MOTIVASI dan KOMUNIKASI
MOTIVASI dan KOMUNIKASI
Makalah
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Dasar-dasar Manajemen
Pendidikan
Dosen Pengampu : Dr. Fahrurrozi, M. Ag
|
Bryan Adam
Pratama
Ahmad
Najihan Muzakki
Didik
Cahyono
|
:
:
:
|
1403036076
1403036087
1403036101
|
FAKULTAS ILMU
TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015
I.
PENDAHULUAN
Kinerja atau prestasi kerja sangat penting
didalam sebuah perusahaan, karena sebuah perusahaan bisa berjalan atau
beroperasi dengan baik hanya jika diikuti dengan kinerja atau prestasi kerja
yang baik dari setiap sumber daya manusia yang ada dalam ruang lingkup
organisasi atau perusahaan tersebut.
Selain
itu Prestasi kerja juga dapat diartikan sebagai hasil yang dicapai seseorang
menurut ukuran yang berlaku untuk pekerjaan yang bersangkutan.
Menurut
Hasibuan (1995:105), prestasi kerja adalah suatu hasil kerja yang dicapai
seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang
didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu.
Menurut Moh. As'ud (1995:47), prestasi kerja sebagai
kesuksesan seseorang dalam melaksanakan suatu pekerjaan.
Untuk mendukung kinerja atau prestasi
kerja dalam sebuah perusahaan diperlukan sebuah pengukuran atau penilaian
terhadap kinerja yang dilakukan setiap atau masing-masing individu sebagai
sumberdaya manusia dalam perusahaan tersebut supaya hasil dan tujuan perusahaan
dapat tercapai.
Ukuran terakhir
keberhasilan dari suatu departemen personalia adalah prestasi kerja. Karena
baik departemen itu sendiri maupun karyawan memerlukan umpan balik atas
upayanya masing-masing, maka prestasi kerja dari setiap karyawan perlu dinilai.
Oleh karena itu Penilaian prestasi kerja adalah proses dimana
organisasi mengevaluasi atau
menilai prestasi kerja.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi
kinerja atau prestasi kerja dalam sebuah organisasi yaitu peranan dari
komunikasi, motivasi dan kepemimpinan. Ketigannya sangat diperlukan karena
tanpa ketiga faktor tersebut maka sumberdaya manusia yang ada tidak bisa
dikelola dengan baik sehingga menyebabkan prestasi kerja memburuk dan proses
pencapaian tujuan dalam suatu organisasi tidak bisa maksimal.
II.
RUMUSAN MASALAH
1.
Apa Pengertian
Motivasi?
2.
Apa Pengertian
Komunikasi?
3.
Apa saja
Terori-teori konten?
4.
Apa saja
teori-teori proses?
III.
PEMBAHASAN
A.
Motivasi
Motivasi
berasal dari kata movere yang berarti dorongan atau menggerakkan.
Motivasi (motivation) dalam manajemen hanya ditujukan pada sumber daya
manusia umumnya dan bawahan khususnya. Motivasi mempersoalkan bagaimana caranya
mengarahkan daya dan potensi bawahan, agar mau bekerja sama secara produktif
berhasil mencapai dan mewujudkan tujuan yang telah ditentukan.
Pentingnya
motivasi karena motivasi adalah hal yang menyebabkan, menyalurkan dan mendukung
perilaku manusia, supaya mau bekerja giat dan antusias untuk mencapai hasil
yang optimal. Motivasi semakin penting karena manajer membagikan pekerjaan pada
bawahannya untuk dikerjakan dengan baik dan terintegrasi kepada tujuan yang
diinginkan.
Perusahaan tidak hanya mengharapkan
karyawan mampu, cakap dan terampil tetapi yang terpenting mereka mau bekerja
giat dan berkeinginan untuk mencapai hasil kerja yang maksimal. Kemampuan dan
kecakapan karyawan tidak ada artinya bagi perusahaan jika mereka tidak mau
bekerja giat.
B.
Komunikasi
Kata atau
istilah “komunikasi” (dalam bahasa Inggris Communication) berasal dari Communicatus
dalam bahasa Latinyang artinya berbagi atau menjadi hak milik bersama.[1]
Istilah lain
komunikasi adalah proses pemindahan pengertian dalam bentuk gagasan atau
informasi dari seseorang keorang lain. Perpindahan pengertian tersebut
melibatkan lebih dari sekedar kata-kata yang digunakan dalam percakapan, tetapi
juga ekspresi wajah, intonasi, titik putus vokal dan sebagainya. Jika seseorang
mengirimkan berita dan menerimanya sangat tergantung pada
ketrampilan-ketrampilan tertentu (membaca, menulis, mendengar, berbicara dan
lain-lain) untuk membuat sukses informasi.
Komunikasi,
sebagai suatu proses dengan mana orang-orang bermaksud
memberikan pengertian-pengertian melalui pengiringan berita secara
simbolis, dapat menghubngkan para anggota berbagai satuan organisasi yang
bebrbeda dan bidang yang berbeda pula, sehingga sering disebut rantai
pertukaran informasi[2].
Konsep ini mempunyai unsur-unsur : 1) suatu kegiatan untuk seseorang mengerti.
2) suatu sarana pengaliran informasi 3) suatu sistem bagi terjalinnya komunikasi
di antara individu-individu. Pandanagan tradisional tentang
komunikasi telah banyak diubah oleh perkembangan teknologi, yaitu
bahwa komunikasi tidak hanya terjadi antara dua atau lebih individu, tetapi
mencakup juga komunikasi antar orang-orang dan mesin-mesin, dan bahkan antara
mesin dengan mesin lainnya.
C.
Teori Konten
Teori Kepuasan / konten, berfokus
pada apa yang mendorong, mengarahkan, mempertahankan dan menghentikan perilaku.
a. Teori hirarki kebutuhan.
Teori
ini ditemukan oleh abrahan H. Maslow. Ia berpendapat bahwa ada kebutuhan
internal yang sangat mempengaruhi motivsi manusia dalam bekerja. Maslow
berpendapat bahwa kebutuhan itu tersusun sebagai hierarki yang terdiri atas
lima tingkat kebutuhan. Teori ini lebih dikenal dengan sebutan teori Kebutuhan
Manusia. Menurutnya, lima tingkatan tersebut bersifat berjenjang. Jika
kebutuhan pertama sudah terpenuhi maka ia akan berusaha untuk memenuhi
kebutuhan yang kedua, begitu seterusnya. Berikut tingkatan kebutuhan manusia
menurut maslow:
Tingkat 5 : Aktualisasi atau realisasi diri
Tingkat 4 : rasa hormat
Tingkat 3 : rasa disertakan, rasa cinta, dan aktivitas
sosial
Tingkat 2 : rasa aman
Tingkat 1 : fisik atau biologi.
Dalam
perkembangan teori ini ada beberapa ilmuan yang menjabarkan secara rinci
hierarki kebutuhan manusia menurut
maslow yaitu Wayne K. Hoy dan Cecil G. Miskel. Peneliti ini juga menambahkan
indikator fisik dan psikologi.
|
kebutuhan
|
Indiator Fisik dan psikologi
|
|
Tingkat 5
Aktualisasi atau realisasi diri
|
Keinginan mengembangkan diri secara maksimal melalui usaha
sendiri, kreativitas, dan ekspresi diri.
|
|
Tingkat 4
rasa hormat
|
Menerima keberhasilan diri, kompetensi, keyakinan rasa diterima
orang lain, aspirasi, rekognisi, dan dignitas atau martabat.
|
|
Tingkat 3
rasa disertakan, rasa cinta, dan aktivitas sosial
|
Rasa bahagia berkumpul dan berserikat, perasaan diterima dalam
kelompok, rasa bersahabat, dan afeksi
|
|
Tingkat 2
rasa aman
|
Menghindari bahaya dan bebas dari rasa takut atau terancam
|
|
Tingkat 1
fisik atau biologi
|
Lapar, haus, hubungan intim, rasa enak, tidur, dan istirahat[3]
|
b.
Teori 2 Faktor
Teori
ini dikemukakan oleh Federick Hezbert, Bernad Mausner, dan BarbaraSnyderman.
Mereka lakukan studi tentang motivasi kerja di industri. Berdasarkan studi
tersebut, Federick dan kawan-kawan merumuskan teori motivasi yang disebut Teori
Dua Faktor. Teori ini juga dikenal dengan teori Motivator higienes.
Mereka mengadakan penelitian dengan 203 akuntan dan insinyur. Teknik
pengumpulan data menggunakan wawancara.
Federick
Hazbert berpendapat bahwa ada faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik yang
mempengaruhi orang dalam bekerja. Termasuk faktor intrinsik adalah prestasi
yang dicapai, pengakuan, dunia kerja, tanggung jawab dan kemajuan. Faktor
ekstinsik adalah hubungan interpersonal antara atasan dengan bawahan, teknik
supervisi, kebijakan administratif, dan kondisi kerja.
Baik
faktor intrinsik atau faktor ekstrinsik sangat berpengaruh terhadap motivasi
seseorang. Meskipun demikian bukanlah sesuatu yang mutlak di kuantifikasi,
karena motifasi berhubungan dengan berbagai komponen yang sangat kompleks.[4]
c.
Teori ERG
Alderfer (1972)
mengemukakan tiga kategori kebutuhan. Kebutuhan tersebut adalah:
1) Eksistence (E) atau Eksistensi. Meliputi kebutuhan fisiologis sepeerti
lapar, rasa haus, seks, kebutuhan materi, dan lingkungan kerja yang
menyenangkan.
2) Relatedness (R) atau keterkaitan. Menyangkut hubungan dengan orang-orang
yang penting bagi kita, seperti anggota keluarga, sahabat, dan penyelia di
tempat kerja.
3) Growth (G) atau pertumbuhan. Meliputi kenginginan kita untuk produktif dan
kreatif dengan mengerahkan segenap kesanggupan kita.
Alderfer menyatakan
bahwa, pertama, bila kebutuhan akan eksistensi tidak terpenuhi, pengaruhnya
mungkin kuat, namun kategori-kategori kebutuhan lainnya mungkin masih penting
dalam mengarahkan perilaku untuk mencapai tujuan. Kedua, meskipun suatu
kebutuhan terpenenuhi, kebutuhan dapat berlangsung terus sebagai pengaruh kuat
dalam keputusan.
Jadi secara umum
mekanisme kebutuhan dapat dikatakan sebagai berikut:
1) Frustration – Regression
2) Satisfaction – Progression
D. Teori Proses
Fokus pada bagaimana dan dengan cara
apa pe-rilaku didorong, diarahkan, dipertahankan, dan dihentikan
Teori ini juga terdiri dari empat teori pendukung, yaitu :
a. Equity Theory (S. Adams)
Inti teori ini terletak pada pandangan bahwa manusia
terdorong untuk menghilangkan kesenjangan antara usaha yang dibuat bagi
kepentingan organisasi dengan imbalan yang diterima. Artinya, apabila seorang
pegawai mempunyai persepsi bahwa imbalan yang diterimanya tidak memadai, dua
kemungkinan dapat terjadi, yaitu :
1) Seorang akan berusaha memperoleh imbalan yang lebih besar.
2) Mengurangi intensitas usaha yang dibuat dalam melaksanakan tugas yang
menjadi tanggung jawabnya.
Dalam menumbuhkan suatu persepsi tertentu, seorang
pegawai biasanya menggunakan empat macam hal sebagai pembanding, hal itu antara
lain :
1) Harapannya tentang jumlah imbalan yang dianggapnya layak diterima
berdasarkan kualifikasi pribadi, seperti pendidikan, keterampilan, sifat
pekerjaan dan pengalamannya;
2) Imbalan yang diterima oleh orang lain dalam organisasi yang kualifikasi dan
sifat pekerjaannnya relatif sama dengan yang bersangkutan sendiri;
3) Imbalan yang diterima oleh pegawai lain di organisasi lain di kawasan yang
sama serta melakukan kegiatan sejenis;
4) Peraturan perundang-undangan yang berlaku mengenai jumlah dan jenis imbalan
yang pada nantinya akan menjadi hak dari para pegawai yang bersangkutan.
b. Expectancy Theory ( Victor Vroom)
Victor Vroom (1964) mengembangkan sebuah teori
motivasi berdasarkan kebutuhan infernal, tiga asumsi pokok Vroom dari teorinya adalah
sebagai berikut :
1) Setiap individu percaya bahwa bila ia berprilaku dengan cara tertentu, ia
akan memperoleh hal tertentu. Ini disebut sebuah harapan hasil (outcome
expectancy) sebagai penilaian subjektif seseorang atas kemungkinan bahwa suatu
hasil tertentu akan muncul dari tindakan orang tersebut.
2) Setiap hasil mempunyai nilai, atau daya tarik bagi orang tertentu. Ini
disebut valensi (valence) sebagai nilai yang orang berikan kepada suatu hasil
yang diharapkan.
3) Setiap hasil berkaitan dengan suatu persepsi mengenai seberapa sulit
mencapai hasil tersebut. Ini disebut harapan usaha (effort expectancy) sebagai
kemungkinan bahwa usaha seseorang akan menghasilkan pencapaian suatu tujuan
tertentu.
Motivasi dijelaskan dengan mengkombinasikan ketiga
prinsip ini. Orang akan termotivasi bila ia percaya bahwa :
1) Suatu perilaku tertentu akan menghasilkan hasil tertentu
2) Hasil tersebut punya nilai positif baginya
3) Hasil tersebut dapat dicapai dengan usaha yang dilakukan seseorang
Dengan kata lain Motivasi, dalam teori harapan adalah keputusan untuk mencurahkan usaha.
Dengan kata lain Motivasi, dalam teori harapan adalah keputusan untuk mencurahkan usaha.
c. Goal Setting Theory (Edwin Locke)
Edwin Locke mengemukakan bahwa dalam penetapan tujuan
memiliki empat macam mekanisme motivasional yakni :
1) tujuan-tujuan mengarahkan perhatian;
2) tujuan-tujuan mengatur upaya;
3) tujuan-tujuan meningkatkan persistensi; dan
4) tujuan-tujuan menunjang strategi-strategi dan rencana-rencana
kegiatan.
Teori ini juga mengungkapkan hal hal sebagai berikut :
Teori ini juga mengungkapkan hal hal sebagai berikut :
1) Kuat lemahnya tingkah laku manusia ditentukan oleh sifat tujuan yang hendak
dicapai.
2) Kecenderungan manusia untuk berjuang lebih keras mencapai suatu tujuan,
apabila tujuan itu jelas, dipahami dan bermanfaat.
3) Makin kabur atau makin sulit dipahami suatu tujuan, akan makin besar
keengganan untuk bertingkah laku.
d. Reinforcement Theory ( B.F. Skinner)
Teori ini didasarkan atas “hukum pengaruh”. Tingkah
laku dengan konsekuensi positif cenderung untuk diulang, sementara tingkah laku
dengan konsekuensi negatif cenderung untuk tidak diulang.
Rangsangan yang didapat akan mengakibatkan atau memotivasi
timbulnya respon dari seseorang yang selanjutnya akan menghasilkan suatu
konsekuensi yang akan berpengaruh pada tindakan selanjutnya. Konsekuensi yang
terjadi secara berkesinambungan akan menjadi suatu rangsangan yang perlu untuk
direspon kembali dan mengasilkan konsekuensi lagi. Demikian seterusnya sehingga
motifasi mereka akan tetap terjaga untuk menghasilkan hal-hal yang positif.
IV.
PENUTUP
a.
Kesimpulan
Motivasi berasal dari kata movere yang berarti dorongan
atau menggerakkan. Motivasi (motivation) dalam manajemen hanya ditujukan
pada sumber daya manusia umumnya dan bawahan khususnya.
Istilah lain komunikasi adalah proses pemindahan pengertian dalam
bentuk gagasan atau informasi dari seseorang keorang lain.
Terdapat teori konten:
1. Teori hierarki kebutuhan
2. Teori dua faktor
3. Teori ERG
Terdapat teori proses
1. Equity Theory
2. Expectancy Theory
3. Goal Setting Theory
4. Reinforcement Theory
b.
Kata Penutup
Demikianlah makalah ini kami buat,
semoga bermanfaat kepada pembaca dan dapat memberikan pemahaman kepada
pemakalah.
Sekian dari kami, apabila ada
kesalahan atau kekurangan dalam hal penulisan makalah ini, kritik serta saran
yang membangun sangat kami butuhkan dari anda. Dari kami, selaku pemakalah
meminta maaf yang sebesar-besarnya dan atas perhatian saudara kami ucapkan
terimakasih.
DAFTAR
PUSTAKA
Morisan, Andy Corry Wardani, Teori Komunikasi, Jakarta: Ghalia Indonesia, 2009
Sudarman
Danim, Motivasi, kepemimpinan dan efektivitas kelompok, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2012
Makalah
Kelompok 5, Mata kuliah Manajemen Perkantoran dengan judul Komunikasi
Perkantoran, tanggal 22 April 2015
http://26-dyash.blogspot.com/2010/12/teori-motivasi-isi-dan-proses.html
http://salamroman.blogspot.com/2013/05/motivasi-dan-komunikasi.html
[1] Makalah
Kelompok 5, Mata kuliah Manajemen Perkantoran dengan judul Komunikasi
Perkantoran, tanggal 22 April 2015
[2] Morisan, Andy
Corry Wardani, Teori Komunikasi, ( Jakarta: Ghalia Indonesia, 2009).
Hal. 4-5
[3] Sudarman
Danim, Motivasi, kepemimpinan dan efektivitas kelompok, (Jakarta: PT.
Rineka Cipta, 2012). Hlm. 25
[4] Sudarman
Danim, Motivasi, kepemimpinan dan efektivitas kelompok, Hlm. 31


0 komentar :
Posting Komentar