2018

Senin, 17 Desember 2018

Model Pengembangan Kurikulum



Model-model pengembangan kurikulum
Banyak model yang digunakan dalam pengembangan kurikulum. Pemilihan suatu model pengembangan kurikulum bukan saja didasarkan atas kelebihan dan kebaikan-kebaikan serta kemungkinan pencapaian hasil yang optimal, tetapi perlu juga disesuaikan dengan sistem pendidikan mana yang digunakan. Model pengembangan dalam kurikulum yang sifatnya subyek akademis berbeda dengan kurikulum humanistis, teknologis dan rekonstruksi sosial.
Sekurang-kurangnya ada delapan model pengembangan kurikulum, yaitu: Administrative model, grassroot model, demonstrative model, Taba’s inverted model, Beuchamp’s systematic model, Roger’s interpersonal model, Action Research model, emerging technological model.
A.    The Administrative Model
Model pengembangan kurikulum ini merupakan model paling lama dan paling banyak dikenal. Diberi nama model administratif atau line staf karena inisiatif dan gagasan pengembangan datang dari para administrator pendidikan dan menggunkan prosedur administrasi. Dengan wewenang administrasinya, administrator pendidikan membentuk komisi atau tim yang terdiri atas pejabat dibawahanya, para ahli endidikan, ahlimkurikulum, ahli disiplin ilmu, dan para tokoh dari dunia kerja dan perusahaan. Tugas tim atau komisi ini adalah merumuskan konsep-konsep dasar, landasan-landasan kebijaksanaan, dan strategi utama ala pengembangan kurikulum. Setelah hal-hal yang mendasar ini terumuskan dan mendapatkan pengkajian yang seksama, administrator pendidikan menyusun tim atau komisi kerja pengambangan kurikulum.[1]
Tugas para administrator tersebut adalah merumuskan konsep-konsep dasar, landasan-landasan, kebijaksanaan dan strategi utama dalam pengembangan kurikulum. Selanjutnya tim membentuk kelompok kerjayang menyusun tujuan khusus pendidikan, garis besar bahan pengajaran, dan kegiatan belajar. Hasil kerja kelompok selanjutnya dikaji ulangoleh panitia pengarah yang telah dibentuk sebelumnya dan para ahli lain di bidangnya. Langkah selanjutnya adalah mengkaji ulang dengan cara melakukan uji coba untuk mengetahui keefektifan dan kelayakannya. Dengan cara-cara dan urutan semacam ini terlihat bahwa dari sisi kebijakan model ini lebih bersifat sentralistik. Dalam pelaksanaannya, kurikulum ini memerlukan kegiatan pantauan dan bimbingan di lapangan. Setelah berjalan dalam kurun waktu yang ditetapkan, perlu dilakukan evaluasi untuk menentukan validitas komponen-komponen yang ada dalam kurikulum. Hasil penilaian tersebut merupakan umpan balik bagi semua unsur terkait, khususnya instansi pendidikan di tingkat pusat, daerah, dan sekolah.[2]
B.     The grass roots model
Model pengembangan ini adalah kebalikan dari model pengambangan administratif, inisiatif atau ide pengembangan kurikulum bukan datang dari atas tetapi dari bawah, yaitu guru-guru. Model pengembangan administrasi digunakan dalam sistem pengelolaan pendidikan/kurikulum yang bersifat sentralisasi, sedangkan model grass roots akan berkembang dalam sistem pendidikan yang bersifat desentralisasi. Dalam model pengembanga yang bersifat grass roots, seorang guru, sekelompok guru, atau keseluruhan guru di suatu sekolah mengadakan upaya pengembangan kurikulum. Pengambangan atau penyempurnaan ini dapat berkenaan dengan suatu komponen kurikulum, satu atau beberapa bidang studi ataupun seluruh bidang studi dan seluruh komponen kurikulum. Apabila kondisinya telah memungkinkan, baik diliohat dari kemampuan guru-guru, fasilitas, biaya maupun bahan-bahan kepustakaan, pengembangan kurikulum model grass roots, akan lebih baik. Hal itu didasarkan atas pertimbangan bahwa guru adalah perencana, pelaksana dan juga penyempurna dari pengajaran di kelasnya.
Pengembangan kurikulum yang bersifat grass root mungkin hanya berlaku untuk bidang studi tertentu atau sekolah tertentu, tetapi mungkin pula dapat digunakan untuk bidang studi sejenis pada sekolah lain, atau keseluruhan bidang studi pada sekolah atau daerah lain. Pengembangan kurikulum yang bersifat desentralisasi dengan model grass rootsnya, memungkinkan terjadinya kompetisi di dalam meningkatkan mutu dan sistem pendidikan, yang pada gilirannya akan melahirkan manusia-manusia yang lebih mandiri dan kreatif.
C.     Model pengembangan Beauchamp
Model pengembangan kurikulum ini dikembangankan oleh Beaucuchamp seorang ahli kurikulum. Beauchamp mengemukakan ada lima hal dalam proses pengembangan suatu kurikulum:
a.       Menetapkan wilayah atau area yang akan melakikan perubahan suatu kurikulum. Wilayah itu bisa terjadi pada hanya satu sekolah, satu kecamatan, kabupaten atau kota atau mungkin tingkat provinsi atau tingkat nasional. Penetapan area ini ditentukan oleh wenang yang dimiliki oleh pengambi kebijakan dalam pengambangan kurikulum.
b.      Menetapkan personalia, yaitu pihak-pihak yang akan terlibat dalam proses pengembangan kurikulum. Pihak-[pihak yang harus dilibatkan dalam proses pengembangan kurikulum itu terdiri dari para ahli kurikulum, para ahli pendidikan termasukj didalamnya para guru yang dianggap pengalaman, para profesional dan tenaga lain dalam bidang pendidikan lain.
c.       Menetapkan organisasi dan prosedur yang akan ditempuh, yaitu dalam hal merumuskan tujuan umum (standar kompetensi) dan tujuan khusus (Kompetesi dasar), memilih isi dan pengalaman belajar serta menentukan evaluasi. Keseluruhan prosedur tersebut dibagi ke dalam lima langkah yaitu:
1)      Membentuk tim pengembang kurikulum
2)      Melakukan ppenilaian terhadap kurikulum yang sedang berjalan.
3)      Melakukan studi atau penjajakan tentang penentuan kurikulum baru.
4)      Merumuskan kriteria dan alternatif pengembangan kurikulum
5)      Menyusun dan menulis kurikulum yang di kehendaki.
d.      Implementasi kurikulum. Pada tahap ini perlu dipersiapkan secara matang berbagai hal yang dapat berpengatuh baik langsung maupun tuak langsung terhadap efektivitas penggunaan kurikulum.
e.       Melaksanakan evaluasi kurikukul yang menyakgkut :
1)      Evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum
2)      Evaluasi terhadap desain kurikulum
3)      Evaluasi keberhasilan siswa
4)      Evaluasi dari keseluruhan sistem kurikulum.
D.    Model Demonstrasi
Model pengembangan kurikulum demonstrasi pada dasarnya bersifat grass roots yang datang dari bawah. Model ini diprakarsai oleh sekelompok guru atau sekelompok guru bekerja sama dengan ahli yang bermaksud mengadakan perbaikan kurikulum. Model ini umumnya berskala kecil, hanya mencakup suatu atau beberapa sekolah, suatu komponen kurikulum atau mencakup keseluruhan komponen kurikulum.[3] Menurut Smith, Stanly dan Shores ada dua bentuk model pengembangan ini pertama, sekelompok guru atau dari beberapa sekolah yang diorganisasi dan ditunjuk untuk melaksanakan suatu uji coba atau eksperimen suatu kurikulum, unit ini melakukan suatu proyek melalui kegiatan penelitian dan pengembangan untuk menghasilkan suatu model kurikulum. Kedua, dari beberapa orang guru yang merasa kurang puas tentang kurikulum yang sudah ada, kemudian mereka mengadakan eksperimen, uji coba, dan mengadakan pengembangan secara mandiri.
Ada beberapa kebaikan dalam penerapan model pengembangan ini, diantaranya adalah;
1)      Kurikulum ini akan lebih nyata dan praktis karena dihasilkan melalui proses yang telah diuji dan di teliti secara ilmiah.
2)      Perubahan kurikulum dalam skala kecil atau pada aspek yang lebih khusus kemungkinan kecil akan ditolak oleh pihak administrator, akan berbeda dengan perubahan kurikulum yang sangat luas dan kompleks.
3)      Hakikat model demonstrasi berskala kecil akan terhindar dari kesenjangan dokumen dan pelaksanaan di lapangan.
4)      Model ini akan menggerakkan inisiatif, kreativitas guru-guru serta memberdayakan sumber-sumber administrasi untuk memenuhi kebutuhan dan minat guru dalam mengembangkan program yang baru.
E.     Taba’s Inverted Model
Menurut cara yang bersifat tradisional pengembangan kurikulum dilakukan secara edukatif, dengan urutan:
1)      Penentuan prinsip-prinsip dan kebijakan dasar
2)      Merumuskan desain kurikulum yang bersifat menyeluruh di dasarkan atas komitmen-komitmen tertentu
3)      Menyusun unit-unit kurikulum sejalan dengan desain yang menyeluruh
4)      Melaksanakan kurikulum di dalam kelas.
Taba berpendapat model deduktif ini kurang cocok, sebab tidak merangsang timbulnya inovasi-inovasi. Menurutnya pengembangan kurikulum yang lebih mendorong inovasi dan kreativitas guru-guru adalah yang bersifat induktif. Ada lima langkah pengembangan kurikulum model Taba ini, yaitu;
1)        Mengadakan unit-unit eksperimen bersama guru-guru.
2)        Menguji unit eksperimen.
3)        Mengadakan revisi dan konsolidasi.
4)        Pengembangan keseluruhan kerangka kurikulum.
5)        Implementasi dan diseminasi.[4]

F.      Roger’s Interpersonal Relations Model
Menurut Rogers pendidikan merupakan upaya untuk membantu, memperlancar, dan mempercepat perubahan peserta didik, guru serta pendidik lainya bukan pemberi informasi apa lagi penentu perkembangan anak, merek hanyalah pendorong dan peselancar perkembangan anak. Ada empat langkah pengembangan kurikulum Roger’s:
a.       Pemilihan target dari sistem pendidikan
b.      Partisipasi guru dalam pengalaman kelompok yang intensif
c.       Pengembangan pengalaman kelompok yang intensif untuk satu kelas atau unit pelajaran.
d.      Partisipasi orang tua dalam kegiatan kelompok.
Model pengembangan kurikulum ini berbeda dari model-model lainnya sepertinya tidak ada perencnaan kurikulum tertulis, yang ada hanyalah rangkaian kegiatan kelompok. Bagi Roger’s yang penting adalah aktivitas dan interaksi.
G.    The Systematic Action-research model
Model kurikulum ini didasarkan pada asumsi bahwa perkembangan kurikulum merupakan perubahan sosial. hal itu mencakup suatu proses yang melibatkan kepribadian orang tua, siswa guru, struktur sistem sekolah, pola hubungan pribadi dan kelompok dari sekolah dan masyarakat. Sesuai dengan asumsi tersebut model ini menekankan pada tiga hal itu: hubungan insani, sekolah dan organisasi masyarakat, serta wibawa dari pengetahuan profesional. Penyususnan kurikulum harus memasukan pandangan dan harapan-harapan masyarakat, dan salah satu cara untuk mencapai hal itu adalahdengan prosedur Action Research.
Langkah pertama, mengadakan kajian secara seksama tentang masalah-masalah kurikulum, berupa pengumpulan data yang bersifat menyeluruh dan mengidentifikasi faktor-faktor, kekuatan dan kondisi yang mempengaruhi masalah tersebut. Kedua, implementasi dari keputusan yang diambil dari tindakan pertama. Tindakan ini segera diikuti oleh kegiatan pengumpulan data dan fakta-fakta. Kegiatan pengumpulan data ini mempunyai beberapa fungsi:
1.      Menyiapkan data bagi evaluasi tindakan
2.      Sebagai bahan pemahaman tentang masalah yang dihadapi
3.      Sebagai bahan untuk menilai kembali dan mengadakan modifikasi
4.      Sebagai bahan untuk mementukan tindakan lebih lanjut.
H.    Emerging Technikal Models
Pengembangan bidang teknologi dan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai efisiensi efektivitas dalam bisnis, juga mempengaruhi perkembangan model-model kurikulum. Tumbuh kecenderungan-kecenderungan baru yang didasarkan atas hal itu diantaranya:
1.      The Behavioral analysis model, menekankan penguasaan perilaku atau kemampuan. Suatu perilaku/l\kemampuan yang kompleks diuraikan menjadi perilaku-perilaku yang sederhana yang tersusun secara hierarkis. Siswa mempelajari perilaku-perilaku tersebut secara berangsur-angsur mulai dari yang sederhana menuju yang lebih kompleks.
2.      The System analysis model, berasal dari efisiensi bisnis. Langkah pertama dari model ini adalah menentukan spesifikasi perangkat hasil belajar yang harus dikuasai oleh siswa. Langkah kedua adalah menyusun instrumen untuk menilai ketercapaian hasil-hasil belajar tersebut. Langkah ketiga, mengidentifikasi tahap-tahap ketercapaian hasil serta perkiraan biaya yang diperlukan. Langkah keempat, membandingkan biaya dan keuntungan dari beberapa program pendidikan..
3.      The Computer-based model, suatu model pengembangan kurikulum dengan memanfaatkan komputer. Pengembangannya dimulai dengan memngidentifikasi seluruh unit-unit kurikulum, Tiap unit kurikulum telah memiliki rumusan tentang hasil-hasil yang diharapkan. Kepada para siswa dan guru-guru diminta untuk melengkapi pertanyaan tentang unit-unit kurikulum tersebut. Setelah diadakan pngolahan disesuaikan dengan kemampuan dan asih-hasil belajar yang dicapai siswa disimpan dalam komputer.[5]


[1] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, Teori dan Praktek, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2012), Hlm. 161
[2] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, Teori dan Praktek, Hlm. 162
[3] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, Teori dan Praktek, Hlm. 162
[4] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, Teori dan Praktek, Hlm. 166-167
[5] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, Teori dan Praktek, Hlm. 170

Guru dalam Pengembangan Kurikulum



                   I.            PENDAHULUAN
      Bahwa dalam kurikulum dapat dibedakan antara official atau witten curriculum dengan actual curriculum. Official atau written curriculum merupakan kurikulum resmi yang tertulis, yang merupakan acuan bagi pelaksanaan pengajaran dalam kelas. Actual curriculum merupakan kurikulum nyata yang dilaksanakan oleh guru-guru. Kurikulum nyata merupakan implementasi dari official curriculum di dalam kelas. Beberapa ahli menyatakan bahwa betapapun bagusnya suatu kurikulum (official), hasilnya sangat bergantung pada apa yang dilakukan oleh guru di dalam kelas (actual). Dengan demikian, guru memegang peranan penting baik dalam penyusunan maupun pelaksanaan kurikulum.
                II.            RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana konsep Guru sebagai pembimbing belajar?
2.      Bagaimana peranan Guru dalam pengembangan kurikulum?
3.      Bagaimana peranan Guru dalam pembelajaran?
             III.            PEMBAHASAN
A.    Guru Sebagai Pembimbing Belajar
Dalam konsep pendidikan klasik, guru berperan sebagai penerus dan penyampai ilmu, sedangkan dalam konsep teknologi pendidikan, guru adalah pelatih kemampuan. Dalam konsep interaksional guru berperan sebagai mitra belajar, sedangkan dalam konsep pendidikan pribadi, guru lebih berperan sebagai pengarah, pendorong, dan pembimbing.[1]
Dalam praktik pendidikan di sekolah, jarang sekali digunakan satu konsep pendidikan secara utuh. Pada umumnya pelaksanaan pendidikan bersifat eklektik, mungkin mencampurkan dua, tiga bahkan mungkin keempat-empatnya. Model-model konsep pendidikan tersebut dalam praktik tidak lagi di pandang sebagai model pendidikan yang masing-masing eksklusif, tetapi dapat dipadukan atau minimal dihubungkan satu dengan yang lainnya. Yang tampak adalah variasi peranan guru dalam pelaksanaan pendidikan dan pengajaran. Dalam keseluruhan proses belajar-mengajar atau pada suatu waktu tertentu mungkin salah satu peranan lebih menonjol dari yang lainnya. Keempat ragam peranan tersebut sesungguhnya dapat ditempatkan dalam satu kontinum.[2]
Para pelaksana pendidikan termasuk guru sering tidak melihat keempat peranan tersebut terletak dalam satu kontinum. Mereka melihatnya sebagai dua ekstrem. Pada satu ujung guru berperan sebagai penyampai ilmu dan pelatih dalam arti drilling, dan pada ujung lain peran guru sebagai pengarah, pembimbing, pendorong, fasilitator, dan sebagainya. Praktik pendidikan yang memberikan peranan kepada guru hanya sebagai penyampai ilmu atau pelatih dianggap model lama, sedangkan yang memberikan peranan sebagai pengarah, pendorong, pembimbing sebagai dipandang model baru.[3]
Sebenarnya semua konsep pendidikan itu baik atau memiliki kebaikan-kebaikan tertentu, di samping kendala-kendala tertentu pula. Dalam praktik yang lebih penting adalah mempertimbngkan, konsep pendidikan mana yang paling tepat untuk mencapai tujuan tertentu bagi kelompok peserta didik tertentu, pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu, dalam waktu dan kondisi tertentu pula. Sejalan dengan konsep pendidikan tersebut peran-peran apa yang tepat dilakukan oleh guru. pada saat dan situasi tertentu peran menyampaikan materi pengetahuan memang tepat dan sangat diperlukan, tetapi pada saat lain latihan pengembangan kemampuan dengan menggunakan media pembelajaran mutakhir tepat, karena memang hal itu sangat diperlukan dan sarananya ada. Pada saat dan situasi lain pengarahan dan dorongan terhadap siswa dalam merencanakan, dan melaksanakan suatu kegiatan atau memecahkan suatu masalah adalah tepat, karena kondisinya mendukung. Jadi, sesungguhnya realisasi dari peranan guru tersebut sangat situasional, tidak ada yang berlaku umum.[4]
Ada satu hal yang menjadi acuan bagi guru, dalam memilih kegiatan yang akan dilakukan serta peranan yang akan dimainkannya, yaitu siswa. Tujuan utama kegiatan guru dalam mengajar ialah mempengaruhi perubahan pola tingkah laku para siswanya. Perubahan ini terjadi karena guru memberikan perlakuan-perlakuan. Tepat tidaknya, efektif tidaknya perlakaun yang diberikan guru akan menentukan usaha belajar yang dilakukan oleh siswa. Upaya guru memberikan perlakuan tersebut erat kaitannya dengan tingkat harapan dan perubahan yang diinginkannya. Tujuan lainnya adalah mendorong dan meningkatkan kemampuan sebagai hasil belajar, dengan cara itu, guru dapat mempengaruhi perubahan tingkah laku siswa.[5]
Untuk mencapai kedua tujuan di atas, diperlukan hubungan timbal balik antara guru dan siswa. Guru perlu menyenangi siswanya, bersikap menerima, mengerti, dan membantu. Sebaliknya siswa juga harus menerima, menyenangi, dan menghormati gurunya. Kesukaan dan sikap postif siswa kepada guru, akan meningkatkan hasil belajar mereka. Antara siswa dan guru perlu terjalin kerja sama yang baik dalam belajar. Disamping itu, guru harus memberikan kesempatan, dan menciptakan suasaa kelas yang bebas, untuk mendorong siswa memecahkan sendiri maslah-maslah yang mereka hadapi. Guru tak mungkin menjawab semua pertanyaan siswa. Kesempatan belajar yang diciptakan guru adalah agar merangsang siswa belajar, berpikir, melakukan penalaran, jadi memungkinkan siswa untuk belajar sendiri. Jadi, antara guru dan siswa harus tercipta hubungan sebagai mitra belajar. Minat dan pemahaman, timbal balik antara guru dan siswa akan memperkaya kurikulum dan kegiatan belajar-mengajar pada kelas bersangkutan.[6]
Semua kegiatan dan fasilitas yang dipilih serta peranan yang dilakukan guru harus tertuju pada kepentingan siswa, diarahkan pada memenuhi kebutuhan siswa, disesuaikan dengan kondisi siswa, dan siswa menguasai apa yang diberikan atau memperoleh perkembangan secara optimal.
Dalam mengoptimalkan perkembangan siswa, ada tiga langkah yang harus ditempuh. Pertama, mendiagnosis kemampuan dan perkembangan siswa. Guru harus mengenal dan memahami siswa dengan baik, memahami tahap perkembangan yang telah dicapainya, kemampuan-kemampuannya, keunggulan dan kekurangannya, hambatan yang dihadapi serta faktor-faktor dominan yang mempengaruhinya. Setiap peserta didik sebagai individu mempunyai kemampuan, kecepatan belajar, karakteristik, dan problem-problem sendiri, yang berbeda dengan individu lainnya. Perkembangan yang optimal hanya mungkin dapat dicapai apabila kegiatan dilakukan oleh siswa dan bantuan yang diberikan oleh guru, disesuaikan dengan kondisi tersebut.[7]
Kedua, memilih cara pembelajaran yang sesuai dengan kondisi siswa. Pembelajaran yang betul-betul disesuaikan dengan perbedaan individual, harus pendekatan pembelajaran yang bersifat indivdual. Salah satu prinsip pengajaran yang efektif, adalah menggunakan pendekatan atau metode dan media yang bervariasi, “pendekatan multi metode-multi media”. Dengan menggunakan metode dan media yang bervariasi, perbedaan-perbedaan individual dapat terlayani, di samping pembelajaran menjadi lebih menarik, karena sering terjadi pergantian kegiatan. Dalam pembelajaran guru dapat mengadakan variasi, antara metode yang lebih mengaktifkan guru dengan yang mengaktifkan siswa, antara belajar secara klasikal dengan belajar kelompok dan penugasan yang bersifat individual. Variasi antara menekankan pengetahuan dengan keterampilan dan nilai-nilai, antara yang hanya menggunakan kapur-papan tulis dengan menggunakan media, antara media sederhana dengan media yang lebih kompleks. Juga variasi antara kegiatan yang bersifat menerima, mengolah, menyajikan, dan penilaian.[8]
Ketiga, kegiatan pembimbingan. Pemilihan dan penggunaan metode dan media yang bervariasi tidak dengan sendirinya, akan mengoptimalkan perkembangan siswa. Pelaksanaan metode pembelajaran tersebut perlu disertai dengan usha-usaha pemberian dorongan, bantuan, pengawasan, pengarahan, dan bimbingan dari guru. pembimbingan ini diberikan pada saat kegiatan pembelajaran, atau di luar kegiatan pembelajaran. Pembimbingan juga dapat berupa usaha-usaha pemberian remedial teaching dan pengayaan.[9]
B.     Peran Guru Dalam Pengembangan Kurikulum
1.      Pengembangan kurikulum sentralistik (administrative model).
Kurikulum yang dikembangkan sentralistik, guru tidak terlibat secara langsung dalam perancangan dan evaluasi kurikulum yang bersifat makro. Kurikulum makro dilakukan oleh tim khusus yang terdiri dari para ahli, pejabat terkait, teoritisi, praktisi, policy maker, dan lain-lain. Guru terlibat dalam penyusunan kurikulum mikro yang dijabarkan dari kurikulum makro untuk jangka waktu tertentu, satu tahun, satu semestre, beberapa minggu, atau beberapa hari. Keterlibatan guru dalam kurikulum makro bersifat perwakilan, tidak semua guru terlibat dalam proses tersebut.[10]
Pada tahapan implementasi, justru gurulah yang memiliki posisi kunci. Guru memiliki peran yang sangat penting untuk kesuksesan pelaksanaan kurikulum. Kreativitas, kemampuan, kesungguhan, dan ketekunan guru akan sangat menentukan keberhasilan pelaksanaan kurikulum. Bila dikaitkan dengan komponen kurikulum, guru diharapkan mampu menjelaskan kepada siswa-siswanya tentang apa yang akan dicapai dalam pembelajaran (tujuan), guru harus bisa membantu mengarahkan siswa memilih pengalaman belajar (learning experience) yang diperlukan oleh siswanya, guru harus bisa memilih strategi pembelajaran yang mampu mengkondisikan siswa untuk belajar secara bersemangat, guru juga harus bisa membantu siswa untuk mengevaluasi pengalaman belajarnya.[11]
2.      Pengembangan kurikulum desentralistik (grassroot model)
Berbeda dengan kurikulum sentralistik, kurikulum ini dikembangkan dengan inisiasi dari bawah. Guru, sekolah atau daerah menjadi motor dalam proses pengembangan kurikulum. Karena dikembangkan oleh guru atau kelompok guru, suatu sekolah atau sekelompok sekolah, daerah atau sekelompok daerah, maka mereka mengembangkan sesuai dengan kebutuhan, karakteristik, perkembangan masing-masing. Karena karakteristik yang demikian, maka kurikulum akan beragam sesuai dengan keperluan masing-masing, kurikulum akan lebih realistik karena dikembangkan berdasarkan kondisi riil masing-masing site.[12]
Kurikulum yang dikembangkan dengan pola ini memiliki kelebihan dan juga kelemahan. Kelebihannya, yaitu:
a)      kurikulum sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat setempat.
b)      Kurikulum sesuai dengan tingkat dan kemampuan sekolah, baik kemampuan profesional, finansial, maupun manajerial
c)      Memudahkan dalam implementasinya karena yang menyusun gurunya sendiri
d)     Memberikan motivasi kepada masing-masing pengembang untuk mengembangkan kurikulum sebaik-baiknya.[13]
Namun juga ada kelemahannya, yaitu:
1)      Karena tidak adanya keseragaman, apabila ada situasi tertentu yang menuntut keseragaman, sulit untuk mewujudkannya
2)      Tidak ada standar dalam penilaian yang sama, sehingga tidak bisa membandingkan antar lembaga atau daerah
3)      Apabila terjadi perpindahan sekolah, ada kesulitan tersendiri karena masing-masing memiliki perbedaan kurikulum
4)      Tidak bisa melakukan penilaian secara nasional[14]
3.      Pengembangan kurikulum sentral-desentralistik
Dalam pengembangan kurikulum model ini, peran pusat dan daerah memiliki porsi yang seimbang. Pusat merumuskan hal-hal yang bersifat umum yang berlaku untuk semua daerah, sedangkan detailnya diserahkan pada daerah sesuai memiliki karakteristik masing masing; guru memiliki peran yang lebih banyak dibandingkan model sentralisitik. Guru menjabarkan secara lebih detail dan operasional dari kurikulum makro yang telah dikembangkan oleh pusat. Hal ini karena pusat hanya merumuskan garis-garis besar, garis-garis pokok yang berlaku utnuk semua daerah, sedangkan operasionalisasinya diserahkan kepada masing-masing daerah sesuai dengan karakteristik masing-masing.[15]
C.     Guru Dalam Pembelajaran
Dalam pengembangan kurikulum, ada tiga hal yang selalu berkaitan, yakni perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pola pengelolaan kurikulum yang berbeda akan berimplikasi pada perbedaan peran masing pihak pada tiap tahap tersebut, terutama pada tahap perencanaan dan evaluasi. Akan tetapi pada tahap pelaksanaan (implementasi), peran guru sangat krusial pada model pengelolaan apapun. Di antara bentuk implementasi kurikulum adalah guru menyelenggarakan pembelajaran. Bahkan, pembelajaran seringkali dijadikan tolak ukur berhasil tidaknya pelaksanaan kurikulum.[16]
Berkaitan dengan ini, guru dituntut memiliki sejumlah kemampuan atau kompetensi supaya peran yang diembannya bisa berhasil secara maksimal. Seorang guru untuk siap melaksanakan pembelajaran di kelas dan di luar kelas, adalah sosok guru yang memiliki kompetensi yang handal.
Kompetensi yang biasa diartikan dengan seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak, bagi seorang guru dalam perspektif UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, UU Nomor 14 Tahuan 2005 tentang Guru dan Dosen, juga dalam PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, meliputi empat hal, yakni: kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi profesional.[17]
Dalam implementasi kurikulum ini, ada beberapa peran guru yang biasa dijadikan indikasi keberhasilan dalam menjalankan tugasnya, yakni: guru sebagai mitra belajar, guru sebagai penyampai pengetahuan, guru sebagai pelatih keterampilan, guru sebagai pembimbing.
Untuk mempersiapkan guru yang kompeten, maka hal-hal yang perlu diperhatikan adalah: pertama, penguatan LPTK (Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan) sebagai lembaga pendidikan guru yang mempunyai fungsi pokok mempersiapkan calon guru yang kelak mampu melaksanakan tugasnya (pre-service training). Dalam hal ini, LPTK harus selalu: a) melakukan penguatan dan pengembangan kelembagaan melalui standarisasi pendidikan guru. b) melakukan pengembangan kompetensi calon guru secara kontiyu melalui program akademik dan profesi.
Dalam konteks ini, ada beberapa prinsip yang perlu dijadikan pegangan oleh LPTK:[18]
a)      Syarat untuk masuk ke lembaga pendidikan guru harus standar, tetapi prosedurnya cukup fleksibel sehingga dapat menjarinng calon-calon yang potensial dan cocok. Penerimaan didasarkan atas pertimbangan potensi, kecakapan, serta karakteristik pribadi.
b)      Program pendidikan guru hendaknya memiliki tiga komponen yang terintegrasi, yaitu pendidikan umum, minimal satu bidang spesialisasi, dan keahlian dalaam bidang kurikulum dan pengajaran.
c)      Perkembangan calon guru dinilai selam program berlangsung dengan teknik penilaian yang bervariasi. Dari hasil penilaian tersebut, hanya mereka yang memperlihatkan hasil baik yang diluluskan, yang lain perlu pembinaan lagi.
d)     Program pendidikan guru perlu diakreditasi dengan standar yang memungkinkan calon guru bisa bekerja dengan baik.
e)      Perlu ada lembaga yang memberikan legilitas terhadap kelayakan pendidikan guru, standar yaang digunakan serta memberikan sertifikasi kepada para calon guru.
Kedua, penguatan lembaga-lembaga yang terkait dengan pelatihan dan pengembangan guru sebagai lembaga yang melaksanakan in-service training, seperti BPG, Balai Diklat, dan lain-lain. Hal ini penting karena perkembangan selalu terjadi, dan guru harus selalu di update supaya kompetensi yang dimiliki selalu sesuai dengan perkembangan yang ada.
Ketiga, menguatkan regulasi-regulasi dan kebijakan-kebijakan yang terkait dengan guru. dalam hal ini, pemerintah sebagai pihak policy maker diharapkan bisa mengeluarkan tata aturan dan kebijakan yang mendukung pengembangan kompetensi guru tersebut, baik yang menyangkut infra struktur maupun supra struktur.[19]
Keempat, mengoptimalkan lembaga-lembaga organisasi profesi, seperti PGRI, KKG, MGMP, dan lain-lain sebagai wahana pengembangan profesi, terutama, dalam hal diseminasi informasi-informasi, pengetahuan-pengetahuan, keterampilan, strategi baru yaang belum bisa diakses oleh setiap guru.[20]
Supaya pembelajaran berhasil mengembangkan potensi peserta secara maksimal, maka pembelajaran harus:
1)      Melibatkan Siswa Secara Aktif (active learnig)
Aktivitas peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar sangat diperlukan, sehingga peserta didiklah yang seharusnya banyak aktif dibandingkan guru. Dalam hal ini, John Dewey, dengan learning by doing mengemukakan pentingnya prinsip ini melalui metode proyeknya. Demikian juga tokoh pendidikan lainnya seperti Rousseau, Pestalozi, Frobel, dan Montessary. Dalam kontek Indonesia, inovaasi-inovasi pembelajaran seperti Contextual Teaching and Learning (CTL), PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan), dan lain-lain perlu dipertimbangkan.[21]
2)      Menarik Minat dan Perhatian Siswa
Minat merupakan suatu sifat yang relatif menetap pada diri seseorang. Minat ini besar sekali pengaruhnya terhadap belajar, sebab dengan minat seseorang akaan melakukan sesuatu yang diminatinya. Sedangkan perhatian lebih sementara dan ada hubungannya dengan minat.
3)      Membangkitkaan Motivasi Siswa
Motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujun, atau keadaan dan kesiapan diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapaai tujuan tersebut. Tugas guru adalah membangkitkan motivasi peserta didik, sehingga ia mau melakukan belajar. Motivasi dapat timbul dari dalam individu atau akibat pengaruh dari luar dirinya. Dan guru harus memahami proses motivasi dengan baik.
Ada beberapa teknik motivasi yang dapat guru lakukan, yaitu:[22]
a)      Berpikiran positif. Ketika mengkritik orang begitu terjadi ketidak besaran, tetapi kita lupa memberi dorongan positif agar mereka terus maju. Jangan mengkritik kerja orang lain kalau kita sendiri tidak mampu memberi contoh terlebih dahulu.
b)      Menciptakan perubahan yang kuat. Adanya kemauan yang kuat untuk mengubah situasi oleh diri sendiri. Mengubah perasaan tidak mampu menjadi mampu, tidak mau menjadi mau.
c)      Membangun harga diri. Banyak kelebihan kita sendiri dan orang lain yang tidak kita hargai padahal penghargaan merupakan salah satu bentuk teknik memotivasi. Kata “saya mengharapkan bantuan anda” atau “saya mengharapkan kehadiran anda” merupakan bentuk penghargaan yang paling murah. Berilah mereka kesempatan untuk bertaggung jawab, berilah wewenang, serta kebebasan berpendapat.
d)     Memantapkan pelaksanaan. Ungkapan dengan jelas, bagaimana cara kerja yang benar, tindakan yang dapat membantu, dan hargai dengan tulus.
e)      Membangkitkan orang lemah menjadi kuat. Buktikan bahwa mereka sudah berhasil, dan nyatakan bahwa anda akan membantu yang mereka butuhkan. Binalah keberanian, kerja keras, bersedia belajar dengan oraang lain.
f)       Membasmi sikap menunda-nunda. Hilangkan sikap menunda-nunda dengan alasan bahwa pekerjaan tersebut terlalu sulit dan segeralah untuk memulai.
4)      Prinsip individualitas (individualized learning)
Walaupun pembelajaran dilakukan secara klasikal, guru juga harus memberikan perlakuan lain yang memungkinkan siswa beraktifitas secara invidual, baik yang dilakukan di dalam kelas maupun di luar kelas. Variasi penggunaan metode, sumber belajar, media, gaya mengajar merupakan kegiatan yang harus dilakukan oleh guru secara profesional.[23]
5)      Peragaan dalam pengajaran
Belajar yang efektif harus dimulai dengan pengalaman belajar langsung atau pengalaman kongkret dan menuju kepada pengalaman yang lebih abstrak. Belajar akan lebih efektif jika dibantu dengaan alat peraga pengajaran daripada belajar tanpa dibantu alat tersebut.
Penggunaan alat pengajaran hendaknya memperhatikan beberapa hal sebagai berikut; nilai atau manfaat media pendidikan, pemilihan alat peraga, dan petunjuk penggunaan alat peraga. Sehingga kegiatan belajar mengajar akan lebih efektif jika dibandingkan hanya dengan penjelasan lisan.[24]
             IV.            KESIMPULAN
Pada tahapan implementasi, justru gurulah yang memiliki posisi kunci. Guru memiliki peran yang sangat penting untuk kesuksesan pelaksanaan kurikulum. Kreativitas, kemampuan, kesungguhan, dan ketekunan guru akan sangat menentukan keberhasilan pelaksanaan kurikulum. Bila dikaitkan dengan komponen kurikulum, guru diharapkan mampu menjelaskan kepada siswa-siswanya tentang apa yang akan dicapai dalam pembelajaran (tujuan), guru harus bisa membantu mengarahkan siswa memilih pengalaman belajar (learning experience) yang diperlukan oleh siswanya, guru harus bisa memilih strategi pembelajaran yang mampu mengkondisikan siswa untuk belajar secara bersemangat, guru juga harus bisa membantu siswa untuk mengevaluasi pengalaman belajarnya


[1] Nana Syaodih Sukmadinata. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001), hlm 194
[2] Nana Syaodih Sukmadinata. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,............hlm 194-195
[3] Nana Syaodih Sukmadinata. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,............hlm 195
[4] Nana Syaodih Sukmadinata. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,........... hlm 195
[5] Nana Syaodih Sukmadinata. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,.............hlm 195-196
[6] Nana Syaodih Sukmadinata. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,.............hlm 196
[7] Nana Syaodih Sukmadinata. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,.............hlm 196
[8] Nana Syaodih Sukmadinata. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,.............hlm 196
[9] Nana Syaodih Sukmadinata. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,.............hlm 196-197
[10] Abdul Rohman. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek, (Semarang: Karya Abadi Jaya, 2015), hlm 201
[11] Abdul Rohman. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,............hlm 201
[12] Abdul Rohman. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,............hlm 201
[13] Nana Syaodih Sukmadinata. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,...........hlm 201
[14] Nana Syaodih Sukmadinata. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,...........hlm 201
[15] Abdul Rohman. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,............hlm 202-203
[16] Abdul Rohman. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,............hlm 203
[17] Abdul Rohman. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,............hlm 203
[18] Abdul Rohman. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,............hlm 204
[19] Abdul Rohman. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,............hlm 206
[20] Abdul Rohman. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,............hlm 206
[21] Abdul Rohman. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,............hlm 206
[22] Abdul Rohman. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,............hlm 207
[23] Abdul Rohman. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,............hlm 208
[24] Abdul Rohman. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek,............hlm 208