Guru dalam Pengembangan Kurikulum
I.
PENDAHULUAN
Bahwa
dalam kurikulum dapat dibedakan antara official atau witten
curriculum dengan actual curriculum. Official atau written
curriculum merupakan kurikulum resmi yang tertulis, yang merupakan acuan
bagi pelaksanaan pengajaran dalam kelas. Actual curriculum merupakan
kurikulum nyata yang dilaksanakan oleh guru-guru. Kurikulum nyata merupakan
implementasi dari official curriculum di dalam kelas. Beberapa ahli
menyatakan bahwa betapapun bagusnya suatu kurikulum (official), hasilnya
sangat bergantung pada apa yang dilakukan oleh guru di dalam kelas (actual).
Dengan demikian, guru memegang peranan penting baik dalam penyusunan maupun
pelaksanaan kurikulum.
II.
RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana konsep Guru sebagai pembimbing belajar?
2. Bagaimana peranan Guru dalam pengembangan kurikulum?
3. Bagaimana peranan Guru dalam pembelajaran?
III.
PEMBAHASAN
A. Guru Sebagai Pembimbing Belajar
Dalam konsep pendidikan klasik, guru
berperan sebagai penerus dan penyampai ilmu, sedangkan dalam konsep teknologi
pendidikan, guru adalah pelatih kemampuan. Dalam konsep interaksional guru
berperan sebagai mitra belajar, sedangkan dalam konsep pendidikan pribadi, guru
lebih berperan sebagai pengarah, pendorong, dan pembimbing.[1]
Dalam praktik pendidikan di sekolah, jarang
sekali digunakan satu konsep pendidikan secara utuh. Pada umumnya pelaksanaan pendidikan
bersifat eklektik, mungkin mencampurkan dua, tiga bahkan mungkin
keempat-empatnya. Model-model konsep pendidikan tersebut dalam praktik tidak
lagi di pandang sebagai model pendidikan yang masing-masing eksklusif, tetapi
dapat dipadukan atau minimal dihubungkan satu dengan yang lainnya. Yang tampak
adalah variasi peranan guru dalam pelaksanaan pendidikan dan pengajaran. Dalam
keseluruhan proses belajar-mengajar atau pada suatu waktu tertentu mungkin
salah satu peranan lebih menonjol dari yang lainnya. Keempat ragam peranan
tersebut sesungguhnya dapat ditempatkan dalam satu kontinum.[2]
Para pelaksana pendidikan termasuk guru
sering tidak melihat keempat peranan tersebut terletak dalam satu kontinum. Mereka
melihatnya sebagai dua ekstrem. Pada satu ujung guru berperan sebagai penyampai
ilmu dan pelatih dalam arti drilling, dan pada ujung lain peran guru
sebagai pengarah, pembimbing, pendorong, fasilitator, dan sebagainya. Praktik
pendidikan yang memberikan peranan kepada guru hanya sebagai penyampai ilmu
atau pelatih dianggap model lama, sedangkan yang memberikan peranan sebagai
pengarah, pendorong, pembimbing sebagai dipandang model baru.[3]
Sebenarnya semua konsep pendidikan itu baik
atau memiliki kebaikan-kebaikan tertentu, di samping kendala-kendala tertentu
pula. Dalam praktik yang lebih penting adalah mempertimbngkan, konsep
pendidikan mana yang paling tepat untuk mencapai tujuan tertentu bagi kelompok
peserta didik tertentu, pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu, dalam waktu
dan kondisi tertentu pula. Sejalan dengan konsep pendidikan tersebut
peran-peran apa yang tepat dilakukan oleh guru. pada saat dan situasi tertentu
peran menyampaikan materi pengetahuan memang tepat dan sangat diperlukan, tetapi
pada saat lain latihan pengembangan kemampuan dengan menggunakan media
pembelajaran mutakhir tepat, karena memang hal itu sangat diperlukan dan
sarananya ada. Pada saat dan situasi lain pengarahan dan dorongan terhadap
siswa dalam merencanakan, dan melaksanakan suatu kegiatan atau memecahkan suatu
masalah adalah tepat, karena kondisinya mendukung. Jadi, sesungguhnya realisasi
dari peranan guru tersebut sangat situasional, tidak ada yang berlaku umum.[4]
Ada satu hal yang menjadi acuan bagi guru,
dalam memilih kegiatan yang akan dilakukan serta peranan yang akan
dimainkannya, yaitu siswa. Tujuan utama kegiatan guru dalam mengajar ialah
mempengaruhi perubahan pola tingkah laku para siswanya. Perubahan ini terjadi
karena guru memberikan perlakuan-perlakuan. Tepat tidaknya, efektif tidaknya
perlakaun yang diberikan guru akan menentukan usaha belajar yang dilakukan oleh
siswa. Upaya guru memberikan perlakuan tersebut erat kaitannya dengan tingkat
harapan dan perubahan yang diinginkannya. Tujuan lainnya adalah mendorong dan
meningkatkan kemampuan sebagai hasil belajar, dengan cara itu, guru dapat
mempengaruhi perubahan tingkah laku siswa.[5]
Untuk mencapai kedua tujuan di atas,
diperlukan hubungan timbal balik antara guru dan siswa. Guru perlu menyenangi
siswanya, bersikap menerima, mengerti, dan membantu. Sebaliknya siswa juga
harus menerima, menyenangi, dan menghormati gurunya. Kesukaan dan sikap postif
siswa kepada guru, akan meningkatkan hasil belajar mereka. Antara siswa dan
guru perlu terjalin kerja sama yang baik dalam belajar. Disamping itu, guru
harus memberikan kesempatan, dan menciptakan suasaa kelas yang bebas, untuk
mendorong siswa memecahkan sendiri maslah-maslah yang mereka hadapi. Guru tak
mungkin menjawab semua pertanyaan siswa. Kesempatan belajar yang diciptakan
guru adalah agar merangsang siswa belajar, berpikir, melakukan penalaran, jadi
memungkinkan siswa untuk belajar sendiri. Jadi, antara guru dan siswa harus
tercipta hubungan sebagai mitra belajar. Minat dan pemahaman, timbal balik
antara guru dan siswa akan memperkaya kurikulum dan kegiatan belajar-mengajar
pada kelas bersangkutan.[6]
Semua kegiatan dan fasilitas yang dipilih
serta peranan yang dilakukan guru harus tertuju pada kepentingan siswa,
diarahkan pada memenuhi kebutuhan siswa, disesuaikan dengan kondisi siswa, dan
siswa menguasai apa yang diberikan atau memperoleh perkembangan secara optimal.
Dalam mengoptimalkan perkembangan siswa, ada
tiga langkah yang harus ditempuh. Pertama, mendiagnosis kemampuan dan
perkembangan siswa. Guru harus mengenal dan memahami siswa dengan baik,
memahami tahap perkembangan yang telah dicapainya, kemampuan-kemampuannya,
keunggulan dan kekurangannya, hambatan yang dihadapi serta faktor-faktor
dominan yang mempengaruhinya. Setiap peserta didik sebagai individu mempunyai
kemampuan, kecepatan belajar, karakteristik, dan problem-problem sendiri, yang
berbeda dengan individu lainnya. Perkembangan yang optimal hanya mungkin dapat
dicapai apabila kegiatan dilakukan oleh siswa dan bantuan yang diberikan oleh
guru, disesuaikan dengan kondisi tersebut.[7]
Kedua, memilih cara pembelajaran yang
sesuai dengan kondisi siswa. Pembelajaran yang betul-betul disesuaikan dengan
perbedaan individual, harus pendekatan pembelajaran yang bersifat indivdual.
Salah satu prinsip pengajaran yang efektif, adalah menggunakan pendekatan atau
metode dan media yang bervariasi, “pendekatan multi metode-multi media”.
Dengan menggunakan metode dan media yang bervariasi, perbedaan-perbedaan
individual dapat terlayani, di samping pembelajaran menjadi lebih menarik,
karena sering terjadi pergantian kegiatan. Dalam pembelajaran guru dapat
mengadakan variasi, antara metode yang lebih mengaktifkan guru dengan yang
mengaktifkan siswa, antara belajar secara klasikal dengan belajar kelompok dan
penugasan yang bersifat individual. Variasi antara menekankan pengetahuan
dengan keterampilan dan nilai-nilai, antara yang hanya menggunakan kapur-papan
tulis dengan menggunakan media, antara media sederhana dengan media yang lebih
kompleks. Juga variasi antara kegiatan yang bersifat menerima, mengolah,
menyajikan, dan penilaian.[8]
Ketiga, kegiatan pembimbingan.
Pemilihan dan penggunaan metode dan media yang bervariasi tidak dengan
sendirinya, akan mengoptimalkan perkembangan siswa. Pelaksanaan metode
pembelajaran tersebut perlu disertai dengan usha-usaha pemberian dorongan,
bantuan, pengawasan, pengarahan, dan bimbingan dari guru. pembimbingan ini
diberikan pada saat kegiatan pembelajaran, atau di luar kegiatan pembelajaran.
Pembimbingan juga dapat berupa usaha-usaha pemberian remedial teaching
dan pengayaan.[9]
B. Peran Guru Dalam Pengembangan Kurikulum
1. Pengembangan kurikulum sentralistik (administrative model).
Kurikulum yang
dikembangkan sentralistik, guru tidak terlibat secara langsung dalam
perancangan dan evaluasi kurikulum yang bersifat makro. Kurikulum makro
dilakukan oleh tim khusus yang terdiri dari para ahli, pejabat terkait,
teoritisi, praktisi, policy maker, dan lain-lain. Guru terlibat dalam
penyusunan kurikulum mikro yang dijabarkan dari kurikulum makro untuk jangka
waktu tertentu, satu tahun, satu semestre, beberapa minggu, atau beberapa hari.
Keterlibatan guru dalam kurikulum makro bersifat perwakilan, tidak semua guru
terlibat dalam proses tersebut.[10]
Pada tahapan
implementasi, justru gurulah yang memiliki posisi kunci. Guru memiliki peran
yang sangat penting untuk kesuksesan pelaksanaan kurikulum. Kreativitas,
kemampuan, kesungguhan, dan ketekunan guru akan sangat menentukan keberhasilan
pelaksanaan kurikulum. Bila dikaitkan dengan komponen kurikulum, guru diharapkan
mampu menjelaskan kepada siswa-siswanya tentang apa yang akan dicapai dalam
pembelajaran (tujuan), guru harus bisa membantu mengarahkan siswa memilih
pengalaman belajar (learning experience) yang diperlukan oleh siswanya,
guru harus bisa memilih strategi pembelajaran yang mampu mengkondisikan siswa
untuk belajar secara bersemangat, guru juga harus bisa membantu siswa untuk
mengevaluasi pengalaman belajarnya.[11]
2. Pengembangan kurikulum desentralistik (grassroot model)
Berbeda dengan
kurikulum sentralistik, kurikulum ini dikembangkan dengan inisiasi dari bawah.
Guru, sekolah atau daerah menjadi motor dalam proses pengembangan kurikulum.
Karena dikembangkan oleh guru atau kelompok guru, suatu sekolah atau sekelompok
sekolah, daerah atau sekelompok daerah, maka mereka mengembangkan sesuai dengan
kebutuhan, karakteristik, perkembangan masing-masing. Karena karakteristik yang
demikian, maka kurikulum akan beragam sesuai dengan keperluan masing-masing,
kurikulum akan lebih realistik karena dikembangkan berdasarkan kondisi riil
masing-masing site.[12]
Kurikulum yang
dikembangkan dengan pola ini memiliki kelebihan dan juga kelemahan.
Kelebihannya, yaitu:
a) kurikulum sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat
setempat.
b) Kurikulum sesuai dengan tingkat dan kemampuan sekolah, baik
kemampuan profesional, finansial, maupun manajerial
c) Memudahkan dalam implementasinya karena yang menyusun gurunya
sendiri
d) Memberikan motivasi kepada masing-masing pengembang untuk
mengembangkan kurikulum sebaik-baiknya.[13]
Namun juga ada kelemahannya, yaitu:
1) Karena tidak adanya keseragaman, apabila ada situasi tertentu
yang menuntut keseragaman, sulit untuk mewujudkannya
2) Tidak ada standar dalam penilaian yang sama, sehingga tidak bisa
membandingkan antar lembaga atau daerah
3) Apabila terjadi perpindahan sekolah, ada kesulitan tersendiri
karena masing-masing memiliki perbedaan kurikulum
3. Pengembangan kurikulum sentral-desentralistik
Dalam pengembangan
kurikulum model ini, peran pusat dan daerah memiliki porsi yang seimbang. Pusat
merumuskan hal-hal yang bersifat umum yang berlaku untuk semua daerah,
sedangkan detailnya diserahkan pada daerah sesuai memiliki karakteristik masing
masing; guru memiliki peran yang lebih banyak dibandingkan model sentralisitik.
Guru menjabarkan secara lebih detail dan operasional dari kurikulum makro yang
telah dikembangkan oleh pusat. Hal ini karena pusat hanya merumuskan
garis-garis besar, garis-garis pokok yang berlaku utnuk semua daerah, sedangkan
operasionalisasinya diserahkan kepada masing-masing daerah sesuai dengan
karakteristik masing-masing.[15]
C. Guru Dalam Pembelajaran
Dalam pengembangan kurikulum,
ada tiga hal yang selalu berkaitan, yakni perencanaan, pelaksanaan, dan
evaluasi. Pola pengelolaan kurikulum yang berbeda akan berimplikasi pada
perbedaan peran masing pihak pada tiap tahap tersebut, terutama pada tahap
perencanaan dan evaluasi. Akan tetapi pada tahap pelaksanaan (implementasi),
peran guru sangat krusial pada model pengelolaan apapun. Di antara bentuk
implementasi kurikulum adalah guru menyelenggarakan pembelajaran. Bahkan,
pembelajaran seringkali dijadikan tolak ukur berhasil tidaknya pelaksanaan
kurikulum.[16]
Berkaitan dengan ini,
guru dituntut memiliki sejumlah kemampuan atau kompetensi supaya peran yang
diembannya bisa berhasil secara maksimal. Seorang guru untuk siap melaksanakan
pembelajaran di kelas dan di luar kelas, adalah sosok guru yang memiliki
kompetensi yang handal.
Kompetensi yang biasa
diartikan dengan seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang
direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak, bagi seorang guru dalam
perspektif UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, UU Nomor
14 Tahuan 2005 tentang Guru dan Dosen, juga dalam PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang
Standar Nasional Pendidikan, meliputi empat hal, yakni: kompetensi pedagogik,
kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi profesional.[17]
Dalam implementasi
kurikulum ini, ada beberapa peran guru yang biasa dijadikan indikasi
keberhasilan dalam menjalankan tugasnya, yakni: guru sebagai mitra belajar,
guru sebagai penyampai pengetahuan, guru sebagai pelatih keterampilan, guru
sebagai pembimbing.
Untuk mempersiapkan
guru yang kompeten, maka hal-hal yang perlu diperhatikan adalah: pertama, penguatan
LPTK (Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan) sebagai lembaga pendidikan
guru yang mempunyai fungsi pokok mempersiapkan calon guru yang kelak mampu
melaksanakan tugasnya (pre-service training). Dalam hal ini, LPTK harus
selalu: a) melakukan penguatan dan pengembangan kelembagaan melalui
standarisasi pendidikan guru. b) melakukan pengembangan kompetensi calon guru
secara kontiyu melalui program akademik dan profesi.
Dalam konteks ini, ada
beberapa prinsip yang perlu dijadikan pegangan oleh LPTK:[18]
a) Syarat untuk masuk ke lembaga pendidikan guru harus standar,
tetapi prosedurnya cukup fleksibel sehingga dapat menjarinng calon-calon yang
potensial dan cocok. Penerimaan didasarkan atas pertimbangan potensi,
kecakapan, serta karakteristik pribadi.
b) Program pendidikan guru hendaknya memiliki tiga komponen yang
terintegrasi, yaitu pendidikan umum, minimal satu bidang spesialisasi, dan
keahlian dalaam bidang kurikulum dan pengajaran.
c) Perkembangan calon guru dinilai selam program berlangsung dengan
teknik penilaian yang bervariasi. Dari hasil penilaian tersebut, hanya mereka
yang memperlihatkan hasil baik yang diluluskan, yang lain perlu pembinaan lagi.
d) Program pendidikan guru perlu diakreditasi dengan standar yang
memungkinkan calon guru bisa bekerja dengan baik.
e) Perlu ada lembaga yang memberikan legilitas terhadap kelayakan
pendidikan guru, standar yaang digunakan serta memberikan sertifikasi kepada
para calon guru.
Kedua, penguatan
lembaga-lembaga yang terkait dengan pelatihan dan pengembangan guru sebagai
lembaga yang melaksanakan in-service training, seperti BPG, Balai
Diklat, dan lain-lain. Hal ini penting karena perkembangan selalu terjadi, dan
guru harus selalu di update supaya kompetensi yang dimiliki selalu
sesuai dengan perkembangan yang ada.
Ketiga, menguatkan
regulasi-regulasi dan kebijakan-kebijakan yang terkait dengan guru. dalam hal
ini, pemerintah sebagai pihak policy maker diharapkan bisa mengeluarkan
tata aturan dan kebijakan yang mendukung pengembangan kompetensi guru tersebut,
baik yang menyangkut infra struktur maupun supra struktur.[19]
Keempat, mengoptimalkan
lembaga-lembaga organisasi profesi, seperti PGRI, KKG, MGMP, dan lain-lain
sebagai wahana pengembangan profesi, terutama, dalam hal diseminasi
informasi-informasi, pengetahuan-pengetahuan, keterampilan, strategi baru yaang
belum bisa diakses oleh setiap guru.[20]
Supaya pembelajaran berhasil
mengembangkan potensi peserta secara maksimal, maka pembelajaran harus:
1) Melibatkan Siswa Secara Aktif (active learnig)
Aktivitas peserta didik
dalam kegiatan belajar mengajar sangat diperlukan, sehingga peserta didiklah
yang seharusnya banyak aktif dibandingkan guru. Dalam hal ini, John Dewey,
dengan learning by doing mengemukakan pentingnya prinsip ini melalui
metode proyeknya. Demikian juga tokoh pendidikan lainnya seperti Rousseau,
Pestalozi, Frobel, dan Montessary. Dalam kontek Indonesia, inovaasi-inovasi
pembelajaran seperti Contextual Teaching and Learning (CTL), PAIKEM
(Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan), dan
lain-lain perlu dipertimbangkan.[21]
2) Menarik Minat dan Perhatian Siswa
Minat merupakan suatu
sifat yang relatif menetap pada diri seseorang. Minat ini besar sekali
pengaruhnya terhadap belajar, sebab dengan minat seseorang akaan melakukan
sesuatu yang diminatinya. Sedangkan perhatian lebih sementara dan ada
hubungannya dengan minat.
3) Membangkitkaan Motivasi Siswa
Motivasi adalah suatu proses
untuk menggiatkan tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujun,
atau keadaan dan kesiapan diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk
berbuat sesuatu dalam mencapaai tujuan tersebut. Tugas guru adalah
membangkitkan motivasi peserta didik, sehingga ia mau melakukan belajar.
Motivasi dapat timbul dari dalam individu atau akibat pengaruh dari luar
dirinya. Dan guru harus memahami proses motivasi dengan baik.
Ada beberapa teknik
motivasi yang dapat guru lakukan, yaitu:[22]
a) Berpikiran positif. Ketika mengkritik orang begitu terjadi
ketidak besaran, tetapi kita lupa memberi dorongan positif agar mereka terus
maju. Jangan mengkritik kerja orang lain kalau kita sendiri tidak mampu memberi
contoh terlebih dahulu.
b) Menciptakan perubahan yang kuat. Adanya kemauan yang kuat untuk
mengubah situasi oleh diri sendiri. Mengubah perasaan tidak mampu menjadi
mampu, tidak mau menjadi mau.
c) Membangun harga diri. Banyak kelebihan kita sendiri dan orang
lain yang tidak kita hargai padahal penghargaan merupakan salah satu bentuk
teknik memotivasi. Kata “saya mengharapkan bantuan anda” atau “saya
mengharapkan kehadiran anda” merupakan bentuk penghargaan yang paling murah.
Berilah mereka kesempatan untuk bertaggung jawab, berilah wewenang, serta
kebebasan berpendapat.
d) Memantapkan pelaksanaan. Ungkapan dengan jelas, bagaimana cara
kerja yang benar, tindakan yang dapat membantu, dan hargai dengan tulus.
e) Membangkitkan orang lemah menjadi kuat. Buktikan bahwa mereka
sudah berhasil, dan nyatakan bahwa anda akan membantu yang mereka butuhkan.
Binalah keberanian, kerja keras, bersedia belajar dengan oraang lain.
f) Membasmi sikap menunda-nunda. Hilangkan sikap menunda-nunda
dengan alasan bahwa pekerjaan tersebut terlalu sulit dan segeralah untuk
memulai.
4) Prinsip individualitas (individualized learning)
Walaupun pembelajaran
dilakukan secara klasikal, guru juga harus memberikan perlakuan lain yang
memungkinkan siswa beraktifitas secara invidual, baik yang dilakukan di dalam
kelas maupun di luar kelas. Variasi penggunaan metode, sumber belajar, media,
gaya mengajar merupakan kegiatan yang harus dilakukan oleh guru secara
profesional.[23]
5) Peragaan dalam pengajaran
Belajar yang efektif
harus dimulai dengan pengalaman belajar langsung atau pengalaman kongkret dan
menuju kepada pengalaman yang lebih abstrak. Belajar akan lebih efektif jika
dibantu dengaan alat peraga pengajaran daripada belajar tanpa dibantu alat
tersebut.
Penggunaan alat
pengajaran hendaknya memperhatikan beberapa hal sebagai berikut; nilai atau
manfaat media pendidikan, pemilihan alat peraga, dan petunjuk penggunaan alat
peraga. Sehingga kegiatan belajar mengajar akan lebih efektif jika dibandingkan
hanya dengan penjelasan lisan.[24]
IV.
KESIMPULAN
Pada tahapan implementasi, justru gurulah
yang memiliki posisi kunci. Guru memiliki peran yang sangat penting untuk
kesuksesan pelaksanaan kurikulum. Kreativitas, kemampuan, kesungguhan, dan
ketekunan guru akan sangat menentukan keberhasilan pelaksanaan kurikulum. Bila
dikaitkan dengan komponen kurikulum, guru diharapkan mampu menjelaskan kepada
siswa-siswanya tentang apa yang akan dicapai dalam pembelajaran (tujuan), guru
harus bisa membantu mengarahkan siswa memilih pengalaman belajar (learning
experience) yang diperlukan oleh siswanya, guru harus bisa memilih strategi
pembelajaran yang mampu mengkondisikan siswa untuk belajar secara bersemangat,
guru juga harus bisa membantu siswa untuk mengevaluasi pengalaman belajarnya
[1] Nana
Syaodih Sukmadinata. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,
(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001), hlm 194
[2] Nana
Syaodih Sukmadinata. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,............hlm
194-195
[3] Nana
Syaodih Sukmadinata. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,............hlm
195
[4] Nana
Syaodih Sukmadinata. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,...........
hlm 195
[5] Nana
Syaodih Sukmadinata. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,.............hlm
195-196
[6] Nana
Syaodih Sukmadinata. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,.............hlm
196
[7] Nana
Syaodih Sukmadinata. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,.............hlm
196
[8] Nana
Syaodih Sukmadinata. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,.............hlm
196
[9] Nana
Syaodih Sukmadinata. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,.............hlm
196-197
[10]
Abdul Rohman. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek, (Semarang:
Karya Abadi Jaya, 2015), hlm 201
[11]
Abdul Rohman. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,............hlm
201
[12]
Abdul Rohman. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,............hlm
201
[13]
Nana Syaodih Sukmadinata. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,...........hlm
201
[14]
Nana Syaodih Sukmadinata. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,...........hlm
201
[15] Abdul
Rohman. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,............hlm
202-203
[16] Abdul
Rohman. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,............hlm 203
[17] Abdul
Rohman. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,............hlm 203
[18] Abdul
Rohman. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,............hlm 204
[19] Abdul
Rohman. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,............hlm 206
[20] Abdul
Rohman. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,............hlm 206
[21] Abdul
Rohman. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,............hlm 206
[22] Abdul
Rohman. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,............hlm 207
[23] Abdul
Rohman. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,............hlm 208
[24]
Abdul Rohman. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,............hlm
208

0 komentar :
Posting Komentar