir, sistem nilai (nilai moral, keagamaan, politik, budaya,
dan sosial), proses pengembangan, kebutuhan
peserta didik, kebutuhan masyarakat maupun arah
program pendidikan. Aspek-aspek tersebut akan menjadi bahan
yang perlu dipertimbangkan dalam suatu pengembangan
kurikulum. Model pengembangan kurikulum merupakan suatu
alternatif prosedur dalam rangka mendesain (designing),
menerapkan (implementation), dan mengevaluasi (evaluation)
suatu kurikulum. Oleh karena itu, model pengembangan kurikulum harus
dapat menggambarkan suatu proses sistem
perencanaan pembelajaran yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan dan
standar keberhasilan pendidikan.
Banyak model
yang digunakan dalam pengembangan kurikulum. Pemilihan suatu model pengembangan
kurikulum bukan saja didasarkan atas kelebihan dan kebaikan-kebaikan serta
kemungkinan pencapaian hasil yang optimal, tetapi perlu juga disesuaikan dengan
sistem pendidikan mana yang digunakan. Model pengembangan dalam kurikulum yang
sifatnya subyek akademis berbeda dengan kurikulum humanistis, teknologis dan
rekonstruksi sosial.
Sekurang-kurangnya
ada delapan model pengembangan kurikulum, yaitu: Administrative model, grassroot model, demonstrative model, Taba’s
inverted model, Beuchamp’s systematic model, Roger’s interpersonal model,
Action Research model, emerging technological model.
II.
RUMUSAN MASALAH
1.
Apa pengertian model pengembangan kurikulum?
2.
Bagaimana model pengembangan kurikulum administratif?
3.
Bagaimana model pengembangan kurikulum grass roots?
4.
Bagaimana model pengembangan kurikulum Beauchamp?
5.
Bagaimana model pengembangan kurikulum
demonstrasi?
6.
Bagaimana model pengambangan kurikulum Taba?
7.
Bagaimana model pengembangan kurikulum Roger’s Interpersonal Relations?
8.
Bagaimana model pengembangan kurikulum The Systematic Action-research?
9.
Bagaimana model pengembangan kurikulum Emerging Technikal?
III.
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Model Pengembangan Kurikulum
Model adalah abstraksi dunia nyata atau
representasi peristiwa kompleks atau sistem, dalam bentuk naratif, matematis,
grafis, serta lambang-lambang lainnya. Model bukanlah realitas, akan tetapi
merupakan representasi realitas yang dikembangkan dari keadaan. Dengan
demikian, model pada dasarnya berkaitan dengan rancangan yang dapat digunakan
untuk menerjemahkan sesuatu sarana untuk mempermudah berkomunikasi, atau
sebagai petunjuk yang bersifat perspektif untuk mengambil keputusan, atau
sebagai petunjuk perencanaan untuk kegiatan pengelolaan.
Model pengembangan kurikulum adalah langkah atau prosedur
sistematis dalam proses penyusunan suatu
kurikulum, dimana pengembangan
kurikulum dibutuhkan untuk memperbaiki atau menyempurnakan kurikulum yang
dibuat untuk dikembangkan sendiri baik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah
atau sekolah.
B. The Administrative Model
Model pengembangan kurikulum ini
merupakan model paling lama dan paling banyak dikenal. Diberi nama model
administratif atau line staf karena inisiatif dan gagasan pengembangan datang
dari para administrator pendidikan dan menggunakan prosedur administrasi atau
dapat dikatakan pula sebagai garis dan staf yang sifatnya top
down. Dengan wewenang administrasinya,
administrator pendidikan membentuk komisi atau tim yang terdiri atas pejabat di
bawahannya, para ahli pendidikan, ahli kurikulum, ahli disiplin ilmu, dan para
tokoh dari dunia kerja dan perusahaan. Tugas tim atau komisi ini adalah
merumuskan konsep-konsep dasar, landasan-landasan kebijaksanaan, dan strategi
utama ala pengembangan kurikulum. Setelah hal-hal yang mendasar ini terumuskan
dan mendapatkan pengkajian yang seksama, administrator pendidikan menyusun tim
atau komisi kerja pengambangan kurikulum.
Tugas para administrator tersebut adalah merumuskan konsep-konsep
dasar, landasan-landasan, kebijaksanaan dan strategi utama dalam pengembangan
kurikulum. Selanjutnya tim membentuk kelompok kerja yang menyusun tujuan khusus
pendidikan, garis besar bahan pengajaran, dan kegiatan belajar. Hasil kerja
kelompok selanjutnya dikaji ulang oleh panitia pengarah yang telah dibentuk
sebelumnya dan para ahli lain di bidangnya. Langkah selanjutnya adalah mengkaji
ulang dengan cara melakukan uji coba untuk mengetahui keefektifan dan
kelayakannya. Dengan cara-cara dan urutan semacam ini terlihat bahwa dari sisi
kebijakan model ini lebih bersifat sentralistik. Dalam pelaksanaannya,
kurikulum ini memerlukan kegiatan pantauan dan bimbingan di lapangan.
Setelah berjalan dalam kurun waktu yang ditetapkan, perlu dilakukan
evaluasi untuk menentukan validitas komponen-komponen yang ada dalam kurikulum.
Hasil penilaian tersebut merupakan umpan balik bagi semua unsur terkait,
khususnya instansi pendidikan di tingkat pusat, daerah, dan sekolah. Kelemahan model ini terletak pada kurang pekanya terhadap adanya perubahan
masyarakat, selain itu kurikulum ini biasanya bersifat seragam secara nasional
sehingga kadang-kadang melupakan (atau mengabaikan) adanya kebutuhan dan
kekhususan yang ada pada setiap daerah. Model pengembangan ini dikembangkan di
Indonesia bertahun-tahun sejak kurikulum 1968 sampai dengan kurikulum 2004.
C. The Grass Roots Model
Model pengembangan ini adalah kebalikan
dari model pengambangan administratif, inisiatif atau ide pengembangan
kurikulum bukan datang dari atas tetapi dari bawah, yaitu guru-guru. Model
pengembangan administrasi digunakan dalam sistem pengelolaan
pendidikan/kurikulum yang bersifat sentralisasi, sedangkan model grass roots
akan berkembang dalam sistem pendidikan yang bersifat desentralisasi.
Dalam model pengembangan yang bersifat grass
roots, seorang guru, sekelompok guru, atau keseluruhan guru di suatu sekolah
mengadakan upaya pengembangan kurikulum, misalnya kepompong guru mata pelajaran
tertentu dari berbagai sekolah dan madrasah seperti melalui wadah musyawarah
guru mata pelajaran (MGMP). Pengambangan atau penyempurnaan ini dapat berkenaan
dengan suatu komponen kurikulum, satu atau beberapa bidang studi ataupun
seluruh bidang studi dan seluruh komponen kurikulum. Apabila kondisinya telah
memungkinkan, baik dilihat dari kemampuan guru-guru, fasilitas, biaya maupun
bahan-bahan kepustakaan, pengembangan kurikulum model grass
roots, akan lebih baik. Hal itu didasarkan atas pertimbangan bahwa guru
adalah perencana, pelaksana dan juga penyempurna dari pengajaran di kelasnya.
Ada beberapa hal yang yang harus di
perhatikan dalam pengembangan kurikulum model Grass roots diantaranya:
1. Guru harus mempunyai kemampuan yang profesional
2. Guru harus terlibat penuh dalam perbaikan kurikulum
3. Guru harus terlibat dalam perumusan tujuan, pemilihan bahan, dan
penentuan evaluasi.
4. Seringnya pertemuan kelompok dalam pembahasan kurikulum yang akan
berdampak terhadap pemahaman guru dan akan menghasilkan konsensus tujuan,
prinsip maupun rencana-rencana
Seiring dengan perubahan paradigma dalam
pengelolaan pendidikan dari sentralisasi menjadi desentralisasi atau otonomi
penyelenggaraan pendidikan, model pengembangan kurikulum ini dianut oleh
pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) meskipun tidak secara penuh.
Standar isi yang mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi lulusan setiap
mata pelajaran pada setiap semester setiap jenis dan setiap jenjang pendidikan
masih ditetapkan secara terpusat melalui Keputusan Menteri Pendidikan Nasional.
D. Model pengembangan Beauchamp
Model pengembangan kurikulum ini
dikembangkan oleh Beaucuchamp seorang ahli kurikulum. Beauchamp mengemukakan ada
lima hal dalam proses pengembangan suatu kurikulum:
a. Menetapkan wilayah atau area yang akan melakikan perubahan suatu
kurikulum. Wilayah itu bisa terjadi pada hanya satu sekolah, satu kecamatan,
kabupaten atau kota atau mungkin tingkat provinsi atau tingkat nasional.
Penetapan area ini ditentukan oleh wenang yang dimiliki oleh pengambi kebijakan
dalam pengambangan kurikulum.
b. Menetapkan personalia, yaitu pihak-pihak yang akan terlibat dalam
proses pengembangan kurikulum. Pihak-[pihak yang harus dilibatkan dalam proses
pengembangan kurikulum itu terdiri dari para ahli kurikulum, para ahli
pendidikan termasuk di dalamnya para guru yang dianggap pengalaman, para
profesional dan tenaga lain dalam bidang pendidikan lain.
c. Menetapkan organisasi dan prosedur yang akan ditempuh, yaitu dalam hal
merumuskan tujuan umum (standar kompetensi) dan tujuan khusus (Kompetesi
dasar), memilih isi dan pengalaman belajar serta menentukan evaluasi.
Keseluruhan prosedur tersebut dibagi ke dalam lima langkah yaitu:
1) Membentuk tim pengembang kurikulum
2) Melakukan penilaian terhadap kurikulum yang sedang berjalan.
3) Melakukan studi atau penjajakan tentang penentuan kurikulum baru.
4) Merumuskan kriteria dan alternatif pengembangan kurikulum
5) Menyusun dan menulis kurikulum yang di kehendaki.
d. Implementasi kurikulum. Pada tahap ini perlu dipersiapkan secara matang
berbagai hal yang dapat berpengaruh baik langsung maupun tuak langsung terhadap
efektivitas penggunaan kurikulum.
e. Melaksanakan evaluasi kurikulum yang menyangkut :
1) Evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum
2) Evaluasi terhadap desain kurikulum
3) Evaluasi keberhasilan siswa
4) Evaluasi dari keseluruhan sistem kurikulum.
E. Model Demonstrasi
Model pengembangan kurikulum demonstrasi
pada dasarnya bersifat grass roots yang datang dari bawah. Model ini diprakarsai oleh
sekelompok guru atau sekelompok guru bekerja sama dengan ahli yang bermaksud
mengadakan perbaikan kurikulum. Model ini umumnya berskala kecil, hanya
mencakup suatu atau beberapa sekolah, suatu komponen kurikulum atau mencakup
keseluruhan komponen kurikulum.
Menurut Smith, Stanly dan Shores ada dua bentuk model pengembangan ini pertama,
sekelompok guru atau dari beberapa sekolah yang diorganisasi dan ditunjuk untuk
melaksanakan suatu uji coba atau eksperimen suatu kurikulum, unit ini melakukan
suatu proyek melalui kegiatan penelitian dan pengembangan untuk menghasilkan
suatu model kurikulum. Kedua, dari beberapa orang guru yang merasa kurang puas
tentang kurikulum yang sudah ada, kemudian mereka mengadakan eksperimen, uji
coba, dan mengadakan pengembangan secara mandiri.
Ada beberapa kebaikan dalam penerapan
model pengembangan ini, di antaranya adalah;
1) Kurikulum ini akan lebih nyata dan praktis karena dihasilkan melalui
proses yang telah diuji dan di teliti secara ilmiah.
2) Perubahan kurikulum dalam skala kecil atau pada aspek yang lebih khusus
kemungkinan kecil akan ditolak oleh pihak administrator, akan berbeda dengan
perubahan kurikulum yang sangat luas dan kompleks.
3) Hakikat model demonstrasi berskala kecil akan terhindar dari
kesenjangan dokumen dan pelaksanaan di lapangan.
4) Model ini akan menggerakkan inisiatif, kreativitas guru-guru serta
memberdayakan sumber-sumber administrasi untuk memenuhi kebutuhan dan minat
guru dalam mengembangkan program yang baru.
F. Taba’s Inverted Model
Model Taba merupakan modifikasi dari
model Tyler. Modifikasi tersebut penekanannya terutama pada pemusatan perhatian
guru. Taba mempercayai bahwa guru merupakan faktor utama dalam usaha
pengembangan kurikulum. Pengembangan kurikulum yang dilakukan oleh guru dan
memosisikan guru sebagai inovator dalam pengembangan kurikulum merupakan
karakteristik dalam model pengembangan Taba.
Taba berpendapat model deduktif ini kurang cocok, sebab tidak
merangsang timbulnya inovasi-inovasi. Menurutnya pengembangan kurikulum yang
lebih mendorong inovasi dan kreativitas guru-guru adalah yang bersifat
induktif. Ada lima langkah pengembangan kurikulum model Taba ini, yaitu;
1. Mengadakan unit-unit eksperimen bersama guru-guru.
a. Perencanaan berdasarkan dengan teori-teori yang kuat
b. Eksperimen harus dilakukan di dalam kelas agar menghasilkan data
empirik dan teruji.
Unit eksperimen ini harus dirancang
melalui tahapan sebagai berikut:
a. Mendiagnosis kebutuhan
b. Merumuskan tujuan-tujuan khusus
c. Memilih isi
d. Mengorganisasi isi
e. Memilih pengalaman belajar
f. Mengorganisasi pengalaman belajar
g. Mengevaluasi
h. Melihat sekuens dan keseimbangan.
2. Menguji unit eksperimen.
3. Mengadakan revisi dan konsolidasi.
4. Pengembangan keseluruhan kerangka kurikulum.
5. Implementasi dan diseminasi.
G. Roger’s Interpersonal Relations Model
Menurut Rogers pendidikan merupakan
upaya untuk membantu, memperlancar, dan mempercepat perubahan peserta didik,
guru serta pendidik lainnya bukan pemberi informasi apa lagi penentu
perkembangan anak, merek hanyalah pendorong dan peselancar perkembangan anak.
Ada empat langkah pengembangan kurikulum Roger’s:
a. Pemilihan target dari sistem pendidikan
b. Partisipasi guru dalam pengalaman kelompok yang intensif
c. Pengembangan pengalaman kelompok yang intensif untuk satu kelas atau
unit pelajaran.
d. Partisipasi orang tua dalam kegiatan kelompok.
Model pengembangan kurikulum ini berbeda dari model-model lainnya
sepertinya tidak ada perencanaan kurikulum tertulis, yang ada hanyalah
rangkaian kegiatan kelompok. Bagi Roger’s yang penting adalah aktivitas dan
interaksi.
H. The Systematic Action-research model
Model kurikulum ini didasarkan pada
asumsi bahwa perkembangan kurikulum merupakan perubahan sosial. hal itu
mencakup suatu proses yang melibatkan kepribadian orang tua, siswa guru, struktur
sistem sekolah, pola hubungan pribadi dan kelompok dari sekolah dan masyarakat.
Sesuai dengan asumsi tersebut model ini menekankan pada tiga hal itu: hubungan
insani, sekolah dan organisasi masyarakat, serta wibawa dari pengetahuan
profesional. Penyusunan kurikulum harus memasukan pandangan dan harapan-harapan
masyarakat, dan salah satu cara untuk mencapai hal itu adalah dengan prosedur
Action Research.
Langkah pertama, mengadakan kajian
secara seksama tentang masalah-masalah kurikulum, berupa pengumpulan data yang
bersifat menyeluruh dan mengidentifikasi faktor-faktor, kekuatan dan kondisi
yang mempengaruhi masalah tersebut. Kedua, implementasi dari keputusan yang
diambil dari tindakan pertama. Tindakan ini segera diikuti oleh kegiatan
pengumpulan data dan fakta-fakta. Kegiatan pengumpulan data ini mempunyai
beberapa fungsi:
1. Menyiapkan data bagi evaluasi tindakan
2. Sebagai bahan pemahaman tentang masalah yang dihadapi
3. Sebagai bahan untuk menilai kembali dan mengadakan modifikasi
4. Sebagai bahan untuk menentukan tindakan lebih lanjut.
I. Emerging Technikal Models
Pengembangan bidang teknologi dan ilmu
pengetahuan serta nilai-nilai efisiensi efektivitas dalam bisnis, juga
mempengaruhi perkembangan model-model kurikulum. Tumbuh
kecenderungan-kecenderungan baru yang didasarkan atas hal itu diantaranya:
1. The Behavioral analysis model, menekankan penguasaan perilaku atau
kemampuan. Suatu perilaku/kemampuan yang kompleks diuraikan menjadi
perilaku-perilaku yang sederhana yang tersusun secara hierarkis. Siswa mempelajari
perilaku-perilaku tersebut secara berangsur-angsur mulai dari yang sederhana
menuju yang lebih kompleks.
2. The System analysis model, berasal dari efisiensi bisnis. Langkah
pertama dari model ini adalah menentukan spesifikasi perangkat hasil belajar yang
harus dikuasai oleh siswa. Langkah kedua adalah menyusun instrumen untuk
menilai ketercapaian hasil-hasil belajar tersebut. Langkah ketiga,
mengidentifikasi tahap-tahap ketercapaian hasil serta perkiraan biaya yang
diperlukan. Langkah keempat, membandingkan biaya dan keuntungan dari beberapa
program pendidikan..
3. The Computer-based model, suatu model pengembangan kurikulum dengan
memanfaatkan komputer. Pengembangannya dimulai dengan mengidentifikasi seluruh
unit-unit kurikulum, Tiap unit kurikulum telah memiliki rumusan tentang
hasil-hasil yang diharapkan. Kepada para siswa dan guru-guru diminta untuk
melengkapi pertanyaan tentang unit-unit kurikulum tersebut. Setelah diadakan pengolahan
disesuaikan dengan kemampuan dan hasil-hasil belajar yang dicapai siswa
disimpan dalam komputer.
IV.
KESIMPULAN
Banyak model yang digunakan dalam pengembangan kurikulum. Pemilihan
suatu model pengembangan kurikulum bukan saja didasarkan atas kelebihan dan
kebaikan-kebaikan serta kemungkinan pencapaian hasil yang optimal, tetapi perlu
juga disesuaikan dengan sistem pendidikan mana yang digunakan. Model
pengembangan dalam kurikulum yang sifatnya subyek akademis berbeda dengan
kurikulum humanistis, teknologis dan rekonstruksi sosial.
Sekurang-kurangnya ada delapan model pengembangan kurikulum, yaitu:
Administrative model (Model pengembangan kurikulum ini merupakan
model paling lama dan paling banyak dikenal. Diberi nama model administratif
atau line staf karena inisiatif dan gagasan pengembangan
datang dari para administrator pendidikan dan menggunkan prosedur
administrasi.)
grassroot model (Model pengembangan ini adalah kebalikan
dari model pengambangan administratif, inisiatif atau ide pengembangan kurikulum
bukan datang dari atas tetapi dari bawah, yaitu guru-guru. Model pengembangan
administrasi digunakan dalam sistem pengelolaan pendidikan/kurikulum yang
bersifat sentralisasi, sedangkan model grass roots akan berkembang dalam sistem
pendidikan yang bersifat desentralisasi.)
demonstrative model (Model ini diprakarsai oleh sekelompok
guru atau sekelompok guru bekerja sama dengan ahli yang bermaksud mengadakan
perbaikan kurikulum. Model ini umumnya berskala kecil, hanya mencakup suatu
atau beberapa sekolah, suatu komponen kurikulum atau mencakup keseluruhan
komponen kurikulum.)
Taba’s inverted model (Taba berpendapat model deduktif ini
kurang cocok, sebab tidak merangsang timbulnya inovasi-inovasi. Menurutnya
pengembangan kurikulum yang lebih mendorong inovasi dan kreativitas guru-guru
adalah yang bersifat induktif)
Beuchamp’s
systematic model, (Penetapan komponen dalam pengembangan kurikulum)
Roger’s interpersonal model, (pendidikan merupakan upaya untuk
membantu, memperlancar, dan mempercepat perubahan peserta didik, guru serta
pendidik lainya bukan pemberi informasi apa lagi penentu perkembangan anak,
merek hanyalah pendorong dan peselancar perkembangan anak.)
Action Research model, (berdasarkan pada rekonstruksi sosial)
emerging technological model. (berasumsi bahwa Pengembangan bidang
teknologi dan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai efisiensi efektivitas dalam
bisnis, juga mempengaruhi perkembangan model-model kurikulum.)
V.
PENUTUP
Demikianlah
makalah ini kami buat, semoga bermanfaat kepada pembaca dan dapat memberikan
pemahaman kepada pemakalah.
Sekian dari kami, apabila ada kesalahan atau kekurangan dalam hal
penulisan makalah ini, kritik serta saran yang membangun sangat kami butuhkan
dari anda. Dari kami, selaku pemakalah meminta maaf yang sebesar-besarnya dan
atas perhatian saudara kami ucapkan terimakasih.
DAFTAR
PUSTAKA
Tim
Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. 2011. Kurikulum &
Pembelajaran. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Sukmadinata,
Nana Syaodih, 2012. Pengembangan Kurikulum. Teori dan Praktek. Bandung:
PT. Remaja Rosda Karya.
Hidayat,
Sholeh. 2013. Pengembangan Kurikulum Baru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.